Oleh: H. Deni Mardiana, Lc (Dewan Pengawas Syari’at Indonesia Berbagi Foundation)

Pendahuluan

Setiap masuk bulan muharram, kita selalu diingatkan dengan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya dari mekkah ke madinah. Sebuah momentum agung nan mulia disisi Alloh SWT yang syarat hikmah dan pelajaran berharga bagi generasi sesudahnya. Perjalanan hijrah Rasulullah bukan hanya sekedar berpindah tempat dari mekkah ke madinah, namun jauh dari itu Alloh sedang menyiapkan tempat baru untuk mendukung kondisivitas perkembangan dakwah islam. Dan benar saja, setelah berhijrah ke madinah, masa depan dakwah islam semakin cerah dan menemukan keberhasilan demi keberhasilan. Sehingga hijrah sejatinya bukan hanya berpindah tempat dari satu lokasi ke lokasi lain, jauh dari itu hijrah yang sesungguhnya tergambar dalam sebuah hadis nabi yang sangat mulia:

والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه (رواه مسلم)

Artinya: “Dan orang yang berhijrah itu (sejatinya) meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Alloh.” (HR. Muslim)

Mereka yang menang dalam hijrahnya adalah mereka yang mampu mengendalikan diri dan memusatkan arah gerak hidupnya hanya dalam pusaran pengabdian kepada Alloh SWT.

Adalah khalifah Umar bin Khattab yang menginisiasi membuat penanggalan dalam islam dan menjadikan momentum hijrah sebagai awal mula penaggalan dalam islam. Tentu bukan tanpa alasan umar menjadikan hijrah sebagai momentum awal penggalan dalam islam. Beliau seolah ingin menitipkan pesan kepada kita bahwa berkembangnya islam tidak mudah dicapai, butuh banyak pengorbanan yang dikeluarkan agar islam sampai kepada kita hari ini. Juga menitipkan pesan agar hikmah dan pelajaran hijrah menjadi motivasi untuk terus memperjuangkan tegaknya agama Alloh di muka bumi ini.

Bulan muharram diantara bulan yang dimuliakan oleh Alloh SWT. Dalam sebuah ayat Alloh berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشًّهًوْرِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ .... (التوبة : 36)

Artinya: “Sesungguhnya hitungan jumlah bulan menurut Alloh ialah dua belas bulan (sebagaimana) dalam ketetapan Alloh  pada waktu Ia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada empat bulan yang haram…” (QS.At-taubah : 36). Maksud dari empat bulan haram yang Alloh sebutkan pada ayat di atas diantaranya bulan muharram.

Di bulan ini ada banyak sekali peristiwa yang terjadi dan beberapa peristiwa pahit yang menjadi sejarah kelam umat islam masa lalu dan sampai sekarang. Diantara peristiwa sejarah yang dibahas dan diperbincangkan dikalangan umat islam yaitu tentang peringatan ‘asyura yang secara institusional dipraktekkan atau diamalkan oleh orang-orang syiah. Mari kita urai sedikit tentang sejarah ini agar kita memiliki frame berfikir yang benar tentang sejarah yang sebenarnya terjadi pada waktu itu. Karena ternyata buku-buku sejarah dibuat sesuai dengan motivasinya dan tidak sedikit juga dibuat berbagai distorsi dan pengkaburan sejarah dari kebenarannya.

Sejarah Asyura

Mendengar kata Asyura, pikiran kita langsung tertuju kepada bulan muharram dan kejadian yang ada didalamnya. Asyura secara bahasa artinya hari ke sepuluh. Karena berada di bulan muharram, maka maksudnya tentu tanggal 10 Muharram. Bagi orang-orang yahudi di madinah, tanggl 10 muharram menjadi hari bersejarah. Mereka menyebutnya hari baik, karena di hari itu Alloh menyelamatkan bani israil dari musuh-musuh mereka. Sehingga untuk mengenang kejadian itu, mereka melakukan shaum di tanggal 10 muharram. Berbeda dengan yahudi madinah, para penganut (ajaran) Syi’ah menjadikan tanggal 10 muharram sebagai perayaan hari duka cita. Konon perayaan tersebut ditujukan sebagai bukti kecintaannya kepada Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhuma yang menjadi cucu Nabi Shallahu ‘alaihi Wassallam. Bagi kita umat islam, melaksanakan shaum di hari kesepuluh muharram tidak ada kaitan dengan tradisi orang-orang yahudi apalagi dengan kebiasaan ajaran syiah. Shaum di hari itu karena diperintahkan oleh nabi kita muhammad Saw berdasarkan riwayat imam bukhori yang mengatakan:

