Oleh : H. Deni Mardiana, Lc. (Dewan Pengawas Syari’at Indonesia Berbagi)

Pengantar

“Harta yang paling berharga adalah keluarga...Mutiara tiada tara adalah keluarga...”

Begitulah penggalan lagu yang berjudul “Harta Berharga”, memberikan inspirasi kepada kita tentang pentingnya menjaga keutuhan dan keharmonisan hidup berkeluarga. Tentu, termasuk didalamnya bagaimana kita mampu mendidik dan mengarahkan anak keturunan kita menjadi pribadi yang baik dan menawan baik akhlak maupun kepribadiannya.

Mendidik anak memang gampang-gampang susah. Terlebih lagi mereka hari ini hidup di zaman yang berbeda dengan kehidupan orang tuanya dimasa lalu. Seiring perkembangan zaman dan gaya hidup manusia, pola pendekatan mendidik anak pun nampaknya tidak boleh meninggalkan apa dan bagaimana zaman mengajarkan kepada kita hari ini. Artinya, sebagai orang tua kita pun tetap melek teknologi dan informasi agar kemudian kita bisa menyesuaikan pola pendekatan pendidikan anak kita sesuai dengan zamannya. Namun tentu, sehebat apapun pola pendekatan dan sistem pendidikan anak yang kita terapkan, jika kita tidak pernah melibatkan Allah dalam proses tarbiyahnya, nampaknya hanya akan sia-sia saja hasilnya. Melibatkan Allah dalam proses tarbiyah anak keturunan kita tidak hanya sebatas saat mereka sudah lahir kedunia bahkan sudah mulai tumbuh besar. Melibatkan Allah dalam mendidik anak dimulai dari bagaimana kita menentukan pasangan hidup kita, kemudian saat Allah takdirkan si anak berada dalam kandungan ibunya disana pun proses melibatkan Allah sudah berlaku.

Sungguh telah ada pada diri Rasulullah saw, suri teladan yang baik, termasuk dalam pola dan proses mendidik anak. Maka mendidik anak sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya menjadi kebutuhan mendesak untuk kita ketahui dan kita coba terapkan dalam pola pengasuhan dan pendidikan anak keturunan kita. Karena anak adalah tanggungan dunia akhirat kita, tentu mendidik anak tidak bisa coba-coba, apalagi dijadikan ajang “kelinci percobaan”. Mendidik anak harus tuntas dan serius karena dampak baik dan buruknya bukan hanya membekas pada diri anak itu sendiri, melainkan berkonsekuensi kepada masa depan orang tua sebagai penanggung jawab utama nasib dan  masa depan keturunan mereka didunia danakhirat.

Anak, Antara Karunia & Ujian

Betapa banyak karunia yang telah Allah curahkan kepada kita semua. Baik yang terasa ataupun yang tidak terasa. Baik yang besar maupun yang kecil. Baik yang nampak ataupun yang tidak nampak. Semua karunia Allah itu sejatinya merupakan ujian dari Allah SWT. Ujung dari ujian mendapatkan karunia itu adalah rahmat dan musibah. Karunia Allah akan menjadi rahmat manakala kita menjadikannya sebagai modal untuk mengabdi kepada-Nya dan kita selalu mensyukurinya. Karunia Allah akan berujung ujian bahkan musibah manakala kita lalai mensyukurinya dan menyia-nyiakannya dengan perilaku maksiat kita kepada Allah SWT.

Salah satu karunia terbesar yang Allah berikan kepada kita adalah memiliki keturunan. Memiliki anak merupakan dambaan setiap pasangan yang telah berumah tangga. Hal ini tentu sangat wajar dan pantas, karena anak merupakan investasi orang tua dunia dan akhirat. Karena anak adalah simbol kebanggaan dan kebahagiaan orang tua didunia bahkan nanti diakhirat. Selain menjadi karunia terbesar dalam hidup, anak juga merupakan sumber ujian dan fitnah kehidupan. Allah SWT berfirman:

إنماأموالكموأولادكمفتنةواللهعندهأجرعظيم (التغابن : 14)

“Sesungguhnya harta dan anak kalian dalah ujian (dalam kehidupan). Dan sesungguhnya di sisi Allah terdapat pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 14)

Kemudian, diayat lain Allah mengingatkan kepada orang-orang beriman untuk tidak lalai dan kelewat batas dalam mencintai dan menjadikan mereka sumber kebahagiaan. Allah berfirman :

ياأيهاالذينأمنوالاتلهكمأموالكمولاأولادكمعنذكراللهومنيفعلذلكفأولئكهمالخاسرون (المنافقون : 9)

