Oleh: H. Deni Mardiana, Lc. (Dewan Pengawas Syariat Indonesia Berbagi Foundation)

Sikap Orang Munafik di Perang Tabuk

Perang tabuk membuka tabir kemunafikan penduduk madinah yang selama ini tertutup. Adalah Jadd bin Qais, datang menemui Rasulullah dan berkata: Wahai Rasulullah, berilah izin kepadaku untuk tidak beperang dan jangan engkau jerumuskan aku ke dalam fitnah. Sesungguhya aku tidak kuat menahan nafsu ketika melihat wanita-wanita berkulit kuning (wanita romawi), jika aku bertemu mereka aku khawatir fitnah menimpa kepadaku. Rasul kemudian memalingkan wajahnya sambil berkata: “Aku mengizinkanmu.” Sikap Jadd ini kemudian diabadikan dalam surat At-taubah ayat 49. Lalu,datang pula sekelompok orang menemui Rasul dan meminta izin untuk tidak ikut berperang. Rasul pun mengizinkan mereka, namun sikap Rsul tersebut diperingatkan oleh Alloh. Sebagaimana yang disampaikan dalam surat At-taubah ayat 43:

“Alloh memaafkanmu (Muhammad), mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar (berhalangan) dan sebelum engkau engkau mengetahui orang-orang yang berdusta?

Adalah rumah Suwailim, rumah milik seorang yahudi yang dijadikan tempat berkumpulnya orang-orang munafik dalam merencanakan konspirasi menghalangi dakwah Nabi.Tersiar kabar kepada Nabi, bahwa mereka sedang berkumpul disana. Rasul kemudian mengutus seorang sahabat untuk membakar rumah Suwailim. Terbakarlah rumah Suwailim berserta isinya termasuk kaum munafikin. Inilah Manhaj Nabawi yang agung yang menunjukkan sikap tegas terhadap kaum munafikin yang selalu menebar fitnah dan memprovokasi yang lain untuk tidak berjuang bersama Rasulullah Saw. Ada juga Abdullah bin Ubay bin Salul, yang berkilah tidak ikut perang tabuk dikarenakan ketinggalan. Terucap pembelaan dari kaum munafikin yang tertinggal setelah Rasul kembali dari perang tabuk. Mereka berkata: “Seandainya kami mampu –wahai orang kaum muslimin- untuk berangkat berjihad di Tabuk tentulah kami akan keluar. Kami tertinggal untuk berangkat bersama kalian karena terpaksa.Sebab kami memiliki alasan yang kuat yang menyebabkan kami tertinggal.”

Sikap dan respon kaum munafikin terhadap ajakan jihad menjadikan mereka menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan. Alloh mengecam mereka dengan firman-Nya: Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Alloh mengetahui bahwa mereka benar-benar orang yang berdusta. (QS Attaubah : 42). Ibnu Asyur berkata: Mereka bersumpah untuk membinasakan diri mereka sendiri. Mereka menciptakan kemudharatan bagi diri mereka sendiri dengan keimanan yang dusta.

Peristiwa Yang Terjadi Ditengah Perjalanan Menuju Tabuk

Seperti yang telah kita ketahui bersama, perang tabuk adalah perang yang fenomenal. Jauhnya jarak perjalanan, banyaknya jumlah pasukan musuh dan tidak berimbang, logistik yang tidak memadai ditambah sikap kaum munafikin yang memprovokasi kaum muslimin untuk tidak ikut berjihad menjadi tantangan tersendiri bagi Rasul dan para sahabat pada waktu itu. Kondisi tadi sekali lagi tidak menyurutkan langkah kaum muslimin untuk menyeru panggilan jihad. Rasul membakar semangat kaum muslimin dengan mengatakan:

مَنْ جَهَّزَ جَيْشَ الْعُسْرَةِ فَلَهُ الْجَنَّةَ

Barang siapa yang membekali pasukan usrah (pasukan tabuk) maka baginya surga.”

Alloh pun menguatkan mental mereka dengan firman-Nya:

“Berangkatlah kamu, baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Alloh. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS At-taubah: 41)

Berangkatlah 30.000 orang dari kalangan Muhajirin, Anshar dan penduduk Mekkah serta kabilah Arab lainnya menuju tabuk. Jumlah yang belum pernah ada selama rentang perjalanan peperangan Rasul dan para sahabat. Adalah Abu Dzar Al-ghifari, seorang sahabat Nabi yang ketinggalan rombongan disebabkan untanya yang berjalan sangat lamban. Rasul mengetahui peristiwa ini. Beliau bersabda: Biarkan dia. Jika pada dirinya terdapat kebaikan, maka Alloh akan menyusulkannya kepada kalian. Jika tidak, Alloh akan meringankan kalian darinya.”

