Oleh : H. Deni Mardiana, Lc (Dewan Pengawas Syariah Indonesia Berbagi Foundation)

Ramadhan tahun ini segera berakhir, tinggal tersisa beberapa hari saja. Jejak-jejak amal ketaatan yang telah kita lewati selama ramadhan semoga menjadi saksi dihadapan Alloh SWT dan dapat mengantarkan kita mendapatkan keridhoan dan ampunanNya. Kelemahan dan ketidakberdayaan iman kita meninggalkan perbuatan maksiat dan mematuhi rambu-rambu ilahi semoga menjadi pelajaran berharga dan mendapatkan pengampunan dan penghapusan dosa dari Alloh SWT.

Ibarat pertandingan sepak bola, kita sudah memasuki babak terakhir dari kompetisi ramadhan tahunan ini. Sudah mulai banyak yang tersisih, sudah banyak yang kalah dibabak penyisihan bahkan tidak sedikit sudah ada yang berani terang-terangan makan disiang bolong didepan orang yang sedang berpuasa. Pemandangan dan kondisi tersebut tentu tidak berlaku bagi kaum muslimin yang mental juaranya kuat. Bagi mereka yang dari awal ramadhan sudah menancapkan niat yang kuat dan tekad yang membara tidak tergoda oleh godaan murahan yang akan meluluhkan semangat mereka. Mereka tetap bersemangat dengan ibadah shaumnya, tetap kokoh berdiri dengan ibadah shalat terawihnya, tetap setia dengan bacaan al-qurannya dan tetap melimpah hatinya dalam berderma dan berbagi kepada sesama. Mereka masih optimis, walaupun dari awal langkahnya tertatih, tapi terus melaju kedepan meraih sebanyak-banyaknya pahala Alloh beserta rahmat dan ampunan-Nya.

Dialah Rasulullah Muhammad Saw, memberikan teladan terbaik dalam meningkatkan interval ketaatan selama ramadhan terutama disepuluh hari terakhirnya. Bukan hanya karena menyiapkan diri menjemput malam sejuta kemuliaan lailatul qadar, namun beliau ingin sekaligus menitipkan pesan kepada umatnya bahwa ramadhan adalah bulan meningkatkan interval ketaatan. Dalam beberapa keterangan hadist, Rasul bahkan mengajak istri-istrinya untuk ikut membersamai dalam meningkatkan kedekatannya kepada Alloh dengan beragam aktifitas amal sholeh yang semakin memuncak semangat mendakinya. Ditempat dan pada suasana itu, Rasul lebih banyak menyendiri di raudhahnya. Mengumpulkan bekal, mengais cinta dan kasih-Nya. Menggenggam erat janji dan kesetiaan untuk tetap berada dijalan-Nya. Menggetarkan langit dengan lantunan dzikir, tilawah dan doa-doa terbaiknya. Beliau Bersimpuh, bersujud dan mengagungkan kebesaran Alloh dalam malam-malamnya yang hening dan panjang.

Aktifitas meningkatkan interval ketaatan disepuluh hari terakhir dibulan ramadhan kemudian diistilahkan dengan I’tikaf. Sebuah penggunaan bahasa yang tepat dan menyiratkan makna yang mendalam. I’tikaf adalah sunnah Rasul, kemudian diteladani oleh para sahabat nabi dan generasi-generasi setelahnya, menjadi aktivitas pelengkap dari perjalanan perwujudan meraih nilai ketaqwaan disisi Alloh SWT. Bagaimana islam menuntun kita dalam menunaikan i’tikaf? Apa syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi agar kita mendapatkan pahala i’tikaf? Lalu apa saja hikmah dari sunnah i’tikaf ini? Insya Alloh akan kita kupas tuntas dibawah ini.

