Oleh: H. Deni Mardiana, Lc 
(Dewan Pengawas Syariat Indonesia Berbagi) 

Pengantar 
Bulan Sya’ban adalah bulan yang ditunggu kehadirannya oleh seluruh kaum muslimin di dunia, disebabkan ia menjadi gerbang menuju datangnya bulan Ramadhan. Bulan yang disebutkan Rasul dalam hadits-haditsnya sebagai bulan yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia. Bulan Sya’ban pun dikenal sebagai bulan yang menjadi saksi diangkatnya amal catatan manusia kehadapan Alloh. Di bulan ini pun ternyata Rasulullah memperbanyak frekuensi amalan shaum sunnahnya, bahkan menurut riwayat Aisyah, Rasulullah seolah-olah melaksanakan saum sunnah tersebut di seluruh hari di bulan Sya’ban ini sebagai gambaran betapa banyak dan seringnya Rasul berpuasa sunnah di bulan ini. 

Tentu bagi kita semua, kehadiran bulan Sya’ban tahun ini menjadi kesan tersendiri. Ditengah musibah virus corona yang sedang melanda bangsa ini, ditengah informasi dan berita yang disuguhkan setiap hari tentang masalah ini menambah kegetiran dan kekhawatiran kita semua. Kewaspadaan terus kita tingkatkan dalam menghadapi musibah ini. Doa-doa terbaik harus terus kita lantunkan kepada Alloh sebagai ikhtiar yang diperintahkan oleh Alloh dan disunnahkan Rasul-Nya. Upaya muraqabah kepada-Nya pun tidak luput dari perhatian kita semua hari-hari ini sebagai langkah strategis menjemput perlindungan dan penjagaan dari-Nya. Dalam situasi dan kondisi seperti ini tentu kita tidak dibolehkan untuk terus meratapi musibah atau bahkan panik tak terkontrol, justru seharusnya dengan datangnya bulan Sya’ban harus menjadi motivasi berlipat bagi kita semua agar kita mempersiapkan diri sebaik mungkin menjemput kedatangan Ramadhan yang tinggal menghitung hari ini. 

Bulan Sya’ban sekali lagi harus bernilai positif bagi perubahan pola pikir kita semua. Tentu dengan kembali membuka lembaran-lembaran tuntunan Islam dan tuntunan sunnah Rasulullah saw di bulan ini. Dengan adanya musibah mewabahnya virus corona ini, tidak lantas kita bersikap khawatir berlebihan. Justru dengan adanya bulan Sya’ban, seharusnya mengalihkan perhatian kita sehingga fokus kita hanya menyiapkan mentalitas termasuk ilmu menjelang datangnya bulan Ramadhan ini. Memang benar setiap tahun kita diberi kesempatan beribadah shaum di bulan Ramadhan, namun tidak salahnya kita terus mengupgrade kualitas keilmuan dan mentalitas kita sehingga Ramadhan dari tahun ke tahun mampu menghadirkan perubahan demi perubahan ke arah yang lebih baik. 

Pengertian Sya’ban 
Dalam kitabnya Ma dza Fi Sya’ban, Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki menjelaskan banyak riwayat yang menjelaskan tentang keagungan dan keutamaan bulan Sya’ban, termasuk diantaranya mengapa bulan ini dinamakan bulan Sya’ban. 

Sayyid Muhammad mengutarakan beberapa pandangan ulama’ mengenai asal usul kata “Sya’ban” sekaligus makna yang terkandung di dalamnya sebagaimana kami kutip di bawah ini: 

وسمي شعبان لأنه يتشعب منه خير كثير، وقيل معناه شاع بان، وقيل مشتق من الشِعب (بكسر الشين) وهو طريق في الجبل فهو طريق الخير، وقيل من الشَعب (بفتحها) وهو الجبر فيجبر الله فيه كسر القلوب، وقيل غير ذلك. 
Artinya, “Bulan ini dinamai dengan sebutan Sya‘ban karena banyak cabang-cabang kebaikan pada bulan mulai ini. Sebagian ulama mengatakan, Sya‘ban berasal dari Syâ‘a bân yang bermakna terpancarnya keutamaan. Menurut ulama lainnya, Sya‘ban berasal dari kata As-syi‘bu (dengan kasrah pada huruf syin), sebuah jalan di gunung, yang tidak lain adalah jalan kebaikan. Sementara sebagian ulama lagi mengatakan, Sya‘ban berasal dari kata As-sya‘bu (dengan fathah pada huruf syin), secara harfiah bermakna ‘menambal’ di mana Allah menambal  dan menutupi kegundahan hati (hamba-Nya) di bulan Sya’ban. Ada pula ulama yang memahami bulan ini dengan makna selain yang disebutkan sebelumnya”. 

Dalam keterangan lain disebutkan bahwa dinamakan bulan Sya’ban karena pada waktu itu orang-orang berkelompok, maksudnya berkelompok dalam mencari air karena mulai mengalami kesulitan mendapatkan air di waktu itu. Orang-orang Arab ketika menamai nama-nama bulan, biasanya dihubungkan kepada kondisi dan situasi yang dialami pada sama itu. Sama halnya seperti nama Ramadhan, nama itu diambil dari kondisi yang dialami bangsa Arab karena mereka merasakan kondisi yang sangat panas. 

