Oleh : H. Deni Mardiana, Lc. (Dewan Pengawas Syari’at Indonesia Berbagi)

Tak terasa hari ini kita suda memasuki bulan Dzulqa’dah 1440 H, ini artinya sebentar lagi kita akan memasuki bulan haji dan pelaksanaan ibadah qurban. Tentu kita semua merasa bahagia saat memasuki bulan-bulan ini, terlebih jika seandainya kita termasuk hamba Alloh yang diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah haji ke baitullah. Selain itu, sebenarnya masih banyak peluang kebaikan dan amal shaleh yang bisa kita lakukan selain menunaikan ibadah haji, diantaranya yaitu melaksanakan penyembelihan hewan qurban sesuai petunjuk Alloh dan Rasul-Nya dalam rangka bertaqarrub kepada Alloh dan mengikuti sunnah Rasulullah Saw.

Sebagaimana yang telah kita pahami bersama, setiap syariat Alloh yang ditetapkan kepada hamba-Nya selalu saja menghadirkan kebaikan demi kebaikan, meskipun terkadang dipandang berat untuk menjalaninya. Begitulah yang terjadi kepada perintah berqurban, tidak sedikit yang masih merasa berat untuk menunaikannya padahal dia memiliki kemampuan finansial untuk menjalankan syariat tersebut. Padahal, jika kita melihat kembali panduan Rasulullah dalam masalah berqurban, beliau menyebutkan bahwa qurban hukumnya wajib bagi yang mampu. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw: Dari Abi Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda : Siapa yang memperoleh kelapangan untuk berkurban, dan dia tidak mau berkurban, maka janganlah hadir di lapangan kami (untuk shalat Ied).” (HR. Ahmad, Daru qutni, Baihaqi dan Al Hakim)

Jika kita teliti lebih lanjut, banyak sekali kewajiban dan tuntutan ibadah yang memiliki dampak besar terhadap suasana kehidupan sosial di masyarakat. Kemashlahatan ibadah tersebut tidak hanya dirasakan kebaikan dan manfaatnya untuk yang mengerjakan, namun juga menghadirkan kebaikan dan kebermanfaatan yang berlipat ganda untuk kehidupan orang lain. Disinilah titik singgungnya dimana ajaran syariat islam memiliki spektrum manfaat yang sangat luas dan menggambarkan universalitas ajaran tersebut. Begitu juga dengan ibadah Qurban, spektrum manfaat dan kebaikannya sungguh sangat luas. Ibadah ini sejatinya menghadirkan dua kebaikan sekaligus. Pertama, menjadi wasilah diampuninya dosa-dosa kita. Kedua,menjadi sarana berbagi kebahagiaan dan menebar kebaikan kepada sesama terutama kaum dhu’afa. Jadi, melaksanakan ibadah qurban bukan sekedar ritual tahunan belaka, dengan berqurban kita pun berkontribusi menyelesaikan persoalan sosial bahkan persoalan ekonomi sekalipun.

Untuk menajamkan kembali pemahaman kita tentang pentingnya berqurban sehingga mengantarkan kita menjadi hamba-hamba Alloh yang senantiasa disiplin menjalankan syariat ini, kiranya kita mesti membaca kembali apa hikmah dibalik syariat Alloh ini.

a. Berqurban juga menjadi bukti ketaqwaan seorang hamba

Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman:

لَنيَنَالَاللَّهَلُحُومُهَاوَلَادِمَاؤُهَاوَلَكِنيَنَالُهُالتَّقْوَىمِنكُمْكَذَلِكَسَخَّرَهَالَكُمْلِتُكَبِّرُوااللَّهَعَلَىمَاهَدَاكُمْوَبَشِّرِالْمُحْسِنِينَ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS:Al Hajj:37)

2. Sebagai Sikap Kepatuhan dan Ketaaan pada Allah

وَلِكُلِّأُمَّةٍجَعَلْنَامَنسَكاًلِيَذْكُرُوااسْمَاللَّهِعَلَىمَارَزَقَهُممِّنبَهِيمَةِالْأَنْعَامِفَإِلَهُكُمْإِلَهٌوَاحِدٌفَلَهُأَسْلِمُواوَبَشِّرِالْمُخْبِتِينَ

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS: Al Hajj : 34)

3. Sebagai Saksi Amal di Hadapan dari Allah

Ibadah qurban mendapatkan ganjaran yang berlipat dari Allah SWT, dalam sebuah hadits disebutkan, “Pada setiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kabaikan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Juga kelak pada hari akhir nanti, hewan yang kita qurbankan akan menjadi saksi.