“Hai orang-orang beriman, janganlah harta dan anak-anakmu menjadikan kamu lalai dari mengingat Allah, barangsiapa yang melakukan hal tersebut, maka mereka termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-munafiqun: 9)

Cukup sewajarnya saja mencintai anak-anak kita. Cukup sewajarnya saja menjadikan mereka sebagai sumber kebahagiaan hidup kita. Saat semua itu melalaikan cinta dan perhatian kita kepada Allah, kerugian dan penyesalanlah yang akan kita dapatkan. Bahkan di hari kiamat kelak, anak keturunan kita bisa menjadi penyelamat atau sebaliknya bisa jadi penyebab kita mendapatkan ancaman Allah SWT. Memberikan pendidikan dan pengajaran yang memadai merupakan kunci utama agar anak kita selamat hidup di dunia dan akhirat. Menjadi investasi kebaikan kita walaupun sudah meninggalkan dunia ini.

Karena anak adalah anugerah, maka tentu patut kita syukuri. Patut kita jadikan sebagai ladang investasi amal shaleh. Wajib bagi orang tua memberikan pendidikan dan pengajaran sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Namun di sisi lain, anak juga merupakan ujian kehidupan orang tua. Patut bagi orang tua untuk terus waspada. Patut bagi kita untuk memberikan perhatian yang serius agar mereka memiliki masa depan yang jelas. Agar mereka tidak menjadi penyebab kita mendapatkan ancaman Allah SWT. Ketakutan tentang masa depan anak keturunan telah diingatkan oleh Allah SWT dalam alquran, firmanNya:

وليخشالذينلوتركوامنخلفهمذريةضعافاخافواعليهمفليتقوااللهوليقولواقولاسديدا (النساء : 9)

“Dan hendaklah takut kepada Allah seandainya meninggalkan -dibelakang kalian- keturunan-keturunan yang lemah, yang mana mereka (para orang tua) merasa khawatir atas kesejahteraan (anak-anaknya).Oleh karena itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. Annisa: 9)

Bentuk ketakutan yang harus kita terus waspadai yaitu masa depan pendidikan anak-anak kita. Pendidikan bukan hanya mencerdaskan anak secara intelektual, namun kecerdasan yang bersifat komprehensif sesuai dengan potensi kecerdasannya. Yang terpenting dari itu semua adalah bekal agama dan akhlaq mulia yang harus terus kita tanamkan pada anak keturunan kita. Agar kelak, mereka siap menghadapi tantangan zaman. Mereka siap menjadi generasi pembaharu yang selalu terdepan dalam membela agama dan kehormatan Islam. Bagaimana Islam memberikan tuntunan dalam mendidik anak? Bagaimana langkah yang harus ditempuh agar anak memiliki modal pemahaman agama dan akhlak mulia dalam menempuh jalan hidupnya? Jawaban dari itu semua akan kita bahas pada pembahasan selanjutnya.

Mendidik Anak Sesuai Tuntunan Rasulullah Saw

Mendidik anak merupakan kewajiban dan tanggung jawab orang tua. Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan kepada kita untuk peduli terhadap hal tesebut. Allah berfirman:

ياأيهاالذينأمنواقواأنفسكموأهليكمنارا .... (التحريم : 6)

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan anak keturunanmu dari ancaman siksa neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)

Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya berkomentar tentang ayat di atas: Muqathil berkata, “Kewajiban menjaga diri dari ancaman neraka di atas melekat kepada setiap individu, anak keturunan, keluarga dan semua yang menjadi tanggungannya termasuk para pembantunya.” 
Imam Ilkiya mengatakan, “Kita memiliki kewajiban mendidik anak dan keluarga dengan
pendidikan agama dan pendidikan karakter. Sebagaimana perintah Allah: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk menunaikan shalat.” Dalam sebuah hadits pun Rasul bersabda, “Perintahkanlah shalat kepada anak yang sudah berusia tujuh tahun.” (Tafsir Al-Qurthubi: 18/296)

 Orang tua muslim hendaknya menjadi teladan bagi yang lain dalam pendidikan anak dan keluarga. Merekalah yang pertama kali harus kita dakwahi dan berikan perhatian tentang pemahaman keagamaan serta pengamalannya. Sebagaimana Allah mengingatkan dalam alquran: “Dan berikanlah peringatan kepada keluarga terdekatmu.” (QS. Asy-Syu’ara: 214)