A. Pengertian I’tikaf

I’tikaf menurut bahasa menetap pada sesuatu dan memaksakan/mengikatkan diri berada padanya. Adapun menurut istilah, I’tikaf adalah berdiam diri didalam masjid dengan niat beribadah kepada Alloh, mengikuti ketetapan dan tata cara yang khusus disertai beragam aktivitas ketaatan kepada-Nya dengan meninggalkan aktivitas kesibukan duniawi.

B. Disyariatkannya I’tikaf

Sunnah i’tikaf disyariatkan berdasarkan petunjuk Alquran, Assunnah, Atsar sahabat serta ijma para Ulama. Dalam Alquran Alloh SWT berfirman :

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيْمَ وَإِسْمَاعِيْلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِيْنَ وَالْعَاكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ  (سورة البقرة 125

“Dan kami telah perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: bersihkanlah rumahKu untuk orang-orang yang tawaf, yang beri’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.” (QS Albaqarah: 125)

Dalam ayat yang lain Alloh SWT berfirman :

وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُوْنَ فِي المْسَاَجِدِ( سورة البقرة 187)

Dan janganlah kalian mencampuri mereka (istri-istri kalian) sedang kalian sedang berdiam diri dimasjid (beri’tikaf).” (QS. Albaqarah: 187)

Adapun dalam petunjuk sunnah berdasarkan hadis berikut:“Nabi Saw biasa beri’tikaf pada bulan ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari)

Beri’tikaf hukumnyasunnah, bahkan menjadi sunnah muakkadah di sepuluh terakhir di bulan ramadhan.I’tikaf Bisa menjadi wajib bagi mereka yang sebelumnya pernah bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.

Imam Ibnu Qayyim Al-jauziah menyebutkan bahwa tujuan disyariatkannya I’tikaf adalah agar hati seorang hamba fokus hanya kepada Alloh, terputus dari berbagai kesibukan kepada selain-Nya. Sehingga yang menguasai dan mengendalikan hatinya hanyalah cinta dan dzikir kepada Alloh SWT. Akhirnya tertanam semangat menggapai kemuliaan ukhrowi dan menggapai ketenangan hati sepenuhnya hanya bersama Alloh SWT.

Adapun syarat bagi mereka yang ingin beri’tikaf: muslim/muslimah, baligh dan berakal, berniat untuk beri’tikaf, bersih dari junub haid dan nifas, selalu menjaga wudhu dan dilakukan di dalam masjid (diutamakan masjid jami’), tidak keluar masjid selama beri’tikaf kecuali ada udzur syar’i.

I’tikaf akan menjadi BATAL bila mu’takif (orang yang beri’tikaf) melakukan hal-hal berikut ini: tidak terpenuhinya syarat-syarat beri’tikaf, melakukan hubungan suami-istri (dimasjid), keluar masjid tanpa ada alasan yang diperbolehkan menurut syari’at.

C. Manfaat Melaksanakan I’tikaf

Masing-masing kita bisa merasakan dahsyatnya beri’tikaf. Setidaknya beberapa hal di bawah ini mampu menginspirasi dan memotivasi kita agar terus bersemangat menunaikannya.

1.  Memiliki waktu luang untuk melatih konsentrasi ibadah kepada Alloh

2.  Mengikuti sunnah Nabi Muhammad Rasulullah Saw

3.  Terbiasa melakukan shalat lima waktu berjamaah tepat waktu

4.  Terbiasa meninggalkan kesibukan duniawi agar bisa memenuhi panggilan ilahi

5.  Terlatih untuk meninggalkan kesenangan jasmani sehingga hati lebih khusyu dalam beribadah

6.  Terkondisikan suasana untuk memperbanyak membaca alquran, berdoa, berdzikir dll

7.  Berikhtiar memperbesar peluang mendapatkan malam keutamaan lailatul qadar

8.  Waktu I’tikaf adalah waktu yang sangat tepat untuk bermuhasabah, melakukan pertaubatan kepada Alloh SWT dengan penuh ketundukan dan kesyahduan.

