Oleh: H. Deni Mardiana, Lc (Dewan Pengawas Syariah Indonesia Berbagi Foundation)

Pengantar

Seolah baru kemarin kita berada diawal tahun 2017, tidak terasa hari ini kita sudah memasuki tahun baru 2018. Sebuah kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri dan sulit untuk menghindarinya. Karena pada kenyataannya begitulah hakikat dan tabiat kehidupan didunia. Begitu singkat, cepat dan tidak mungkin akan kembali lagi. Seorang Tabiin bernama Imam Hasan Bashri pernah berkomentar tentang cepatnya kehidupan dunia:

“Wahai anak adam, aku adalah hari yang baru. Aku akan menjadi saksi atas apa yang kamu lakukan dihari itu. Maka dari itu, pergunakanlah aku dengan sebaik-baiknya karena sungguh aku tidak akan pernah kembali sampai hari kiamat “

Pergantian tahun pada hakikatnya tak ubah seperti halnya pergantian hari, menit bahkan detik. Waktunya tetap sama, tempatnya pun masih sama, lakonnya pun tetap sama. Yang beda hanya penggunaan istilahnya saja. Kita sering merasa menyesal saat semua obsesi, keinginan dan cita-cita di tahun 2017 kemarin misalnya belum tercapai, sehingga ditahun ini semua obsesi dan cita-cita itu kembali menjadi resolusi kita. Namun jarang diantara kita yang merasa menyesal saat detik demi detik, menit demi menit bahkan hari demi hari berlalu begitu saja tanpa memiliki kualitas amal dan ketaatan yang mumpuni kepadaNya. Yang terjadi, semua waktu dan kesempatan kita buang percuma tanpa makna, tanpa kata dan tanpa ada cerita. Menyesallah kita, meranalah kita dan semua tersisa tinggal kenangan saja.

Pergantian tahun sejatinya merupakan salah satu tanda kekuasaan Alloh untuk dijadikan pelajaran bagi orang-orang berakal. Alloh SWT berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأًوْلِى الْأَلْبَابِ ( ال عمران : 190 )

Artinya :  

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, serta pergantian siang dan malam merupakan bagian dari tanda-tanda bagi kaum yang berakal“

Pergantian tahun merupakan tanda kekuasaan Alloh, karena tidak seorang pun diantara kita yang kuasa mengatur waktu, mengundurkannya barang semenit saja atau memajukannya barang sedetik saja. Pergantian siang dan malam, perputaran matahari mengelilingi bumi dan berlalunya hari demi hari sungguh merupakan kekuasaan Alloh yang tidak ada seorang pun yang memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Hanya orang-orang yang berakal yang mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang dialaminya, dari setiap apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Maka bermuhasabah yang panjang menjadi agenda kehidupan yang tidak boleh berhenti. Bermuhasabah panjang menjadi bagian dari upaya menghadirkan ketenangan dan kemantapan jiwa dalam menempuh perjalanan yang panjang dari berliku ini.

Urgensi Muhasabah Dalam Kehidupan

Muhasabah merupakan perintah dari Alloh, baik secara tersurat maupun secara tersirat disampaikan dalam alquran. Juga merupakan sunnah rasulullah Saw dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari akhlaq dan kebiasaan para salafussholeh terdahulu. Dalam sebuah hadis yang shahih nabi yang mulia mengajak kita untuk terus melakukan proses muhasabah yang panjang dalam hidup ini adalah sebagai berikut:

قال صلى الله عليه وسلم : الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت والعاجز من إتبع هواه وتمنى على الله التماني (رواه الترمذي)

Artinya :

Rasulullah Saw bersabda: “Oang yang pandai/cerdas itu ialah orang yang senantiasa menghisab (mengevaluasi) dirinya serta selalu beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya selalu mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan kepada Alloh dengan angan-angan yang kosong.” (HR. Tirmidzi)

Dalam konteks urusan kehidupan akhirat, muhasabah sangat penting untuk diperhatikan. Agar kita selalu melakukan tiga hal sekaligus, memeriksa kembali seluruh amalan yang telah dikerjakan, mengecek kembali amalan yang sedang dikerjakan dan melakukan monitoring terhadap apa saja yang akan kita kerjakan dikemudian hari. Hal inilah yang menjadi inti dari pesan di atas. Karena kehidupan akhirat adalah kehidupan abadi, tidak boleh kita mengesampingkannya. Tidak boleh kita mengabaikannya. Hendaknya semua itu menjadi prioritas dan perhatian utama dalam kehidupan kita. Rasulullah Saw pernah mengingatkan kepada kita agar selalu menjadikan akhirat sebagai orientasi utamanya. Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

Artinya :

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”

Adapun dalam konteks urusan kehidupan dunia, muhasabah adalah bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menggapai kesuksesan. Para ahli manajemen mengatakan, ada lima langkah yang harus senantiasa diperhatikan agar kita mampu meraih kesuksesan dalam kehidupan.

a.  Menetapkan visi dan misi

b.  Melakukan perencanaan yang matang

c.  Menetapkan strategi yang tepat

d.  Mengeksekusi semua program yang telah direncanakan

e.  Melakukan evaluasi secara keseluruhan

Dari kelima poin di atas, kita dapat melihat bahwa evaluasi merupakan faktor yang penting untuk menjadi kendali antara target yang telah kita tetapkan dengan strategi dan sasaran program yang menjadi acuan kerja-kerja kita. Tanpa evaluasi, tentu semua target dan sasaran program sulit untuk diukur dan dinilai tingkat keberhasilan dan ketercapaiannya. Kelima poin di atas menjadi mata rantai yang saling menguatkan satu sama lain bahkan semua harus menjadi prioritas perhatian kita jika kita mengharapkan kesuksesan dalam kehidupan.

Muhasabah menjadi sangat penting dalam kehidupan kita, baik dalam konteks urusan kehidupan dunia apalagi dalam konteks urusan akhirat. Setidaknya ada tiga hal penting kenapa kita harus terus melakukan muhasabah:

1. Meringankan hisaban/perhitungan kelak di akhirat

Dalam sebuah kesempatan, Umar Bin Khattab pernah berkata: “Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian kelak dihisab (di akhirat), dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari ardhul akbar (yaumul hisab). Dan ingatlah bahwa hisabmu itu (di dunia) akan menjadi ringan saat kelak engkau dihisab pada hari kiamat.”  

2. Ciri orang yang bertaqwa

Seorang tabiin yang cukup mahsyur bernama Maimun Bin Mahran R.A mengatakan: “Seorang hamba tidak dikatakan bertaqwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya.”

3. Karena kelak pada hari kiamat, setiap kita akan datang menghadap Alloh SWT dalam kondisi sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatan yang pernah dilakukan selama di dunia.

Alloh SWT berfirman: “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Alloh pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (QS. Maryam: 19)

Penutup

Demikianlah paparan singkat yang bisa penulis sampaikan. Refleksi awal tahun dengan bermuhasabah merupakan langkah awal menuju kesuksesan demi kesuksesan yang akan kita raih dikemudian hari. Bermuhasabah artinya berdamai dengan jiwa-jiwa kita. Berdamai dengan segala permasalahan yang pernah kita  alami dan lalui. Bermuhasabah artinya berdamai dengan ketentuan dan takdir yang telah Alloh tetapkan untuk hidup kita. Bermuhasabahlah sampai Alloh ridho atas apa yang kita kerjakan dan kita ikhtiarkan. Wallohu ‘Alam.

*Gambar ilustrasi: makobar.com

Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.