Abu Dzar pun berangkat sendiri sambil memikul perbekalan dan menelusiri jejak kaki rombongan kaum muslimin yang sudah berangkat terlebih dahulu. Ketika tiba di suatu tempat persinggahan, ada seorang sahabat yang melihat pejalan kaki perjalan sendirian. Ia berasumsi berasumsi bahwa orang itu adalah Abu Dzar. Dikabarkanlah kepada Nabi kemudian Nabi berkata: “Semoga Alloh merahmati Abu Dzar. Ia berjalan sendirian, mati sendirian dan akan dibangkitkan sendirian. Dan benarlah sabda Nabi, di saat Abu Dzar meninggal dunia, beliau meninggal sendirian dan hanya ditemani istrinya. Abu Dzar telah memberikan teladan terbaik kepada kita semua. Ia telah menginspirasi kita untuk tidak mengeluh dengan situasi dan kodisi yang ada, bahkan semangat menyeru panggilan jihad beliau buktikan dengan berjalan kaki menuju tabuk.

Ada juga kisah Abu Khaitsamah. Seorang sahabat Nabi yang tertinggal dari rombongan dan hampir saja tergiur dengan urusan duniawi di saat kedua istrinya sudah menyiapkan gubuk untuk ditempati dan memadu kasih didalamnya. Di saat Abu Khaitsamah membuka gubuk tersebut yang siap menyambutnya, ia berkata kepada kedua istrinya: “Sungguh, Rasulullah sedang berada di bawah terik sinar matahari, tiupan angin dan cuaca yang sangat panas. Sedangkan aku, berada disebuah gubuk yang dingin dengan santapan makanan dan ditemani istri-istri yang cantik. Sungguh ini tidak adil!” Akhirnya Abu Khaitsamah pun bergegas pergi menyusul Rasul ke Tabuk. Setibanya di lokasi, Abu Khaitsamah langsung menemui Rasul dan menceritakan keadaan yang dialaminya. Rasul pun bersabda kepadanya: “Ini lebih patut bagimu, wahai Abu Khaitsamah.” Rasul kemudian mendoakan kebaikan kepadanya.

Kisah Abu Khaitsamah menjadi teladan berharga bagi kita. Bahwa orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Alloh. Ia langsung ingat kesalahannya dan langsung menggantinya dengan kebaikan.

Rasul Tiba di Tabuk

Ketika Rasul tiba di Tabuk, beliau tidak mendapati tanda-tanda adanya mobilisasi pasukan Romawi ataupun kabilah Arab. Kurang lebih 20 hari Rasul dan para sahabat berada di Tabuk. Pasukan Romawi enggan keluar menghadapi kaum muslimin dan kabilah Arab penganut agama Kristen pun memilih diam. Singkat cerita, perang Tabuk tidak sampai terjadi pertempuran fisik. Raja dan penguasa di pinggiran wilayah Syam lebih memilih untuk melakukan perjanjian damai dan membayar jizyah. Sebut saja Raja Ailah. Ia mengirimkan hadiah kepada Nabi berupa seekor keledai putih dan sebuah selendang. Ada juga Ukaidir bin Abdul Malik Al kindi –penguasa Daumatul Jandal- yang ditawan oleh Khalid bin Walid hasil ekpedisi pasukan berkuda yang dipimpin beliau ke wilayah tersebut. Saat dibawa dihadapan Rsul, Ukaidir memakai Quba’ (pakaian luar sejenis jubbah). Kaum muslimin terkagum-kagum dengan baju itu sampai Rasul berkata kepada mereka: “Apakah kalian kagum dengan Quba’ ini? Sungguh demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sapu tangan Sa’ad bin Mu’adz di surga lebih baik dari Quba’ ini.”

Selain menerima perjanjian damai dari kedua raja di atas, Rasul menulis surat perjanjian damai kepada setiap penduduk Jarba’, Adzruh, dan Muqina. Isi dari surat ini dimana kalangan arab nashrani wajib untuk membayar jizyah setiap tahun dan tunduk kepada kekuasaan kaum muslimin. Rasulullah juga memisahkan wilayah-wilayah kekuasaan yang ada di sebelah utara jazirah dan mengikat perjanjian damai dengan mereka. Dengan begitu, beliau berhasil mengamankan batas-batas Daulah Islam yang berada di wilayah utara. Begitulah politik Nabawi yang bijaksana. Dengan langkah tersebut, sejatinya Rasul telah memisahkan pengaruh romawi dari wilayah-wilayah kaum muslimin, dan kelak di masa Khulafaurrasyidin wilayah-wilayah tadi menjadi titik tumpu penaklukan Romawi di kemudian hari.