“Nabi muhammad Saw tiba di madinah, kemudian beliau melihat orang-orang yahudi berpuasa di hari asyura. Beliau bertanya: apa ini? Mereka menjawab: sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Alloh menyelamatkan bani israil dari musuh mereka. Maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Lalu beliau menjawab: aku lebih berhak tehadap Musa daripada kalian (yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk penghargaan kami terhadap hari itu” (HR. Bukhori)

Khusus yang berkaitan dengan kebiasaan ajaran syiah dalam memaknai ‘asyura, terdapat distorsi sejarah yang sangat kelam dan penuh kedustaan. Padahal kalau kita mau jujur mengkaji, sebenarnya kematian Husain justru atas penghiatan orang-orang Syi’ah yang berada di Kuffah pada waktu itu. Pernyataan tersebut tentu bukan tuduhan tanpa bukti dan argumen yang kuat. Tapi hal ini dilontarkan sendiri oleh Ali Zainal Abidin yang menjadi anak Husain sendiri, selain itu ia turut serta di dalam peristiwa pembunuhan Husain ayahnya. Ia berkata kepada orang-orang Kufah lelaki dan perempuan yang meratap dengan mengoyak-ngoyak baju mereka sambil menangis, dalam keadaan sakit beliau dengan suara yang lemah berkata kepada mereka, “Mereka ini menangisi kami. Bukankah tidak ada orang lain yang membunuh kami selain mereka?” (Al-Ihtijaj karya At Thabarsi, halaman 156).

Sikap seperti ini pun diamini oleh para ulama Syi’ah sendiri. Seperti petikan berikut, Mullah Baqir al-Majlisi, seorang ulama rujukan Syiah menulis: “Sekumpulan orang-orang Kufah terkejut oleh satu suara ghaib. Maka berkatalah mereka, “Demi Tuhan! Apa yang telah kita lakukan ini tak pernah dilakukan oleh orang lain. Kita telah membunuh “Penghulu Pemuda Ahli Surga” (Husain) karena Ibnu Ziyad anak haram itu. Di sini mereka mengadakan janji setia di antara sesama mereka untuk memberontak terhadap Ibnu Ziyad tetapi tidak berguna apa-apa. (Dalam Jilaau al-‘Uyun, halaman 430)

Sejarah tidak lupa dan tidak akan melupakan peranan Syits bin Rab’i di dalam pembunuhan Husain radhiyallahu anhu di Karbala. Siapa itu Syits bin Rab’i? Dia adalah seorang Syiah tulen, pernah menjadi duta Ali radhiyallahu anhu di dalam peperangan Shiffin, dan senantiasa bersama Husain radhiyallahu ‘anhu. Dialah juga yang menjemput Husain radhiyallahu anhu ke Kufah untuk mencetuskan pemberontakan terhadap pemerintahan pimpinan Yazid, tetapi apakah yang telah dilakukan olehnya?Sejarah memaparkan bahwa dialah yang mengepalai 4.000 orang bala tentara untuk menentang Husain radhiyallahu anhu, dan dialah orang yang mula-mula turun dari kudanya untuk memenggal kepala Husain radhiyallahu anhu. (Jilaau al-Uyun dan Khulashatu al-Mashaaib, hal. 37)

Dari paparan singkat diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa perayaan hari duka cita orang-orang syi’ah atas kematian Husain bin Ali Radhiallohuanhu hanyalah kedok kepalsuan untuk menutupi kesalahan fatal mereka membuhuh Husain bin Ali. Kalaulah mereka benar-benar mencintai Ahlul bait, tidak mungkin berani mencaci maki para sahabat nabi. Banyak sekali bukti bahwa Ahlul Bait itu memiliki hubungan yang baik dengan para sahabat Nabi, tidak seperti yang digambarkan oleh orang-orang Syi’ah yang memberikan gambaran kehinaan. Maka tidak heran jika akhirnya banyak mencela bahkan mengkafirkan para sahabat karena memang kacamata sejarah mereka sudah kotor terlebih dahulu.