Ada sebuah kritik tajam yang mesti kita perhatikan baik-baik tentang pendidikan orang tua kepada anak di zaman sekarang. Menitipkan pendidikan anak kepada orang lain termasuk guru di sekolah sah-sah saja, namun jangan sampai menjadi alasan utama ketidakmampuan kita mendidik anak karena kesibukan kita di luar rumah, dan tidak mampu memberikan didikan yang optimal di rumah. Bahkan tidak sedikit diantara orang tua yang melepaskan sepenuhnya pendidikan anak di sekolah-sekolah Islam dan merasa cukup berhasil bahkan bangga ketika anak sekolah sambil mondok di pesantren. Sekali lagi, itu bukan faktor utama. Kunci utama keberhasilan pendidikan anak itu berada di pihak orang tuanya, bukan di pihak anaknya. Orang tualah yang harus terus sabar dan intensif memberikan perhatian tentang perkembangan anaknya, termasuk tentang pendidikannya. Sentuhan ketulusan cinta dan perhatian itulah yang menjadikan anak lebih mudah dituntun dan diberikan arahan-arahan dalam menjalani kehidupannya.

Di luar sana, banyak sekali metodologi mendidik anak. Banyak sekali buku-buku yang mengupas tuntas tentang kunci sukses mendidik anak. Sudah banyak para pakar membicarakan tentang rahasia keberhasilan menjadi orang tua yang sukses dan lain sebagainya. Dari sekian teori yang kita dapatkan tentu yang harus menjadi prinsip pokok kita, tidak ada ajaran dan teori yang lebih baik dan lebih tepat dalam mendidik anak kecuali teori dan manhaj yang telah digariskan dalam Al Quran dan As-Sunnah. Artinya, teori yang kita dapatkan dari luar sana selama bersesuaian dengan prinsip ajaran Islam maka tentu kita menerimanya dan menjadikannya sebagai referensi, namun sebaliknya sehebat apapun teori tersebut tapi jauh dari prinsip dan nilai-nilai Islam, maka kita harus berani menolak dan menjauhinya.

Bagi orang tua, mendidik anak adalah ibadah yang sifatnya long life, sepanjang hayat sepanjang masa. Perlu kesabaran, kecerdasan dan kebertahapan dalam menempuhnya. Perlu ketawakkalan yang kuat kepada Allah, karena yang berkuasa segalanya hanyalah Allah, termasuk menjadikan anak kita sholeh, cerdas dan bermanfaat. Ada 4 tahapan yang mesti diperhatikan oleh orang tua dalam menempuh perjuangan panjang mendidik anak ala Rasulullah saw. Tahapan itu ditempuh sesuai rentang usia anak tersebut.

Tahapan Pertama: Usia 0 – 6 tahun (Perlakukan Anak Sebagai Raja)

Anak usia 0-6 tahun merupakan usia emas atau sering disebut masa golden age. Pada usia-usia ini anak mengalami masa tumbuh kembang yang sangat cepat. Percepatan tumbuh kembang anak di masa ini bisa dirangsang dengan mainan dan permainan. Berikan perlakuan spesial kepada mereka. Manjakan mereka, didik dengan lemah lembut, curahkan sepenuh kasih sayang dan bangunlah kedekatan emosional yang baik dengan mereka. Itulah setidaknya arahan Rasul dalam mendidik anak pada rentangan usia ini.

Masa ini sering disebut zona merah, zona yang menjadi larangan kepada orang tua untuk banyak memarahi anak dan menjadikan anak merasa tertekan dengan sikap kita kepada mereka. Sikap marah-marah akan merusak jaringan otak anak dan menjadikan anak minder serta sulit bergaul dengan lingkungan luar. Ekspresi kemarahan orang tua kepada anak di masa usia ini jangan sampai melibatkan kekerasan fisik, menamparnya, memukulnya dan lain sebagainya. Orang tua harus cerdas-cerdas mengendalikan diri menghadapi anak yang sedang tumbuh kembang. Bersabarlah dan tetap ingat bahwa anak sedang tumbuh kembang, arahkanlah mereka agar nyaman dan tetap bahagia menikmati masa-masa perkembangannya.

Tahapan Kedua: Usia 7 – 14 Tahun (Perlakukan Anak Sebagai Tawanan Perang/Pembantu)

Pada tahapan berikutnya, orang tua hendaklah memposisikan anak sebagai tawanan/pembantu. Kedisiplinan dan kemandirian menjadi keyword keberhasilan orang tua mendidik anak pada periode ini. Rasulullah memberikan arahan kepada kita dalam mendidik anak pada periode ini, beliau bersabda: “Perintahkan anak-anakmu untuk shalat saat mereka telah berusia 7 tahun, dan pukullah mereka jika mereka meninggalkannya ketika usia 10 tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud)

Masa ini sering disebut zona kuning, zona yang menuntut orang tua untuk tetap berhati-hati dan waspada. Tidak terlalu mengekang anak dengan aturan-aturan yang ketat, namun juga tetap memberikan kebebasan anak untuk berekspresi dan mengembangkan bakat minatnya. Di masa ini orang tua harus sudah memberikan arahan kepada anak tentang pentingnya bertanggung jawab dan mandiri serta mengamalkan hal-hal tersebut dari hal terkecil di rumahnya seperti: mencuci piring, cuci baju sendiri, menyetrika baju sendiri, dll.

