Oleh: H. Deni Mardiana, Lc (Dewan Pengawas Syariat Indonesia Berbagi Foundation)

Muqaddimah

Pelaksanaan ibadah haji tahun 1437 H atau tahun 2017 telah selesai. Sebagian jemaah haji sudah ada yang kembali ketanah air dan berkumpul bersama sanak saudara tercinta. Secara umum perjalanan pelaksanaan ibadah haji ini bisa kita katakan berjalan dengan lancar, tertib serta aman dan minim insiden. Tentu tidak terbayang bagaimana membuncahnya perasaan bahagia, haru sekaligus menggetarkan hati tatkala mendengar cerita dari perjalanan spiritual masing-masing jemaah haji yang melaksanakan rukun islam ke-lima itu dibaitullah. Suka dan duka serta ujian demi ujian yang mereka dapatkan selama di mekkah dan madinah tidak menghalangi mereka untuk terus bersabar menjalani tahapan demi tahapan ibadah haji sampai akhirnya mereka tuntas menunaikan rukun dan syaratnya.

Melihat fenomena seperti itu, tentu terdorong semangat dan keinginan yang kuat untuk dapat meniru dan mengikuti jejak perjalanan spiritual para jemaah haji selama berada disana. Apalagi jika melihat perjuangan mereka untuk dapat berangkat kesana sungguh menjadi motivasi dan menyimpan rasa malu sendiri. Karena ternyata, disebagian mereka yang berangkat haji kesana, bukan hanya orang yang kaya secara materi dan memiliki harta yang berlimpah. Keterbatasan, kepemilikan harta yang seadanya dan kondisi kehidupan yang pas-pasan ternyata tidak mengurungkan niat dan tekad mereka untuk bisa memenuhi panggilan Alloh SWT yang mulia ini.

Ibadah haji merupakan puncak dari melaksanakan kewajiban rukun islam yang kelima. Tidak semua orang dapat menunaikan kewajiban ini. Selain haji merupakan panggilan Alloh, ibadah ini pun memerlukan kesiapan-kesiapan baik materi, fisik maupun mental.Alloh memilih diantara hamba-hamba-Nya yang memang mampu dan mau melaksanakan kewajiban ini. Sehingga perlu untuk segera memantaskan diri dihadapan Alloh bahwa kita sudah memenuhi setidaknya dua ketentuan diatas.

Setelah selesai menunaikan seluruh rukun dan syarat ibadah haji dan kembali ke tanah airnya masing-masing, bukan berarti selesai sudah kewajiban seorang muslim mengabdi kepada Alloh SWT. Justru, setelah menunaikan ibadah haji ini Alloh akan melihat sekaligus mengevaluasi apakah kemabruran ibadah tersebut dapat terjaga atau malah sebaliknya. Alloh telah menjanjikan bahwa mereka yang menunaikan ibadah ini dengan sebenar-benarnya, tidak ada pahala terbaik bagi mereka kecuali surga dan ampunan Alloh SWT dan membersihkan seluruh dosa-dosa selayaknya seorang anak-anak yang baru lahir dari rahim ibunya. Rasulullah Saw bersabda:

أَمَّا خُرُوجُكَ مِنْ بَيْتِكَ تَؤُمُّ الْبَيْتَ فَإِنَّ لَكَ بِكُلِّ وَطْأَةٍ تَطَأُهَا رَاحِلَتُكَ يَكْتُبُ اللَّهُ لَكَ بِهَا حَسَنَةً , وَيَمْحُو عَنْكَ بِهَا سَيِّئَةً , وَأَمَّا وُقُوفُكَ بِعَرَفَةَ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيُبَاهِي بِهِمُ الْمَلائِكَةَ , فَيَقُولُ:هَؤُلاءِ عِبَادِي جَاءُونِي شُعْثًا غُبْرًا مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ يَرْجُونَ رَحْمَتِي , وَيَخَافُونَ عَذَابِي , وَلَمْ يَرَوْنِي , فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي؟فَلَوْ كَانَ عَلَيْكَ مِثْلُ رَمْلِ عَالِجٍ , أَوْ مِثْلُ أَيَّامِ الدُّنْيَا , أَوْ مِثْلُ قَطْرِ السَّمَاءِ ذُنُوبًا غَسَلَ اللَّهُ عَنْكَ , وَأَمَّا رَمْيُكَ الْجِمَارَ فَإِنَّهُ مَذْخُورٌ لَكَ , وَأَمَّا حَلْقُكَ رَأْسَكَ , فَإِنَّ لَكَ بِكُلِّ شَعْرَةٍ تَسْقُطُ حَسَنَةٌ , فَإِذَا طُفْتَ بِالْبَيْتِ خَرَجْتَ مِنْ ذُنُوبِكَ كَيَوْمِ وَلَدَتْكَ أُمك (رواه الطبراني).