D. I’tikaf dan Menjemput Malam Keberkahan Lailatul Qadar

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, salah satu alasan kuat Rasul meningkatkan interval amal ketataan di sepuluh hari terakhir dengan melaksanakan I’tkaf disebabkan pada waktu-waktu yang istimewa itu Alloh menyediakan malam keutamaan lailatul qadar. Para malaikat Alloh termasuk malaikat jibril akan turun ke dunia dan membersamai para mu’takifin (orang-orang yang beri’tikaf). Kapan terjadinya malam lailatul qadar tidak ada yang mengetahui dan Rasul tidak ingin melewatkan malam-malam terakhirnya kecuali berada dala pusaran taatan. Begitu juga rasul ingin mencontohkan kepada umatnya bahwa lailatul qadar itu harus dijemput, harus dipersiapkan dan diseriuskan pelaksanaannya.

Prinsipnya, lailatul qadar itu ada di bulan ramadhan di sepuluh hari terakhir bahkan di malam-malam ganjil. Prinsip selanjutnya, upaya menjemput malam keutamaan harus menjadi agenda utama di malam-malam sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan. Sehingga dengan demikian, I’tikaf adalah upaya manusiawi kita dalam memperbesar mendapatkan peluang lailatul qadar. Orang yang beri’tikaf di sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan saja belum ada jaminan mendapatkan malam lailatul qadar, apalagi bagi mereka yang melalaikan dan tidak mementingkan di malam-malam tersebut dengan beragam aktivitas ketaatan.

Oleh karena itu, amat sangat merasa butuh melaksanakan I’tikaf bagi mereka yang ingin mendapatkan keutamaan dari Alloh SWT. Begitu pula bagi mereka yang ingin mendapatkan ampunan Alloh SWT hendaknya tidak melewati malam-malam terakhir ramadhan dengan kelalaian dan kesia-siaan. Dalam sebuah hadis shahih Rasulullah Saw bersabda:“Barangsiapa yang menghidupkan malam lailatul qadar didasari iman kepada Alloh dan mengharapkan pahala dari Alloh, maka Alloh akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu.” (HR. Muslim)

Tidak ada kepastian kapan terjadinya malam lailatul qadar. Inilah yang menjadi kekuatan tersendiri bagi rasul untuk menjemputnya setiap malam di malam-malam sepuluh hari terakhir dibulan ramadhan. Walaupun demikian, ada isyarat yang disampaikan oleh rasulullah Saw tentang hal ini dari dua hadis berikut ini :

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ اْلقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ (رواه البخاري)

“Carilah lailatul qadar dimalam ganjil dari sepuluh malam terakhir dibulan ramadhan.” (HR. Bukhori)

إِلْتَمِسُوْهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي تَاسِعَةٍ , فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى , ِ فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى (رواه البخاري)

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan ramadhan pada sembilan, tujuh dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhori)

Dari dua redaksi hadis di atas kita bisa melihat bahwa optimalisasi menjemput lailatul qadar harus dilakukan setiap malam, terutama di malam-malam ganjil. Sehingga tidak ada alasan menunda bahkan menantikan upaya maksimal menjemput lailatul qadar karena isyarat Rasul sangatlah jelas baik lewat hadis qauliyah beliau maupun hadis fi’liyyah beliau.

Selamat menunaikan I’tikaf. Semoga Alloh menganugrahkan kelezatan iman kepada kita selama melaksanakan I’tikaf. Semoga Alloh mengganti iman kita dengan iman yang baru, agar dengan iman yang baru itu kita mampu memikul beban amanah yang semakin berat, agar langkah perjuangan dakwah terasa ringan dan terasa nikmat. Selamat menunaikan I’tikaf, semoga kebersamaan dan kemesraan dengan Alloh selama beri’tikaf memberikan kesan mendalam bagi perjalanan kehidupan ruhiyyah kita setidaknya pada sebelah bulan yang akan datang. Semoga Alloh berkahi, semoga Alloh ridhoi. Wallohu A’lam.

*Foto: findmessages.com


Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.