Oleh: H. Deni Mardiana,Lc. (Dewan Pengawas Syariat Indonesia Berbagi Foundation)

Pengantar

Peperangan demi peperangan telah dilalui Rasulullah Saw dan para sahabat. Ujian dan tantangan dalam setiap pertempuran menjadi sumber inspirasi para sahabat untuk tetap mampu menjalani kehidupan sesuai dengan skenario pencipta-Nya dan bersemangat mempersembahkan amall terbaik dihadapan Alloh. Pada setiap pertempuran itupun Alloh menyimpan mutiara hikmah yang luar biasa, mendidik generasi terbaik menuju kemuliaannya didunia danakhirat serta menjadikan setiap kejadian yang mereka alami sebagai landasan syariat dan sunnah hasanah untuk generasii selanjutnya. Tidak ada yang sia-sia dengan setiap kejadian yang dialami rasul dan para sahabat. Semua seolah menjadi laboratorium bagi kesempurnaan syariat Islam sebagai misi utama dari dakwah itu sendiri. Berbahagialah bagi mereka yang selalu mampu mengambil inspirasi jihad dari romantisme perjalanan jihad/perang Rasulullah dan para sahabat.

Perang Tabuk bertabur mutiara hikmah yang luar biasa. Pembuktian keimanan yang diimplementasikan dari istijabah (responsif) kaum muslimin atas seruan jihad yang disampaikan Rasul dengan menginfakkan apa yang mereka miliki. Keterbatasan finansial tidak menghalangi mereka untuk membuktikan semangat jihadnya. Karenanya, keimanan dan kemunafikan tidak mungkin bersatu dalam jiwa seorang mujahid. Alloh mencela dan menghukum kaum muslimin atas sikap kemunafikan mereka di perang ini. Dan hikmah lainnya yang tentu bisa kita ambil setelah kita membaca utuh perang Tabuk ini.

Perang Tabuk, Nama Lain dan Sebab Terjadinya  

Peperangan ini terjadi pada bulan Rajab tahun ke-9 H. Perang ini terkenal dengan nama perang Tabuk, dikaitkan dengan sebuah tempat yang bernama mata air Tabuk. Terletak disebelah utara Hijaz, sejauh 778 mil dari kota Madinah. Tabuk termasuk bagian wilayah kabilah yang tunduk kepada kekuasaan Romawi. Asal penamaan nama ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad Saw:“Kalian besok insya Alloh akan menuju mata air Tabuk. Sungguh kalian tidak akan sampai kesana hingga matahari meninggi. Maka barangsiapa yang telah sampai disana janganlah menyentuh airnya hingga aku sampai.

Perang inipun dinamakan dengan perang ‘Usrah. Hal ini sesuai dengan apa yang disebutkan dalam Al Quran:Sungguh Alloh telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan Anshor yang mengikuti Nabi dalam masa ‘usrah (kesulitan).... (QS At-Taubah: 117). Besarnya kesulitan yang dihadapi kaum muslimin pada saat itu seperti cuaca yang buruk akibat teriknya matahari, jarak tempuh yang sangat jauh, sedikitnya logistik (perbekalan) kaum muslimin, serta minimnya harta yang diinfakkan kaum muslimin untuk perang ini menjadi alasan penamaan perang inii dengan ‘Usrah. Pasukan tentaranya dikenal dengan istilah “Jaisyul ‘Usrah”. Beratnya ujian kaum muslimin pada perang Tabuk tergambar dari kisah Umar bin Khattab, beliau bercerita: “Kami keluar bersama Rasulullah menuju Tabuk dalam cuaca yang sangat terik. Saat kami beristirahat disuatu tempat, kami sangat kehausan sampai-sampaikerongkongan kami akan putus. Hingga seseorang terpaksa menyembelih untanya, membedah perutnya, memeras air yang didalamnya lalu meminumnya.”

Selain dinamakan perang Tabuk dan perang ‘Usrah, perang ini juga dinamakan perang Al-Fadhahah. Imam Azzarqani menyebutkan:“Dinamai demikian karena perang ini menyingkap hakikat orang-orang munafiq, membongkar kedok mereka, menyingkap makar permusuhan dan kedengkian mereka yang tersembunyi, serta membuka jati diri mereka yang keji serta kejahatan yang mereka lakukan kepada Rasulullah dan para sahabat.

Sebab Terjadinya Perang Tabuk

Sebagian sejarawan muslim mengatakan: “Ada cerita yang sampai kepada Nabi Muhammad Saw dari rombongan orang-orang yang datang dengan membawa minyak dari Syam ke Madinah, bahwa orang Romawi tengah menghimpun kekuatan pasukan besar dan bergabung pula bersama mereka pasukan dari kabilah lakhm, judzam, dan selain mereka dari kalangan pemeluk kristen Arab. Tentu persiapan itu dimaksudkan dalam rangka menyerang kaum muslimin di Madinah.

Sedangkan Ibnu Katsir berpendapat bahwa sebab terjadinya perang ini adalah dalam rangka menunaikan kewajiban jihad. Rasulullah bertekad memerangi Romawi karena merekalah yang paling dekat kepada Islam dan juga kaum yang paling utama untuk diajak masuk Islam karena faktor kedekatan tersebut.

