Oleh : H. Deni Mardiana, Lc. (Dewan Pengawas Syariat Indonesia Berbagi)

Pendahuluan

Berqurban artinya bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Alloh dengan cara menjalankan perintah Alloh dan mengikuti sunnah Rasulullah saw. Bertaqarrub sejatinya tidak mengenal musiman, apalagi hanya sekedar ritual. Tentu sebagai hamba Alloh yang taat, wajib hukumnya kita terus meningkatkan kualitas dan kuantitas taqarrub kita kepada-Nya, karena Allohlah pemilik segalanya. Memang tidak mudah untuk terus berada di jalan Alloh, namun upaya dan optimalisasi taqarrub kita kepada-Nya harus menjadi perhatian utama dan pertama dalam hidup kita. Kata berqurban di bulan Dzulhijjah selanjutnya didefinisikan dan diekspresikan dengan melakukan penyembelihan hewan qurban sesuai petunjuk Alloh dan sunnah Rasulullah saw.

Bulan Dzulhijjah sudah menyapa kita semua, ini artinya Alloh menyeru kita untuk mengoptimalkan beragam bentuk ketaatan dengan melaksanakan kewajiban dan meningkatkan ibadah sunnah kepada-Nya di bulan ini. Seruan Alloh itu tergambar dari ungkapan Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya, beliau menyampaikan :

« مَامِنْأَيَّامٍالْعَمَلُالصَّالِحُفِيهَاأَحَبُّإِلَىاللَّهِمِنْهَذِهِالأَيَّامِ ». يَعْنِىأَيَّامَالْعَشْرِ. قَالُوايَارَسُولَاللَّهِوَلاَالْجِهَادُفِىسَبِيلِاللَّهِقَالَ « وَلاَالْجِهَادُفِىسَبِيلِاللَّهِإِلاَّرَجُلٌخَرَجَبِنَفْسِهِوَمَالِهِفَلَمْيَرْجِعْمِنْذَلِكَبِشَىْءٍ ».

“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satu pun. (HR. Muslim)

Hadits di atas menegaskan kepada kita bahwa tidak boleh melalaikan ibadah di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Sampai-sampai, Rasul membandingkan keutamaan ibadah di sepuluh hari pertama itu dengan pahala jihad fii sabilillah. Artinya siapa saja yang mampu mengoptimalkan ibadah di hari-hari itu, sama pahala dan keutamaannya dengan mujahid yang berperang di jalan Alloh dengan harta dan jiwanya kemudian mereka meninggal dunia dalam kondisi syahid. Subhanalloh...inilah kesempatan besar dari Alloh untuk kita manfaatkan sebaik-baiknya.

Lantas kita pun bertanya, amalan utama apa yang mesti kita perhatikan di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah tersebut? Jika kita merujuk kepada Al-quran dan hadits-hadits shahih tentu kita akan mendapatkan keterangan bahwa amalan utama di bulan ini diantaranya ialah : Menjalankan ibadah haji (bagi yang mampu), melaksanakan shaum ‘arafah tanggal 9 Dzulhijjah, Melaksanakan Shalat Idul Adha, menyembelih hewan Qurban, memperbanyak takbir dan dzikir di hari tasyriq dan meningkatkan amalan ibadah sunnah.

Dari sekian amalan di atas, yang utama tentu menjalankan ibadah haji. Namun faktanya tidak semua dari kita diberikan kesempatan untuk bisa melaksanakan rukun islam yang kelima ini. Berbahagialah bagi kaum muslimin yang tahun ini diseru oleh Alloh untuk menjadi tamu-Nya di baitullah, namun tidak boleh berkecil hati bagi mereka yang belum dipanggil untuk menunaikan ibadah haji. Ternyata masih banyak peluang ketaatan yang bisa kita optimalisasi sehingga peluang mendapatkan keutamaan dari Alloh di bulan ini masih terbuka luas bagi kita semua.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, mari kita coba perdalam kembali pentingnya menjalankan syariat qurban dan apa hikmah yang terkandung dari menjalankan syariat ini.

Berqurban Dalam islam

Ibadah qurban merupakan syariat Alloh yang bersifat turunan. Artinya syariat yang sudah ada semenjak zaman Nabi Adam as, kemudian terjadi kembali di zaman Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, lalu diteruskan pada zaman Nabi Muhammad saw sampai kepada kita hari ini. Sebuah ritual yang tentu memiliki nilai dan syarat yang agung yang menggambarkan keimanan serta wujud kecintaan kepada Alloh SWT.

Sepanjang perjalanan sejarah manusia, banyak diantara mereka yang menyalahgunakan ritual qurban. Ada yang menjadikannya sebagai sesembahan, menjadikannya sebagai tumbal bahkan menjadi bagian dari proses hukuman dan lain sebagainya. Setelah Islam datang, syariat ini kemudian diluruskan kembali dan dikembalikan kepada tujuan pokoknya yaitu sebagai bentuk persembahan kepada Alloh SWT lewat penyembelihan hewan qurban. Syariat ibadah qurban yang kita ikuti hari ini merupakan syariat ibadah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, lalu disempurnakan oleh Nabi Muhammad saw dan diajarkan kepada kita untuk menjadi syariat yang diikuti dan ditaati.