Terlepas dari perbedaan pendapat di atas, bulan Sya’ban memang bulan yang menyimpan kesan mendalam bagi nabi dan salafussholeh terdahulu. Sehingga sudut pandang memahami penamaan bulan ini pun beragam dan banyak variasinya. Oleh karena itu, ungkapan berikut ini bisa menjadi penutup dari perbedaan sudut pandang tentang penamaan bulan ini. Ada pernyataan sangat baik sekali yang dikatakan Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki dalam kitabnya Ma Dza Fi Sya’ban berkaitan dengan mengagungkan bulan Sya’ban ini, juga bulan-bulan lainnya. 

اننا لا نعظم الزمان لأنه زمان ولا المكان لأنه مكان لأن هذا عندنا من الشرك. ولكن ننطر لما هو أعلى من ذلك وأعظم……..وانما ننظر اليها من حيث مقامها ووجاهتها وجاهها ورتبتها وشرفها… 
Artinya: “Kami tidak mengagungkan zaman (bulan) karena semata zaman tersebut, dan tidak pula mengagungkan tempat karena hanya semata tempat itu. Bagi kami hal itu bagian dari perbuatan syirik. Tetapi kami melihat yang lebih besar dan agung dari itu semua. Kami melihat (mengagungkan) dari sisi kedudukan, dan kemulian zaman (bulan) dan tempat tersebut.” 


Keutamaan Bulan Sya’ban 
Ada beberapa hadits shahih yang menunjukkan keistimewaan di bulan Sya’ban, diantara amalan tersebut adalah memperbanyak puasa sunnah selama bulan Sya’ban. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan, 

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم حتى نقول لا يفطر، ويفطر حتى نقول لا يصوم، فما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم استكمل صيام شهر إلا رمضان، وما رأيته أكثر صيامًا منه في شعبان"،   

“Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakan, ‘Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: ‘Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim) 

Dalam riwayat lain Aisyah pernah mengatakan, 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَفَّظُ مِنْ هِلَالِ شَعْبَانَ مَا لَا يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ، ثُمَّ يَصُومُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ، عَدَّ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، ثُمَّ صَامَ 

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian terhadap hilal bulan Sya’ban, tidak sebagaimana perhatian beliau terhadap bulan-bulan yang lain. Kemudian beliau berpuasa ketika melihat hilal Ramadhan. Jika hilal tidak kelihatan, beliau genapkan Sya’ban sampai 30 hari.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i dan sanad-nya disahihkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth) 

Beberapa hadits di atas merupakan dalil yang menunjukkan keutamaan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban, melebihi puasa di bulan lainnya. Dan Rasulullah sudah memberikan teladan akan hal tersebut. Para ulama berselisih pendapat tentang hikmah dianjurkannya memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, mengingat adanya banyak riwayat tentang puasa ini. Pendapat yang paling kuat adalah keterangan yang sesuai dengan hadits dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya: “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ 

“Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rabb semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.” (HR. An-Nasa’i, Ahmad, dan sanadnya dihasankan Syaikh Al Albani) 

Intinya, bulan Sya’ban adalah bulannya puasa sunnah, sebagai warming up menyambut datangnya bulan Ramadhan dimana pada bulan tersebut ada kewajiban menjalankan ibadah puasa. Warming up inilah yang menjadi sinyal kuat mengapa Rasul melakukan puasa sunnah lebih banyak di bulan ini. Selain itu, riwayat yang menyebutkan bahwa bulan Sya’ban merupakan bulan diangkatnya amal hamba kehadapan Alloh menjadi alasan lain mengapa di bulan ini kita mesti meningkatkan frekuensi ibadah dan amal ketaatan kita kepada Alloh. 

Adapun berkaitan dengan amalan di malam Nisfu Sya’ban, para ulama berselisih pendapat tentang status keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Setidaknya ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. 

Pendapat pertama, tidak ada keutamaan khusus untuk malam Nishfu Sya’ban. Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban adalah hadits lemah. Al Hafidz Abu Syamah mengatakan: Al Hafidz Abul Khithab bin Dihyah –dalam kitabnya tentang bulan Sya’ban– mengatakan, “Para ulama ahli hadits dan kritik perawi mengatakan, ‘Tidak terdapat satupun hadis shahih yang menyebutkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban’.” (Al Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, Hal. 33) 

Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga mengingkari adanya keutamaan bulan Sya’ban dan Nishfu Sya’ban. Beliau mengatakan, “Terdapat beberapa hadits dhaif tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban, yang tidak boleh dijadikan landasan. Adapun hadits yang menyebutkan keutamaan shalat di malam Nishfu Sya’ban, semuanya statusnya palsu, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadits).” (At Tahdzir min Al Bida’, Hal. 11) 

Sementara riwayat yang menganjurkan ibadah khusus pada hari tertentu di bulan Sya’ban untuk berpuasa atau qiyamul lail, seperti pada malam Nisfu Sya’ban, hadisnya lemah bahkan palsu. Diantaranya adalah hadits yang menyatakan, 

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ 

“Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban, maka lakukanlah qiyamul lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berkata, ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia. Adakah demikian dan demikian?’ (Allah mengatakan hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah: 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman: 3/378) 

Hadits ini statusnya hadis maudhu’/palsu, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Ibnu Abi Sabrah yang tertuduh berdusta, sebagaimana keterangan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam at-Taqrib. Imam Ahmad dan gurunya (Ibnu Ma’in) berkomentar tentangnya, “Dia adalah perawi yang memalsukan hadits.”[Silsilah Dha’ifah, no. 2132.] 

