Oleh: H. Deni Mardiana, Lc (Dewan Pengawas Syariat Indonesia Berbagi Foundation)

Kisah Perang Yarmuk

Dalam rentang waktu berjalan jihad Rasul dan para sahabatnya menegakkan kalimatullah dimuka bumi ini, perang Yarmuk tercatat merupakan perang yang monumental serta dipenuhi dengan hikmah dan pelajaran berharga untuk generasi selanjutnya. Betapa tidak, perang ini merupakan perang yang membuka tabir dan mampu meluluh lantahkan kedigdayaan Romawi sebagai imperium kekuatan besar pada waktu itu. Jumlah pasukan yang sangat tidak berimbang ditambah pasokan persenjataan seadanya tidak menyurutkan semangat dan langkah pasukan kaum muslimin untuk maju ke medan perang. Motivasi mereka hanya syahid dijalan Alloh. Tujuan mereka hanya mardhotillah. Harapan dan cita-cita mereka hanya satu, izzul islam wal muslimin. Perang Yarmuk seolah ingin mengingatkan kita untuk tetap optimis menghadapi segala situasi, sesulit apapun situasi itu dan menjadikan Alloh sebagai sumber kekuatan dan pemberi pertolongan dalam setiap langkah perjuangan. Pertempuran ini  menjadi salah satu pertempuran penting dalam sejarah dunia, karena perang ini menandakan gelombang besar pertama penaklukan Muslim di luar Arab, dan cepat masuknya Islam ke Palestina, Suriah, dan Mesopotamia yang notabene rakyatnya menganut agama Kristen.

Perang Yarmuk terjadi pada masa Khalifah  pertama Abu Bakar Shidiq disebuah kawasan utara sungai Yordan dan berdekatan dengan dataran tinggi Golan, lembah Yarmuk. Terjadi pada tahun ke-13 H atau 634 M dengan kekuatan pasukan yang sangat tidak berimbang. Pasukan Romawi memiliki peralatan perang yang lengkap jauh dibandingkan pasukan kaum muslimin. Pasukan Romawi berjumlah sekitar 240.000 orang sedangkan pasukan kaum muslimin hanya berjumlah 45.000 orang menurut satu sumber atau 100.000 – 400.000 orang untuk pasukan Romawi dan 24.000 – 40.000 orang pasukan muslim menurut sumber yang lain. Perang ini dikategorikan perang monumental karena baru pertama kalinya kaum muslimin menghadapi pasukan musuh dengan jumlah yang sangat banyak, ditambah pasokan logistik, pasukan yang terlatih dan alat persenjataan yang lengkap. Namun sekali lagi, itu semua tidak menjadikan gentar kaum muslimin. Justru menjadi motivasi dan semangat untuk membuktikan kepada dunia bahwa kekuatan sehebat apapun tidak akan mengalahkan kekuatan Alloh Swt. Sadar akan jauhnya kekuatan musuh dengan kekuatan yang dimiliki, menjadikan para pasukan perang terus melakukan konsolidasi ruhiyyah. Malam-malam digunakan untuk beribadah, membaca alquran, qiyamullail, memperbanyak istigfar dan bertaubat kepada Alloh. Disiang harinya mereka maju ke medan laga menghadapi musuh dan menjemput kesyahidannya.

6 Hari Yang Sangat Menentukan

Perang ini menghabiskan waktu sekitar enam hari. Pasukan kaum muslimin bergerak menuju Yarmuk. Sang Khalifah tidak ikut serta pada perang ini. Beliau menunjuk panglima pasukan perang kepada Khalid Bin Walid. Beberapa sahabat senior seperti Abu Ubaidah bin Al-jarrah dan yang lainnya ikut serta dalam barisan pasukan kaum muslimin.  Dalam perjalannya menuju Yarmuk, Khalid tak hentinya beristighfar. Ia sama sekali tidak gentar dengan peperangan yang akan ia hadapi, 240.000 tentara Byzantium Romawi. Ia hanya khawatir tidak bisa mengendalikan hatinya karena pengangkatan itu.

Pasukan kaum muslimin sudah tiba di lembah Yarmuk. Panglima perang khalid bin walid mulai menyusun kekuatan dan mengatur strategi perang. Tentara Byzantium Romawi pun sudah berada di lokasi perang. Pasukan yang terlatih dengan pesenjataan yang lengkap sudah mereka siapkan dalam rangka menghadapi kaum muslimin. Tentara Muslim seluruhnya berjumlah 45.000 orang. Khalid mengatur strategi. Pasukan kaum muslimin dibagi menjadi 40 rombongan besar untuk memberi kesan seolah-olah mereka lebih besar daripada musuh. Sedangkan pasukan Romawi memiliki strategi mengikat 80.000 orang yang diikat dengan rantai untuk  mencegah mundurnya mereka dari pertempuran. Mereka membagi tentaranya menjadi lima bagian, depan, belakang, kanan, kiri dan tengah. Heraclus sebagai panglima tentara Romawi menggunakan taktik dan strategi tetsudo (kura-kura). Jenis tentara Romawi dikenal sebagai ‘legions’, yang satu bagiannya terdapat 3.000-6.000 laskar berjalan kaki dan 100-200 laskar berkuda. Ditambah dengan ‘tentara bergajah’. Lengkap sudah persiapan mereka menggembur pasukan kaum muslimin. Namun, kegigihan Khalid binWalid dalam memimpin pasukannya membuahkan hasil yang membuat hampir semua orang tercengang. Pasukan muslim yang jumlahnya jauh lebih sedikit itu berhasil memukul mundur tentara Romawi dan menaklukkan wilayah itu.