Tahapan Ketiga: Usia 15 – 21 Tahun (Perlakukan Anak Sebagai Sahabat)

Pada tahapan ini, anak sudah mulai mengenal dunia luar. Dunia yang bisa jadi lebih nyaman dari lingkungan di rumahnya. Suasana yang bisa jadi tidak dia dapatkan selama berada di rumahnya. Kondisi yang lebih memberikan kenyamanan bagi dirinya, di saat kondisi itu hampa dia dapatkan dari orang tuanya di rumah. Singkatnya, anak di masa ini sudah mulai mengenal siapa dirinya, mengenal lingkungannya dan sudah mulai bisa menentukan masa depannya. Anak sudah mulai mengenal lawan jenis dan sudah mulai timbul ketertarikan kepada mereka.

Zona ini sering disebut zona hijau, artinya orang tua sudah bisa melepas anak untuk mandiri dan mulai menentukan nasibnya di masa depan. Di masa ini, anak sudah mulai menemukan beragam masalah, baik yang datang dari dalam dirinya seperti sudah mulainya timbul perubahan-perubahan fisik, perubahan suara, perubahan unsur seksualitas dan lain sebagainya. Adapun masalah yang datang dari luar misalnya anak sudah mulai suka dengan lawan jenis, ada pengaruh-pengaruh dari lingkungannya yang merubah cara hidup dan cara bergaulnya (yang tidak dia dapatkan di lingkungan keluarganya). Pada kondisi-kondisi inilah hendaknya orang tua memposisikan anak sebagai seorang sahabat. Orang tua harus menjadi tempat yang pertama dan utama bagi anak dalam memecahkan setiap masalahnya. Orang tua harus menjadi tempat curhat bagi anak sehingga anak merasa nyaman akan keberadaan orang tuanya. Di fase inilah kita sering menemukan anak-anak yang broken home, anak-anak yang kehilangan teladan dari orang tuanya. Karena hilangnya kontrol orang tua kepada anak, akhirnya anak mencari kenyamanan di luar. Anak mencari solusi dari luar lingkungan keluarganya. Kesalahan bergaul dan pengaruh lingkungan yang luar biasa rusaknya mengakibatkan anak kehilangan masa depan dan rusaknya identitasnya.

Sekali lagi, jadikanlah anak sebagai sahabat. Berikan waktu dan perhatian yang cukup kepada mereka, berikan ruang yang tidak terbatas kepada anak untuk mencurahkan keluh kesahnya. Bangun komunikasi yang baik, ingat dia bukan lagi anak kecil. Perlakukan mereka sesuai usianya.

Tahapan Keempat: Usia 21 – Keatas (Berikan Kepercayaan dan Kebebasan Kepada Anak)

Pada fase terakhir ini, orang tua harus sudah memberikan kepercayaan dan kebebasan kepada anak untuk menentukan nasib kehidupannya di masa depan termasuk tentang masalah jodohnya. Orang tua sudah harus melepaskan mereka, karena mereka sudah mandiri dan bertanggung jawab. Orang tua cukup memberikan nasehat, arahan dan bimbingan agar anak tidak kehilangan arah dan kendali. Doa dan tawakkal menjadi aktivitas yang tidak pernah putus agar Allah senantiasa membimbing dan menjaga anak-anak kita dari berbagai upaya yang akan merusak masa depannya.

Penutup

Demikianlah tahapan demi tahapan yang harus dilakukan orang tua dalam mendidik anak. Teori demi teori yang disampaikan di atas tentu sangat ideal, namun satu hal yang harus terus kita ingat bahwa kehebatan mendidik anak ada pada keteladan dan kemuliaan akhlaq orang tuanya. Orang tua menjadi laboratorium pertama yang akan memberikan efek maksimal terhadap baik atau buruknya anak kita ke depan. Tampillah menjadi teladan bagi anak-anak kita. Keteladanan, keikhlasan dan kesabaran dan ketepatan menempatkan teori dan praktik menjadi kunci utama keberhasilan mendidik anak. Selamat berjuang, pintu surga sudah terbuka bagi siapa saja yang berhasil mengantarkan anak-anaknya menjadi sholeh, cerdas dan bemanfaat. Wallahu ‘Alam.

Gambar : pixabay.com

Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.