Jadi, perayaan asyura yang diabadikan sebagai simbol duka cita atas kematian Husain bin Ali semuanya palsu dan dusta yang nyata. Dalam sebuah ungkapannya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan: “Karena pristiwa pembunuhan Husain radhiyallahu anhu itu, syetan membisikan kepada manusia agar membuat dua bid’ah, yaitu ybid’ah bersedih dan berkabung pada hari Asyura, dengan memukul wajah dan berteriak, menangis,menyiksa diri, dan sebagainya. Hal itu menyebabkan mereka menghina para salaf, melaknat mereka, dan memasukan orang yang tidak berdosa ke dalam golongan yang berdosa hingga mereka mencela orang-orang As-Sabiquna Al-Awwalun (pertama kali masuk Islam). Dalam upacara itu dibacakan sejarah peperangan yang kebanyakan dusta. Tujuan dari pengadaan upacara itu adalah untuk membuka pintu fitnah dan perpecahan diantara umat. Sungguh menurut kesepakatan kaum Muslimin, ini bukanlah perkara wajib atau sunah. Bahkan, meratapi dan bersedih terhadap musibah pada masa lalu merupakan tindakan yang sangat diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. (Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyah, II: 322-333)

Keutamaan Hari ‘Asyura

“Kita lebih berhak dari orang yahudi saat Nabi Musa melaksanakan shaum dihari kesepuluh muharram dan orang yahudi mengikutinya,” begitu ujar Nabi saat mengetahui orang yahudi madinah berpuasa di tanggal 10 muharram. Selain itu, karena memang ini adalah anjuran dari Nabi Muhammad Saw untuk menjalankan ibadah shaum dihari asyura tersebut. Bahkan dihadis yang lain,Rasul bersabda tahun depan kita akan shaum dari tanggal sembilan muharram sebagai pembeda dengan shaumnya orang yahudi.

Sudah barang tentu kita memahami pula, bahwa dibalik anjuran sahum tadi terdapat beberapa keutamaan-keutamaan. Ada beberapa hadis-hadis nabi yang menjelaskan keutamaan shaum asyura ini:

1. Shaum di bulan Muharram adalah sebaik-baiknya shaum

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

Hadits di atas menunjukkan keutamaan puasa di bulan Muharram secara umum, termasuk di dalamnya adalah puasa Asyura.

2. Shaum Asyura menghapus dosa setahun yang lalu

Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

3. Nabi sudah berniat akan berpuasa pada hari kesembilan (tasu’ah) ditahun depan

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Apabila tiba tahun depan–insya Allah (jika Allah menghendaki)– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi Rahimahullah berkata: para ulama berkata bahwa maksudnya adalah untuk menyelisihi orang Yahudi yang cuma berpuasa tanggal 10 Muharram saja. Itulah yang ditunjukkan dalam hadits di atas. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 14)

Dari semua paparan hadis mengenai keutamaan shaum asyura, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa pelaksanaan shaum ini dimulai dari tanggal 9 muharram, berdasarkan hadis nabi diatas. Jika memang kita tidak sanggup untuk melaksanakannya dua hari, satu hari pun insya Alloh sudah dinilai pahala oleh Alloh SWT. Namun tentu, yang lebih utama shaum ini ditunaikan selama dua hari yaitu tanggal 9-10 muharram.

Penutup

Islam agama yang mulia dan agung. Kesuciannya akan terjaga sepanjang masa. Ajaran agama ini tidak bisa dipermainkan apalagi berupaya di rusak dan dinistakan. Kebenaran ajarannya harus terinternalisasi pada setiap pemikiran, rasa dan gerak para penganutnya. Maka setiap pemeluk agamanya harus tampil percaya diri menjalankan syariatnya dan memegang teguh seluruh ajaran-ajarannya. Termasuk didalamnya menjalankan ibadah shaum di hari asyura nanti. Semoga Alloh ringakan langkah kita untuk terus istiqamah menjalankan ketentuannya. Wallohu ‘alam.

Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.