Mengingat hadits tentang keutamaan menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dan berpuasa di siang harinya tidak sah dan tidak bisa dijadikan dalil, maka para ulama menyatakan hal itu sebagai amalan bid’ah dalam agama. [Fatawa Lajnah Da’imah: 4/277, fatwa no. 884.] 

Pendapat kedua, terdapat keutamaan khusus untuk malam Nishfu Sya’ban. Pendapat ini berdasarkan hadits shahih dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibn Majah, At Thabrani, dan dishahihkan Al Albani) 

Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syaikhul Islam mengatakan, “…pendapat yang dipegangi mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Madzhab Hambali adalah meyakini adanya keutamaan malam nishfu Sya’ban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadits yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para sahabat dan tabi’in…” (Majmu’ Fatawa, 23:123) 

Ibnu Rajab mengatakan, “Terkait malam Nishfu Sya’ban, dulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya, mereka memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu…” (Lathaiful Ma’arif, Hal. 247) 

Dua pendapat yang seolah bertolak belakang ini menjadikan kita bingung untuk mengambil keputusan antara mengambil pendapat pertama atau pendapat kedua. Hemat penulis, saat kita dihadapkan kepada dua pendapat yang bertentangan satu sama lain, kita bisa mengambil sikap al-jam’u baina huma. Artinya kita mengambil pendapat yang berada diantara dua pendapat di atas. Tidak menyepelekan malam Nisfu Sya’ban, tidak juga bersikap berlebihan melakukan beberapa amalan yang jelas-jelas tidak ada tuntunan dari Rasulullah saw. Artinya kita tetap melakukan berbagai amal sholeh di malam itu bahkan meningkatkan intensitas kualitasnya dengan harapan kita mendapatkan keberkahan dari malam tersebut. Wallohu A’lam bisshowab. 

Kebiasaan Salafussholeh di Bulan Sya’ban 
Tentu kita pun ingin mengetahui bagaimana generasi salafussoleh terdahulu memperlakukan bulan Sya’ban ini. Dengan harapan tentunya kita bisa meneladani mereka dan menjadikan rujukan dalam beramal sholeh di bulan ini selain rujukan utama tentunya dari Rasulullah saw. 

Imam Ibnu Rajab Al-hambali rahimahulloh mengatakan : “Kami menerima riwayat dengan sanad dhaif dari Anas ra yang mengatakan bahwa ketika masuk bulan Sya’ban umat islam tertunduk fokus pada mushaf Al Quran. Mereka menyibukkan diri dengan tadarrus dan mengeluarkan harta mereka untuk membantu kelompok dhu’afa dan orang-orang miskin dalam menyambut bulan Ramadhan.” ( Lihat Sayyid Muhammad Bin Alwi bin Abbas  Al-maliki, Madza Fi Sya’ban? Cetakan pertama, 1424 H, halaman 44) 

Salamah bin Kuhail dan Hubaib bin Tsabit mengatakan: “Bulan Sya’ban adalah bulan orang-orang membaca alquran. Adapun Amr bin Qais jika ia memasuki bulan Sya’ban, ia menutup tokonya dan fokus untuk membaca Al Quran. 

Beberapa paparan di atas kiranya memberikan sinyal yang kuat bahwa kita mesti memanfaatkan bulan ini dengan persiapan mentalitas yang kuat dan meningkatkan rutinitas ibadah yang lebih sering dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Memperbanyak puasa sunnah, memperbanyak baca Al Quran, memperbanyak infaq dan sedekah serta memperbanyak shalawat di bulan ini menjadi beberapa amalan rujukan yang mesti kita perhatikan diluar amalan sholihan yang lainnya. 

Penutup 
Ramadhan masih beberapa hari lagi namun harum semerbaknya sudah mulai tercium dari sekarang. Keharuman Ramadhan tahun ini memang agak sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya,  karena adanya wabah virus corona yang melanda. Bagi orang-orang beriman, tentu dengan adanya wabah ini tidak mengurangi keseriusan mereka menyambut datangnya bulan Ramadhan. Sambil bersabar menunggu berakhirnya wabah virus ini, di hari-hari ini nampaknya kita harus terus memperkuat hubungan dengan Alloh. Tidak ada lagi aktivitas yang paling disukai dan disunnahkan Rasulullah untuk memperkuat hubungan dengan Alloh selain melakukan perintah Alloh dan mejauhi larangan-Nya. Wallohu a’lam.


Gambar: pixabay.com

Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.