Beberapa Mukjizat Yang Terjadi Pada Perang Tabuk

Di setiap peperangan yang dialami Rasul dan para sahabat, Alloh selalu menurunkan mukjizat-Nya kepada Nabi Muhammad Saw. Beberapa mukjizat yang terjadi itu ialah:

1. Alloh mengirimkan awan karena Nabi berdoa agar dikirim hujan

Hal itu terjadi saat Nabi dan para sahabat melewati Hijr, sebuah perkampungan milik kaum Tsamud. Kaum muslimin kehabisan air di tempat itu dan mengadu kepada Rasulullah Saw. Kemudian Rasul berdoa agar Alloh menurunkan air hujan dan akhirnya turunlah air hujan itu kepada mereka sehingga mereka tidak kehausan dan bisa membawa perbekalan air.

2. Berita Hilangnya Unta Rasul

Ketika Rasul berjalan menuju Tabuk, tiba-tiba untanya hilang. Para sahabat pun segera mencarinya. Tiba-tiba berkatalah seorang munafik bernama Zaid bin Al-lushait. Ia berangkat ke Tabuk dalam rombongan Umarah bin Hazm. Zaid lalu berkata seperti ini: “Bukankah Muhammad mengaku sebagai Nabi dan bisa memberitahukan kepada kalian mengenai berita langit tapi ternyata ia tidak tahu dimana untanya berada.” Mendengar ungkapan tersebut Rasul pun kemudian besabda: “Demi Alloh, aku tidak tahu apa-apa kecuali yang diajarkan Alloh kepadaku. Sungguh Alloh telah menunjukkan dimana unta itu berada. Unta itu ada di sebuah lembah dijalan ini dan itu. Tali kekang unta itu tersangkut di sebuah pohon. Pergilah kalian hingga mendapatkan untaku.” Para sahabat pun mencari unta tersebut dan menemukan unta di sebuah lembah sesuai arahan dari Nabi Muhammad Saw. Umarah merasa kesal dengan sikap Zaid bin Al-lushait. Ia pun mengusir Zaid dari rombongannya karena telah bersikap tidak sopan dihadapan Rasulullah Saw.

3. Memancarnya air di mata air Tabuk dan berita mengenai kesuburan tanah Tabuk

Mu’adz bin Jabal berkata, Rasulullah Saw Bersbda: “Sesungguhnya kalian –insya Alloh- akan sampai di mata air tabuk esok hari. Dan kalian tidak akan sampai disana sehingga siang sudah beranjak (waktu dhuha). Barang siapa diantara kalian yang sampai disana maka jangan menyentuh airnya sedikitpun hingga aku tiba.Sesampainya disana sudah ada dua orang yang menyentuh air tersebut. Rasul kemudian mencerca kedua orang tadi disebabkan tidak patuh kepada perintah Rasul. Hal ini juga disebabkan karena mata air itu bagaikan tali sandal yang mengucurkan sedikit air. Setelah itu, Rasul mencuci kedua tangan dan muka beliau lalu mengembalikan air tesebut ke dalam mata air. Tiba-tiba mata air itu memancarkan air yang sangat banyak sehingga semua bisa mendapatkannya. Rasul berkata kepada Mu’adz: “Wahai Mu’adz, sendainya umurmu panjang niscaya engkau akan melihat tempat ini dipenuhi dengan kebun-kebun.”

Sungguh benar sabdanya, Tabuk yang dulu dikenal tandus dan kering, sekarang menjadi wilayah yang dipenuhi pepohonan yang berbuah termasuk pohon kurma.

Nabi dan rombongan perang Tabuk kembali ke Madinah, setelah 20 hari lamanya mereka berada disana. Sesampainya di Madinah, Rasul menyuruh para sahabat untuk menghancurkan masjid dhirar yang dibangun oleh orang-oran munafik. Adalah Abu Amir Ar-rahib, seorang tokoh dari Khazraj yang menjadi aktor utama dibangunnya masjid dhirar yang dibangun berdekatan dengan masjid Quba. Mereka datang menghadap kepada nabi dengan harapan Nabi bisa melakukan shalat di masjid mereka. Tujuannya adalah untuk memperloleh pengukuhan melalui shalat Nabi di dalamnya. Alloh kemudian mengutus Jibril dan mengabarkan tentang masjid dhirar dan niatan para pembangunnya yang hendak menyebarkan kekufuran dan memecah belah kaum muslimin. Rasul pun akhirnya menyuruh para sahabat untuk menghancurkan masjid tersebut.