Adapun keluarmu dari rumah untuk berhaji ke Ka’bah maka setiap langkah hewan tungganganmu akan Alloh catat sebagai satu kebaikan dan menghapus satu kesalahan. Sedangkan wukuf di Arafah maka pada saat itu Alloh turun ke langit dunia lalu Alloh bangga-banggakan orang-orang yang berwukuf di hadapan para malaikat. Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Mereka adalah hamba-hamba-Ku yang datang dalam keadaan kusut berdebu dari segala penjuru dunia. Mereka mengharap kasih saying-Ku, merasa takut dengan siksa-Ku padahal mereka belum pernah melihat-Ku. Bagaimana andai mereka pernah melihatKu?!.

Andai engkau memiliki dosa sebanyak butir pasir di sebuah gundukan pasir atau sebanyak hari di dunia atau semisal tetes air hujan maka seluruhnya akan Alloh bersihkan. Lempar jumrohmu merupakan simpanan pahala. Ketika engkau menggundul kepalamu maka setiap helai rambut yang jatuh bernilai satu kebaikan. Jika engkau thawaf, mengelilingi Ka’bah maka engkau terbebas dari dosa-dosamu sebagaimana ketika kau terlahir dari rahim ibumu.” (HR. Tabrani)

Pengertian Mabrur Dalam Ibadah Haji

Kiranya kita perlu memahami definisi mabrur sebagai balasan bagi mereka yang telah sempurna menunaikan rukun dan syarat serta menjaga adab-adab selama melaksanakan ibadah haji. Berikut beberapa pandangan para ulama mengenai hal tersebut.

Imam An-nawawi dalam kitabnya Tahrir Alfazh at Tanbih menyebutkan:  Mabrur adalah yang tidak tercampuri maksiat. Mabrur diambil dari kata-kata birr yang maknanya adalah ketaatan.

Sedangkan al Azhari berpendapat bahwa makna mabrur adalah amal yang diterima (mutaqobbal), diambil dari kata-kata birr  yang bermakna semua bentuk kebaikan. Semua amal shalih bisa disebut birr. Dalam Syarh Muslim 5/16, An-Nawawi berkata, “Pendapat yang paling kuat dan yang paling terkenal mabrur adalah yang tidak ternodai oleh dosa, diambil dari kata-kata birr yang bermakna ketaatan. Ada juga yang berpendapat bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima. Di antara tanda diterimanya haji seseorang adalah adanya perubahan menuju yang lebih baik setelah pulang dari pergi haji dan tidak membiasakan diri melakukan berbagai maksiat. Ada pula yang mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri unsur riya’. Ulama yang lain berpendapat bahwa haji mabrur adalah jika sepulang haji tidak lagi bermaksiat. Dua pendapat yang terakhir telah tercakup dalam pendapat-pendapat sebelumnya”.

Pendapat yang dipilih oleh An-Nawawi di atas dikomentari oleh Ali Al Qori, “Inilah pendapat yang paling mendekati kebenaran dan paling selaras dengan kaedah-kaedah fiqh. Namun meski demikian pendapat ini mengandung ketidakjelasan karena tidak ada satupun yang berani memastikan bahwa dirinya terbebas dari dosa.” (Al Dzakhirah Al Katsirah hal 27, terbitan Maktab Islami dan Dar al ‘Ammar).

Al Qurthubi mengatakan, “Para pakar fiqh menegaskan bahwa yang dimaksud haji mabrur adalah haji yang tidak dikotori dengan kemaksiatan pada saat melaksanakan rangkaian manasiknya. Sedangkan Al Fara’ berpendapat bahwa haji mabrur adalah jika sepulang haji tidak lagi hobi bermaksiat. Dua pendapat ini disebutkan oleh Ibnul ‘Arabi. Menurut hemat kami, haji mabrur adalah haji yang tidak dikotori oleh maksiat saat melaksanakan manasik dan tidak lagi gemar bermaksiat setelah pulang haji.” (Tafsir Al Qurthubi 2/408)

قال الحسن: الحج المبرور هو أن يرجع زاهدا في الدنيا راغبا في الاخرة.

Al Hasan Al Bashri berkata, “Haji mabrur adalah jika sepulang haji menjadi orang yang zuhud dengan dunia dan merindukan akherat

عن جابر رضي الله عنه قال : سئل رسول الله صلى الله عليه و سلم ما بر الحج ؟ قال : إطعام الطعام و طيب الكلام

Dari Jabir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang haji yang mabrur, jawaban beliau, “Suka bersedekah dengan bentuk memberi makan dan memiliki tutur kata yang baik.”

