Oleh: H. Deni Mardiana, Lc (Dewan Pengawas Syari’at Indonesia Berbagi Foundation)

Muqaddimah

Dalam sejarahnya, qurban adalah syariat yang turun dimasa nabi Ibrahim AS. Syariat ini menggambarkan sebuah momentum yang agung tentang dua hamba Alloh (Ibrahim & Ismail) yang mengikatkan komitmen cinta dan pengorbanannya hanya untuk Alloh SWT. Alloh memberikan ujian demi ujian dengan tingkat ujian yang semakin tinggi kepada nabi Ibrahim AS, untuk melihat dan menjadi teladan bagi generasi setelahnya bahwa untuk menggapai kesempurnaan cinta dari Alloh SWT, harus siap menghadapi ujian demi ujian dan sabar menjalaninya.

Ibadah Qurban syarat makna dan nilai. Ia menjadi syariat yang bukan hanya dinilai ibadah saat menjalankannya, namun juga menjadi motivasi dan sumber inspirasi dari setiap jejak sejarah yang dilaluinya. Ibadah Qurban menjadi ibadah khas dalam islam, dimana hanya keimanan dan ketulusan yang mampu mengantarkan seorang hamba menunaikan sunnah ini. Bukan hanya hitungan rupiah yang kita keluarkan, jauh dari itu sejatinya ibadah Qurban dimaknai sebagai wujud penghambaan kepada Alloh SWT dan bentuk keseriusan untuk mengambil aura energi positif dari syari’at ibadah Qurban dari dua manusia agung nabi Ibrahim dan nabi Ismail.

Semangat inilah yang setidaknya harus dihadirkan. Semangat meraih sebanyak-banyaknya pahala Alloh dan semangat mengejar sebanyak-banyaknya keridhoan Alloh. Bukan daging dan darah hewan qurban saja yang akan sampai pahalanya disisi Alloh SWT, namun manifestasi ketaqwaan yang selalu hadir dalam setiap momentum kebaikan dan amal shaleh yang akan semakin meninggikan derajat kita disisi Alloh SWT.

Ibadah Qurban hukumnya sunnah muakkadah. Artinya sebuah syariat yang sangat dianjurkan untuk ditunaikan oleh setiap hamba. Tidak sampai wajib, namun tentu menunaikan ibadah ini akan mendapatkan posisi terbaik dihadapan Alloh SWT. Rasululah Saw bersabda :

أخبرنا الحسن بنl عن أبي هريرة رضي الله عنه ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « من وجد سعة لأن يضحي فلم يضح ، فلا يحضر مصلانا »

“Dari Abi Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: Siapa yang memperoleh kelapangan untuk berkurban, dan dia tidak mau berkurban, maka janganlah hadir dilapangan kami (untuk shalat Ied).” [HR Ahmad, Daru qutni, Baihaqi dan al Hakim]

Keutamaan Ibadah Qurban

Setiap syariat yang Alloh tetapkan tentu selalu terkandung hikmah dan nilai yang agung. Hal ini menggambarkan keutuhan dan kesempurnaan ajaran islam. Berikut ada beberapa hikmah dari dilaksanakannya ibadah Qurban sebagai bentuk taqarrub kepada Alloh, meneladani jejak nabi Ibrahim, Nabi Ismail serta nabi Muhammad Saw, juga dalam rangka meneguhkan cinta dan pengorbanan dijalan Alloh SWT.

1. Qurban Pintu Mendekatkan Diri Kepada Allah

Sungguh ibadah qurban adalah salah satu pintu terbaik dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagaimana halnya ibadah shalat. Ia juga menjadi media taqwa seorang hamba. Sebagaimana firman Allah surat Al-Maidah ayat 27, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa”.

Berqurban juga menjadi bukti ketaqwaan seorang hamba. Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS:Al Hajj:37)

2. Sebagai bentuk Kepatuhan dan Ketaaan pada Allah

Alloh SWT berfirman :

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكاً لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” [QS: Al Hajj : 34]

3. Menjadi Saksi Amal kita di Hadapan dari Allah

Ibadah qurban mendapatkan ganjaran yang berlipat dari Allah SWT, dalam sebuah hadits disebutkan, “Pada setiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kabaikan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Juga kelak pada hari akhir nanti, hewan yang kita qurbankan akan menjadi saksi.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ ابْنُ نَافِعٍ حَدَّثَنِي أَبُو الْمُثَنَّى عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

“Tidak ada amalan yang dikerjakan anak Adam ketika hari (raya) kurban yang lebih dicintai oleh Allah Azza Wa Jalla dari mengalirkan darah, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dgn tanduk-tanduknya, kuku-kukunya & bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah Azza Wa Jalla sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya.” [HR. ibnumajah No.3117].