Inspsirasi Jihad Perang Tabuk

Perang tabuk telah usai. Banyak sekali inspirasi jihad yang mesti kita ambil. Perang yang menjadi pertaruhan kredibilitas kaum muslimin di mata musuh-musuh islam. Ujian kesabaran dan loyalitas perjuangan kaum muslimin menjadi bagian dari rangkaian perjalanan perang ini. Juga terdapat berapa petunjuk syariat seperti memperlakukan kaum munafikin, menyikapi orang-orang yang tertinggal di Madinah, menindak tegas kaum munafikin yang membangun masjid dhirar dan lain sebagainya.

Berikut beberapa inspirasi yang bisa mengantarkan kita kepada pemahaman yang utuh tentang perang Tabuk ini:

1. Petunjuk-petunjuk dari manhaj Al-Quran dalam Perang Tabuk

Ayat-ayat yang Alloh turunkan dalam kitab-Nya yang berkaitan dengan perang ‘usrah (Tabuk) merupakan ayat terpanjang yang diturunkan mengenai peperangan kaum muslimin. Ayat-ayat tersebut diawali dengan membangkitkan motivasi untuk menolak serangan orang-orang nasrani. Lalu tentang hadirnya kesadaran kaum muslimin bahwa Alloh tidak menerima sikap lalai sekecil apapun dalam melindungi dan menolong agama-Nya. Serta tindakan mundur saat menghadapi berbagai kesulitan yang menghambat upaya memerangi Romawi termasuk tindakan munafik bahkan menuju kemurtadan. Surat At-taubah menjadi bukti bagaimana petunjuk demi petunjuk itu disampaikan oleh Alloh kepada Rasul dan kaum muslimin.

2. Praktek Syuro Dalam Perang Tabuk

Rasul mengajarkan praktek syuro dalam perang ini. Beliau menerima saran Abu Bakar untuk berdoa ketika pasukan mengalami kehausan yang sangat. Rasul menerima saran Umar bin Khattab untuk tidak menyembelih unta ketika pasukan dilanda kelaparan. Rasul pun menerima saran Umar yang lain ketika ia menyarankan kepada Rasul untuk tidak melewati perbatasan Syam dan kembali ke Madinah. Semua usulan dari para sahabat diatas menjadi inspirasi bahwa dalam kondisi perang, kita butuh mendapatkan ide dan gagasan dari orang lain, apalagi berkaitan dengan strategi perang.

3. Bersikap Cuek Kepada Kaum Munafikin, Namun Keras Kepada Kaum Muslimin

Disaat Rasul mengetahui bagaimana sikap orang-orang Munafik dalam merespon perintah jihad terutama perang Tabuk, beliau tidak banyak berkomentar. Rasul bahkan membiarkan mereka memilih pilihannya sendiri. Sikap Rasul ini tentu bagian dari hukuman dan kehinaan bagi mereka. Berbeda dengan sikap terhadap kaum muslimin, ketika mereka tertinggal bahkan tidak bisa ikut perang tabuk, Rasul memarahi mereka dan memberikan peringatan keras. Sikap Rasul seperti ini justru karena kecintaan Rasul kepada mereka, dan keinginan Rasul agar mereka segera bertaubat dan memperbaiki kesalahan. Agar dikemudian hari, ketika ada panggilan jihad tidak banyak alasan bahkan mencari-cari alasan untuk tidak ikut andil didalamnya.

Beberapa  sejarawan muslim mencatat poin-pin penting dari perang ini. Jatuhnya pamor Romawi di hati orang-orang Arab sebagai negara adidaya, tegaknya kedaulatan Daulah Islamiyah sebagai kekuatan tunggal di wilayah itu, Jazirah Arab berada dalam kendali dan kekuasaan Rasulullah Saw serta ditetapkannya tahun ke-9 Hijriyyah sebagai ‘Amul Wufud (Tahun Kedatangan para delegasi) disebabkan besarnya jumlah delegasi-delegasi kabilah Arab yang datang ke Madinah dari seluruh penjuru Arab untuk menyatakan keislamannya beserta orang-orang yang ada dibelakang mereka.Wallohu ‘alam.

*Gambar ilustrasi: google.com

Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.