Ibadah qurban bukan sekedar ritual, ia adalah simbol dari keutuhan cinta dan pengorbanan seorang hamba kepada Alloh SWT. Dengan berqurban, manusia diajarkan oleh Alloh untuk belajar mencintai Alloh seutuhnya, kemudian dibuktikan dengan setulus pengorbanan yang tinggi kepada Alloh SWT. Ibadah qurban juga bukan sekedar menyembelih hewan qurban, jauh dari itu Alloh ingin melihat sejauhmana keseriusan kita mencintai Alloh. Karena orang yang tulus mencintai Alloh, maka tidak lagi ada tawar menawar disana. Maka dengan ketulusannya apapun ia lakukan untuk yang dicintainya. Singkatnya, syari’at ibadah qurban merupakan syari’at yang agung nan mulia, dan hanya orang yang menunaikan syari’at inilah yang akan merasakan keagungan dan kemuliaan ibadah tersebut.

Definisi Qurban

Qurban, (terkadang menggunaan kata “kurban”), secara bahasa berasal dari kata Qaruba – Yaqrubu – Qurban – Qurbanan, Qaruba ilaihi artinya mendekat kepadanya. Bila kita ambil contoh kata Qurban dalam Al Qur’an, diantaranya adalah firman Allah ta’ala di surah Al A’raf ayat 56 :

إِنَّرَحْمَةَاللهِقَرِيْبٌمِنَالْمُحْسِنِيْنَ

Artinya : Sesungguhnya Rahmat Allah dekat dengan orang-orang berbuat baik

Menyembelih hewan di hari raya Idul Adha, dalam ilmu fiqih lebih dikenal dengan istilah yang lain, yakni  “udh-hiyah” (أُضْحِيَّة). Yang jamak katanya  adalah Al Adhaahiy. Namun demikian Qurban dan Udhiyah telah ma’fum dipahami  dan dikenal sebagai sebuah ritual ibadah yang secara  yang didefinisikan  aktivitas atau sesuatu yang disembelih untuk mendekatkan diri kepada Allah pada hari nahr (10 Dzulhijjah) dan tasyriq dengan syarat yang khusus.

Adapun menurut pendekatan pemahaman istilah, Udh-hiyah ialah menyembelih hewan tertentu dengan niat qurbah (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala pada waktu tertentu. Dari definisi tersebut dapat kita pahami bahwa apapun yang disembelih bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, semisal untuk dimakan, dijual atau menyambut tamu, maka itu bukanlah Udh-hiyah. Definisi ini juga membedakan aktivitas ibadah Qurban dari ibadah penyembelihan lain yang bukan pada waktu nahr dan hari tasyriq, seperti menyembelih hewan untuk aqiqah atau nazar. Karena Qurban hanya dikerjakan pada hari yang tertentu sebagaimana yang disebutkan.

Hewan yang disembelih untuk berqurban tidak boleh hewan sembarangan. Rasulullah saw menyatakan dalam haditsnya bahwa hewan yang disembelih itu hewan unta, sapi atau kambing. Selain 3 hewan sejenis itu tidak diperbolehkan dan tidak dikategorikan hewan sembelihan qurban. Selain itu, tentu hewan yang disembelih harus benar-benar layak dan sehat luar dalam. Hewan yang cacat tidak diperbolehkan dijadikan hewan sembelihan.

Rasulullah pun mengajarkan kepada kita sejatinya mereka yang berqurban, maka mereka sendirilah yang menyembelih hewan qurban tersebut.

Hukum Berqurban

Dalam Kitab Al Mausu’ah Fiqhiyah disebutkan bahwa Jumhur ulama berpendapat hukum berqurban adalah sunnah mu’akkadah. Pendapat ini datang dari mazhab Syafi’iyah, Hanabilah dan perkataan yang kuat dari kalangan mazhab Malikiyah. Ini pula yang diklaim menjadi pendapat Abu Bakar, Umar, Bilal, Abu Mas’ud al Badri, Sa’id bin Musayib, Alqamah, Aswad, Ishaq, Abu Tsur dan Ibnu Mundzir.  Demikian pula menurut satu riwayat,  Abu Yusuf juga menetapkan bahwa hukum Qurban menurutnya sunnah muakadah.

Sedangkan Abu Hanifah dan para pengikut mazhabnya berpendapat bahwa hukum berqurban  adalah wajib sekali setiap tahun bagi orang-orang yang muqim dan memiliki kemampuan. Mereka yang meninggalkan berqurban padahal memiliki kemampuan, terhitung sebagai orang yang bermaksiat kepada Allah. Yang juga turut memandang bahwa syariat Qurban hukumnya wajib adalah Al Laits, Al Auza'i, dan sebagian pengikut mazhab Imam Malik.Dalil yang digunakan oleh para ulama yang mewajibkan Adalah sebuah hadits yang berbunyi : “Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rezeki) dan dia tidak berqurban, maka janganlah ia dekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam mengomentari hadits ini, Imam Ash Shan’ani rahimahullah berkata :  “Hadits ini dijadikan dalil wajibnya berqurban bagi yang memiliki kelapangan rezeki, karena ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang mendekati tempat shalat, menunjukkan bahwa itu merupakan meninggalkan kewajiban, seakan Beliau mengatakan shalatnya tidak bermanfaat jika meninggalkan kewajiban ini. Juga karena firman-Nya : “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.” Dalam hadits Mikhnaf bin Sulaim secara marfu’ berbunyi: “(wajib) atas penduduk setiap rumah pada tiap tahunnya untuk berqurban.” Lafaz hadits ini dzahirnya menunjukkan wajibnya berqurban.