Menjaga Kemabruran Ibadah Haji

Dari penjelasan definisi mabrur di atas, setidaknya ada kalimat yang menunjukkan kepada kita bahwa mabrur itu adalah sebuah proses ibadah haji yang bersih dan terjaga dari unsur dosa dan kemaksiatan baik sebelum menunaikan ibadah haji, ketika sedang melaksanakan kewajiban-kewajibannya maupun setelah selesai menunaikan rukun dan syaratnya.Jadi mabrur bukanlah sekedar predikat yang melekat kepada siapa saja yang telah melaksanakan ibadah haji dan bertitel Haji, mabrur adalah di saat seluruh aktivitas ketaatannya terjaga sepanjang hidupnya, apalagi setelah menunaikan ibadah haji. Semangatnya semakin kuat dan istiqamah kepada Alloh SWT.

Ada beberapa hal yang patut diperhatikan agar kemabruran haji tidak sekedar slogan, apalagi kebanggaan dan klaim semata.

1. Ikhlas mengharap Ridho Allah, tidak riya‘ dan tidak sum’ah

Ibadah haji bukanlah ajang mengejar titel atau gelar “Haji”. Seluruh rangkaian ibadahnya dari awal sampai akhir sejatinya dihadirkan semata-mata ingin mengharap pahala dari Allah SWT. perbuatan riya dan sum’ah harus benar-benar dihindari, karena tentu semua itu akan mengurangi bahkan bisa jadi menghapus seluruh pahala yang telah kita dapatkan sebelumnya.

2. Berhaji dengan rezeki yang halal 

Dalam hal ini Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا

Allah itu thoyyib (baik) dan tidaklah menerima kecuali dari yang baik.” (HR. Muslim No. 1015)

Para calon Jemaah haji harus bisa memastikan bahwa harta yang digunakan untuk membiayai keberangkatan hajinya merupakan harta yang halal dan bersih. Sehingga seluruh proses dari awal sampai akhir benar-benar terjaga. Menggunakan dana untuk haji dengan jalan yang haram dan status harta tersebut juga haram, tentu bukannya mendatangkan kemabruran, yang ada Alloh tidak memberkahi bahkan tidak menerima ibadahnya tersebut.

3. Menjauh dari maksiat, dosa, bid’ah dan hal-hal yang menyelisihi ketentuan Alloh

Perbuatan dosa dan maksiat dapat berpengaruh pada amalan sholeh dan bisa membuat amalannya tidak diterima. Lebih-lebih lagi dalam melakukan haji. Dalam ayat suci Al Qur’an disebutkan firman Alloh,

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berkata kotor), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS. Al Baqarah: 197)

Menjaga dri dari perbuatan di atas bukan hanya ketika sedang melaksanakan ibadah haji saja, sepulang dari tanah suci perjuangan untuk mengendalikan diri dari dosa dan maksiat merupakan tantangan tersendiri bagi para alumni haji.

4. Berakhlak yang mulia dan bersikap lemah lembut, juga bersikap tawadhu’ (rendah hati) ketika di kendaraan, tempat tinggal, saat bergaul dengan lainnya dan bahkan di setiap keadaan

Tetaplah rendah hati, tidak menampilkan perilaku sombong dan takabbur. Apalagi sekarang sudah menjadi Pak Haji/Bu Haji, tentu akan menjadi tantangan ketika ada orang yang tidak memanggil kita dengan panggilan itu lantas kita marah karena merasa tidak dihargai dan dihormati.

5. Selalu menghadirkan Alloh dimanapun, kapanpun dan seperti apapun

Orang yang berhaji hendaknya benar-benar mengagungkan syi’ar Alloh. Ketika melaksanakan ritual manasik, hendaklah ia menunaikannya dengan penuh pengagungan dan tunduk pada Alloh. Hendaklah ia menunaikan kegiatan haji dengan penuh ketenangan dan tidak tergesa-gesa dalam berkata atau berbuat. Jangan bersikap terburu-buru sebagaimana yang dilakukan banyak orang di saat haji. Hendaklah punya sikap sabar yang tinggi karena hal ini sangat berpengaruh besar pada diterimanya amalan dan besarnya pahala. Di antara bentuk mengagungkan syi’ar Alloh, hendaklah ketika berhaji menyibukkan diri dengan dzikir, yaitu memperbanyak takbir, tasbih, tahmid dan istighfar. Karena orang yang berhaji sedang dalam ibadah dan berada dalam waktu-waktu yang mulia.

Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.