“Tidak ada amalan yang dikerjakan anak Adam ketika hari (raya) kurban yang lebih dicintai oleh Allah Azza Wa Jalla dari mengalirkan darah, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dgn tanduk-tanduknya, kuku-kukunya & bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah Azza Wa Jalla sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya.” (HR. Ibnu Majah No.3117)

4. Membedakan dengan Orang Kafir

Sejatinya qurban (penyembelihan hewan ternak) tidak saja dilakukan oleh umat Islam setiap hari raya Adha tiba, tetapi juga oleh umat lainnya. Sebagai contoh, pada zaman dahulu orang-orang jahiliyah juga melakukan qurban. Hanya saja yang menyembelih hewan qurban untuk dijadikan sebagai sesembahan kepada selain Allah.

قُلْإِنَّصَلاَتِيوَنُسُكِيوَمَحْيَايَوَمَمَاتِيلِلّهِرَبِّالْعَالَمِينَلاَشَرِيكَلَهُوَبِذَلِكَأُمِرْتُوَأَنَاْأَوَّلُالْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (qurbanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS: Al-An’am : 162-163)

5. Ajaran Nabiullah Ibrahim as.

Berkurban juga menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim – ‘alaihis salaam yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail ‘alaihis salaam ketika hari an nahr (Idul Adha).

“Berkata kepada kami Muhammad bin Khalaf Al ‘Asqalani, berkata kepada kami Adam bin Abi Iyas, berkata kepada kami Sullam bin Miskin, berkata kepada kami ‘Aidzullah, dari Abu Daud, dari Zaid bin Arqam, dia berkata: berkata para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah, hewan qurban apa ini?” Beliau bersabda: “Ini adalah sunah bapak kalian, Ibrahim.” Mereka berkata: “Lalu pada hewan tersebut, kami dapat apa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu ada satu kebaikan.” Mereka berkata: “Bagaimana dengan shuf (bulu domba)?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu shuf ada satu kebaikan.” (HR. Riwayat Ibnu Majah dalam Sunannya No. 3127)

6. Berdimensi Sosial Ekonomi

Ibadah qurban juga memiliki sisi positif pada aspek sosial. Sebagaimana diketahui distribusi daging qurban mencakup seluruh kaum muslimin, dari kalangan manapun ia, fakir miskin hingga mampu sekalipun. Sehingga hal ini akan memupuk rasa solidaritas umat. Jika mungkin bagi si fakir dan miskin, makan daging adalah suatu yang sangat jarang. Tapi pada saat hari raya Idul Adha, semua akan merasakan konsumsi makanan yang sama.

Hadits dari Ali bin Abu Thalib,

"Rasulullah memerintahkan kepadaku untuk mengurusi hewan kurbannya, membagi-bagikan dagingnya, kulit dan pakaiannya kepada orang-orang miskin, dan aku tidak diperbolehkan memberi sesuatu apapun dari hewan kurban (sebagai upah) kepada penyembelihnya.”

Jika kesadaran kolektif kaum muslimin untuk berqurban sudah semakin baik, maka persoalan sosial dan ekonomi umat ini setidaknya akan sedikit demi sedikit terurai dana mendapatkan solusinya. Persentase kesadaran berqurban umat mesti perlu ditingkatkan, terlebih lagi kita mendapatkan fakta bahwa jumlah kemiskinan di negara ini belum mendapatkan solusi yang berarti. Melaksanakan ibadah qurban pun sebenarnya tidak hanya terbatas untuk dimanfaatkan oleh fakir miskin di sekitar kita, jauh di seberang sana masih banyak kaum muslimin di belahan dunia ini yang menanti uluran cinta dan kasih sayang kita melalui daging-daging yang kita distribusikan kepada mereka. Sungguh bahagia jika seandainya kebermanfaatan qurban kita dirasakan oleh kaum muslimin dunia sehingga tentu kita akan mendapatkan pahala dan keberkahan berlipat.

Semoga Alloh SWT memberkahi harta dan memudahkan langkah kita untuk mampu berqurban di tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang. Semoga qurban kita diterima oleh Alloh SWT sebagai bentuk taqarrub dan menjadi wasilah hadirnya kebahagiaan kaum dhu’afa. So.. karena itu semua bisa berquban semua bisa bahagia. Wallohu ‘alam.

Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.