Sementara yang tidak mewajibkan, menyatakan bahwa dua hadits di atas tidak bisa dijadikan hujjah (dalil), sebab kedua hadits tersebut dha’if. Sedangkan ayat : “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah,” Tidak bermakna wajib kurban melainkan menunjukkan urutan aktifitas, yakni menyembelih kurban dilakukan setelah shalat Id.

Kalangan ini pun berdalil, seandainya hadits di atas katakan saja shahih, itu pun tidak menunjukkan kewajibannya. Sebab dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda : “Jika kalian memasuki tanggal 10 (Dzulhijjah) dan hendak berqurban maka janganlah mengambil sedikit pun dari bulu dan kulitnya.”( HR. Muslim). Hadits tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa berqurban itu terkait dengan kehendak manusianya.  Oleh karena itu Imam Asy Syafi’i secara khusus menjadikan hadits ini sebagai dalil tidak wajibnya berqurban alias sunah muakkadah. Hadits lainnya yang menunjukkan tidak wajibnya Qurban : “Aku diwajibkan untuk berqurban, namun tidak wajib bagi kalian.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi)

Dari berbagai diskursus pandangan para ulama tentang hukum berqurban di atas, secara umum Syekh Sayyid Sabiq dalam kitabnya Fiqhussunnah menyebutkan bahwa hukum berqurban itu asalnya sunnah muakkadah. Namun bisa menjadi wajib jika seseorang awalnya bernadzar untuk berqurban. Tapi akan menjadi haram jika ibadah qurban dijadikan sebagai sesembahan dan bukan dipersembahkan untuk Alloh.

Hikmah Beribadah Qurban

Banyak sekali hikmah yang bisa diambil dari syari’at penyembelihan hewan qurban. Dalam kitab Minhajul Muslim (Hal 339-340) karya Syekh Abu Bakr Al-jazairi Bab tentang Udhiyyah menyebutkan beberapa hikmah disyariatkannya ibadah qurban.

1. Bentuk Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Alloh SWT

Hal ini sesuai dengan firman Alloh : “maka shalatlah kalian dan menyembelihlah... (Al-kautsar : 2). Pada ayat yang lain Alloh juga berfirman : “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam,” (Al-An’am : 162). Kalimat Ibadah dalam ayat ini maksudnya ibadah qurban.

2. Menghidupkan sunnah tokoh revolusi tauhid Nabi Ibrahim as

Di saat beliau diperintah untuk menyembelih anaknya Ismail as lalu Alloh gantikan dengan seekor kambing untuk disembelih

3. Menghadirkan kebahagiaan bagi fakir miskin di hari raya

4. Wujud kesyukuran kepada Alloh atas nikmat hewan yang ditundukkan untuk kita

Selain empat point diatas, kita pun bersepakat bahwa berqurban menghadirkan upaya mengentaskan kesenjangan hubungan antara si kaya dan si miskin. Dengan berqurban, si kaya merasakan betapa indahnya berbagi dengan sesama. Si miskin disisi lain merasakan kebahagiaan yang besar karena bisa merasakan makanan “mewah” yang selama ini jarang mereka rasakan.

Penutup

Betapa mulianya hamba Alloh yang selalu istijabah (responsif) terhadap seruan Alloh dan Rasul-Nya. Kemuliaan itu kemudian mereka buktikan dengan bertaqarrub kepada Alloh setiap saat dalam kondisi apapun dan seperti apapun. Di bulan Dzulhijjah yang mulia ini, selain kita diperintahkan menunaikan ibadah haji, beragam ketaatan lainnya masih bisa kita optimalkan dengan sebaik-baiknya. Ibadah Qurban yang kita tunaikan sekali lagi bukan sekedar ritual, jauh dari itu mengandung beragam hikmah dan pelajaran berharga dimana kita diajarkan untuk totalitas mempersembahkan cinta kita kepada Alloh dan Rasul-Nya tanpa banyak pertimbangan apalagi pilih-pilih.

Berqurban adalah wujud ketaqwaan kita kepada Alloh. Berqurban merupakan wujud kecintaan kita kepada sunnah Rasulullah. Berqurban pun menjadi bukti keseriusan kita meraih sebanyak-banyaknya pahala dan keridhoan Alloh SWT. Maka dari itu berqurbanlah... Semua Bisa Berqurban, Semua Bisa Bahagia, insya Alloh.Wallohu A’lam Bisshowab.

Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.