4. Membedakan dengan Orang Kafir

Sejatinya qurban (penyembelihan hewan ternak) tidak saja dilakukan oleh umat Islam setiap hari raya adha tiba, tetapi juga oleh umat lainnya. Sebagai contoh, pada zaman dahulu orang-orang Jahiliyah juga melakukan qurban. Hanya saja yang menyembelih hewan qurban untuk dijadikan sebagai sesembahan kepada selain Allah.

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِين

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (qurbanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” [QS: al-An’am : 162-163]

5. Menghidupkan Sunnah Nabi Ibrahim AS

Berkurban juga menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim – ‘alaihis salaam yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail ‘alaihis salaam ketika hari an nahr (Idul Adha).

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خَلَفٍ الْعَسْقَلَانِيُّ حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا سَلَّامُ بْنُ مِسْكِينٍ حَدَّثَنَا عَائِذُ اللَّهِ عَنْ أَبِي دَاوُدَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذِهِ الْأَضَاحِيُّ قَالَ سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ قَالُوا فَمَا لَنَا فِيهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ قَالُوا فَالصُّوفُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ مِنْ الصُّوفِ حَسَنَةٌ

“Berkata kepada kami Muhammad bin Khalaf Al ‘Asqalani, berkata kepada kami Adam bin Abi Iyas, berkata kepada kami Sullam bin Miskin, berkata kepada kami ‘Aidzullah, dari Abu Daud, dari Zaid bin Arqam, dia berkata: berkata para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah, hewan qurban apa ini?” Beliau bersabda: “Ini adalah sunah bapak kalian, Ibrahim.” Mereka berkata: “Lalu pada hewan tersebut, kami dapat apa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu ada satu kebaikan.” Mereka berkata: “Bagaimana dengan shuf (bulu domba)?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu shuf ada satu kebaikan.” [HR. Riwayat Ibnu Majah dalam Sunannya No. 3127]

6. Ibadah Yang Memiliki Nilai dimensi Sosial Ekonomi

Ibadah qurban juga memiliki sisi positif pada aspek sosial. Sebagaimana diketahui distribusi daging qurban mencakup seluruh kaum muslimin, dari kalangan manapun ia, fakir miskin hingga mampu sekalipun.

Sehingga hal ini akan memupuk rasa solidaritas umat. Jika mungkin bagi si fakir dan miskin, makan daging adalah suatu yang sangat jarang. Tapi pada saat hari raya Idul Adha, semua akan merasakan konsumsi makanan yang sama.

Hadits dari Ali bin Abu Thalib,

وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ: { أَمَرَنِي النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنَّ أَقْوَمَ عَلَى بُدْنِهِ, وَأَنْ أُقَسِّمَ لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلالَهَا عَلَى الْمَسَاكِينِ, وَلا أُعْطِيَ فِي جِزَارَتِهَا مِنْهَا شَيْئاً } مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ

”Rasulullah memerintahkan kepadaku untuk mengurusi hewan kurbannya, membagi-bagikan dagingnya, kulit dan pakaiannya kepada orang-orang miskin, dan aku tidak diperbolehkan memberi sesuatu apapun dari hewan kurban (sebagai upah) kepada penyembelihnya.

Khatimah

Hidup didunia penuh dengan pengorbanan, baik dalam rangka meraih ridho Alloh SWT ataupun sebaliknya. Ujian kehidupan datang silih berganti seperti bergantinya siang dan malam. Paket ujian yang datang dari Alloh sudah disertai dengan solusi dan jalan keluarnya. Namun sayang, jarang diantara kita yang menyadari itu semua. Mengorbankan sesuatu karena Alloh, jika tidak dilatih dan dibiasakan maka akan terasa berat dan sulit. Padahal, setiap pengorbanan dijalan Alloh hanya akan menguatkan kemuliaan kita dihadapanNya. Mengorbankan sesuatu karena Alloh, akan menguatkan mental keimanan kita dan menjadi manusia yang selalu siap menghadapi ujian demi ujian kehidupan seberat apapun ujian itu.

Sebelum Alloh meminta kepada kita untuk mengorbankan sesuatu yang lebih besar, belajarlah untuk mengorbankan sesuatu dari hal yang terkecil. Ibadah Qurban merupakan bentuk implementasi dari pengorbanan nyata kepada Alloh. Jika Qurban saja kita masih merasa berat untuk ditunaikan, bagaimana dengan tuntutan pengorbanan yang lebih besar dari itu? Bukankah ujung dari pengorbanan kita adalah ridho, cinta dan surga Alloh? Lalu, kenapa kita masih ragu dan malu untuk sekedar mengorbankan beberapa rupiah kita dijalan Alloh SWT? Kembalilah kejalan Alloh. Jadikan Qurban kita wujud peduli kita kepada sesama. Wujud berbagi yang nyata untuk kaum dhu’afa.






Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.