Kedua pandangan diatas tidaklah bertentangan. Justru saling menguatkan satu sama lain. Kaum muslimin di Madinah memang sedang menyiapkan diri menghadapi kemungkinan serangan Ghassan dari Syam. Hal ini terungkap dari paparan Umar Bin Khattab, beliau mengatakan: “Telah menjadi perbincangan diantara kami bahwa Ghassan memakaikan ladam pada kuda-kudanya sebagai persiapan untuk memerangi kami.” Ungkapan umar semakin menguatkan bahwa memang penyerangan Romawi terhadap kaum muslimin di Madinah merupakan rencana besar yang telah mereka susun. Sebagai langkah balas dendam atas kekalahan demi kekalahan perang yang telah mereka alami sebelumnya.

Infaq, Jihad dan Pembuktian Iman

Infaq menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan peperangan Rasulullah dan para sahabat. Di dalam perang Tabuk ini, Alloh menguji kaum muslimin Madinah untuk membuktikan keimanan mereka kepada Alloh dan semangat pengorbanan mereka menegakkan kalimatullah. Rasulullah Saw memotivasi para sahabat untuk menginfaqkan hartanya dijalan Alloh. Hebatnya iman para sahabat, mampu memotivasi sahabat yang lain untuk lebih banyak berinfaq dari sahabatnya yang lebih dahulu telah berinfaq. Adalah Utsman bin Affan, menyerahkan 300 ekor unta lengkap dengan muatan dan pelananya untuk membantu persiapan logistik di perang Tabuk. Karena Utsman yang pertama kali menyeru panggilan infaq, Rasul kemudian berkata: “Sesunguhnya tidak akan membahayakanUtsman apapun yang dilakukannya setelah hari ini.”

Berdirilah Umar Bin Khattab. Beliau menyerahkan setengah hartanya untuk diinfaqkan dijalan Alloh. Dengan berinfaq dari setengah hartanya, Umar mengira bahwa beliau bisa mengalahkan Abu Bakar dalam hal berinfaq. Karena selama ini, tidak ada yang sanggup menandingi Abu Bakar dalam hal apapun, termasuk masalah berinfaq. Setelah Umar menyerahkan setengah hartanya, datanglah Abu Bakar dengan membawa seluruh harta yang ia miliki, tanpa ia sisakan sedikitpun untuk istri dan anak-anaknya. Sampai-sampai Rasul heran kemudian bertanya: “Lalu, apa yang kau sisakan untuk keluargamu wahai Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab: “Aku menyisakan Alloh dan Rasul-Nya untuk mereka.”

Sikap dan teladan tiga sahabat mulia diatas dalam berinfaq untuk perang Tabuk semakin memantik semangat para sahabat lainnya. Abdurrahman bin Auf berinfaq sebanyak 2.000 dirham,dan itu adalah setengah dari harta yang ia miliki. Tak ketinggalan, Al-abbas bin Abdul Muthalib, Thalhah bin Ubaidillah, Muhammad bin Maslamah dan Ashim bin Adi, mereka pun menginfakkan harta mereka dengan jumlah yang besar.

Motivasi Rasul untuk berinfaq di perang Tabuk ternyata memantik semangat kaum fakir di Madinah untuk menginfakkan hartanya dijalan Alloh. Mereka merasa malu menginfakkan harta karena jumlah yang sedikit. Ejekan, hinaan dan makian terlontar dari kaum munafik kepada mereka. Adalah Abu ‘Uqail, datang dengan membawa setengah Sha’ kurma. Orang-orang munafik pun berkata: “Sesungguhnya Alloh tidak membutuhkan sedekah ini, dan tidaklah orang ini (Abu ‘Uqail) berinfak melainkan hanyalah riya.” Dari peryataan ini, turunlah ayat Alloh SWT:“Orang munafik yaitu mereka yang mencela orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan sukarela dan mencela orang-orang yang hanya memperoleh (untuk disedekahkan) sesuai kesanggupannya.(QS. At-taubah : 79)

Ada juga Ulbah bin Zaid, seorang fakir yang menangis dalam shalat malamnya disebabkan tidak mampu berinfak. Dalam doanya ia memohon kepada Alloh agar diampuni semua kealfaannya, kemudian bentuk sedekahnya ialah bersedekah kepada kaum muslimin dari semua perbuatan dzalim mereka kepadanya. Rasul pun akhirnya mengabarkan bahwa Alloh mengampuni Ulbah.

Kondisi kaum muslimin yang serba terbatas diatas menjadikan Alloh SWT menurunkan Ayat-Nya untuk menjadi catatan sejarah generasi setelahnya:

“Tidaklah berdosa (karena tidak ikut berperang) atas orang yang lemah, orang yang sakit dan orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan, apabila mereka belaku ikhlas kepada Alloh dan Rasul-Nya. Tidak ada alasan apapun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Alloh Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 91)

Masih banyak kisah inspiratif yang dapat kita temukan dari kesungguhan para sahabat Nabi dalam menyeru panggilan jihad. Keterbatasan mereka, kondisi yang mereka alami, termasuk udzur syar’ii yang menghalangi mereka untuk berangkat jihad tidak menyurutkan langkah dan semangat. Sungguh mulia kedudukan mereka, Nabi Muhammad Saw memuji mereka dengan sebuah ungkapan: “Sesungguhnya di Madinah ada sekelompok kaum, yang tidaklah kalian menempuh perjalanan dan tidaklah kalian menyeberangi lembah kecuali mereka bersama kalian (dalam ganjaran). Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, meskipun mereka di Madinah? Beliau menjawab: meskipun mereka di Madinah karena tehalang oleh Udzur.”(HR. Bukhori)

Bersambung....

*Gambar ilustrasi: google.com

Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.