Sebelum terjadi peperangan, Panglima Romawi mengirimkan seorang nasrani untuk menjadi mata-mata dan mengintai persiapan kaum muslimin dalam perang Yarmuk. Ia tinggal bersama pasukan kaum muslimin sehari semalam. Setelah selesai memata-matai, nasrani tadi kembali ke pasukannya dan berceritalah bagaimana keadaan pasukan kaum muslimin:“Mereka adalah kelompok yang selalu mengisi malam-malamnya dengan shalat. Disiang hari mereka berpuasa. Menganjurkan kebaikan dan melarang keburukan. Mereka lebih giat beribadah dimalam hari daripada disiang hari. Jika ada yang mencuri, maka mereka akan dipotong tangannya. Jika ada yang berzina, mereka akan dirajam. Mereka  berusaha untuk tidak menuruti hawa nafsu mereka.

Panglima Romawi, Gregorius Theodore ingin menghindari jatuhnya banyak korban. Ia menantang Khalid untuk berduel. Dalam pertempuran dua orang itu, tombak Gregorius patah terkena sabetan pedang Khalid. Ia ganti mengambil pedang besar. Ketika berancang-ancang perang lagi, Gregorius bertanya pada Khalid tentang motivasinya berperang. Dengan lantang khalid menjawab: “Motivasiku dalam berperang hanyalah Allah.” Mendengar jawaban Khalid, dihadapan ratusan ribu pasukan Romawi dan Muslim, Gregorius bersyahadat dan menyatakan diri masuk Islam. Ia kemudian bergabung dan belajar Islam sekilas serta sempat menunaikan salat dua rakaat. Gregorius lalu bertempur di samping Khalid dan  bergabung bersama pasukan kaum muslimin.Ia kemudian mati syahid di tangan bekas pasukannya sendiri. Pada perang Yarmuk ini, Az-Zubair bertarung dengan pasukan Romawi, namun pada saat tentara muslim bercerai berai, beliau berteriak: “Allahu Akbar!” Kemudian beliau menerobos ke tengah pasukan musuh sambil mengibaskan pedangnya ke kiri dan ke kanan. Keberanian Zubair memotivasi kaum muslimin untuk ikut mengibaskan pedangnya menghadapi musuh dihadapan.

Tidak terasa perjalanan perang sudah memasuk hari keempat. Ada kisah yang mereka sebut sebagai hari hilangnya mata. Peristiwa ini terjadi saat sekitar 700 orang dari pasukan Muslim kehilangan matanya karena hujan panah dari tentara Romawi.

Hari keenam dari perang Yarmuk fajar benderang dan jernih. Itu adalah minggu ke-empat Agustus tahun 636 M (minggu ketiga Rajab, 15 H). Kesunyian pagi hari tidak menunjukkan pertanda akan bencana yang akan terjadi berikutnya. Pasukan muslim saat itu merasa lebih segar. Harapan-harapan pada hari itu menenggelamkan semua kenangan buruk pada “Hari Hilangnya Mata”. Dihadapan mereka berbaris pasukan Romawi yang gelisah – tidak terlalu berharap namun tetap berkeinginan untuk melawan dalam diri mereka. Seiring dengan naiknya matahari di langit yang masih samar di Jabalud Druz, Gregory, komandan pasukan yang dirantai, mengendarai kudanya maju ke depan di tengah-tengah pasukan Romawi. Dia datang dengan misi untuk membunuh komandan pasukan Muslimin dengan harapan hal itu akan memberikan efek menyurutkan semangat pimpinan kesatuan dan barisan kaum Muslimin. Ketika ia mendekati ke tengah-tengah pasukan Muslimin, dia berteriak menantang (untuk berduel) dan berkata: ”Tidak seorang pun kecuali Komandan bangsa Arab!”

Abu Ubaidah seketika bersiap-siap untuk menghadapinya. Khalid dan yang lainnya mencoba untuk menahannya, karena Gregory memiliki reputasi sebagai lawan tanding sangat kuat. Semuanya merasa bahwa akan lebih baik apabila Khalid yang keluar menjawab tantangan itu, namum Abu Ubaidah tidak bergeming. Ia berkata kepada Khalid:“Jika aku tidak kembali, engkau harus memimpin pasukan, sampai Khalifah memutuskan perkaranya.”

Kedua komandan berhadap-hadapan di atas punggung kudanya masing-masing, mengeluarkan pedangnya dan mulai berduel. Keduanya adalah pemain pedang yang tangguh dan memberikan penonton pertunjukkan yang mendebarkan dari permainan pedang dengan tebasan, tangkisan dan tikaman. Pasukan Romawi dan Muslim menahan nafas. Kemudian setelah berperang beberapa menit, Gregory mundur dari lawannya, membalikkan kudanya dan mulai menderapkan kudanya. Teriakan kegembiraan terdengar dari pasukan Muslimin atas apa yang terlihat sebagai kekalahan sang prajurit Romawi, namun tidak ada reaksi serupa dari Abu Ubaidah. Dengan mata yang tetap tertuju pada prajurit Romawi yang mundur itu, ia menghela kudanya maju mengikutinya. Gregory belum beranjak beberapa ratus langkah ketika Abu Ubaidah menyusulnya. Gregory, yang sengaja mengatur langkah kudanya agar Abu Ubaidah menyusulnya, berbalik dengan cepat dan mengangkat pedangnya untuk menyerang Abu Ubaidah. Kemundurannya dari medan pertempuran adalah tipuan untuk membuat lawannya lengah. Namun Abu Ubaidah bukanlah orang baru, dia lebih tahu mengenai permainan pedang dari yang pernah dipelajari Gregory. Orang Romawi itu mengangkat pedangnya, namun hanya sejauh itu yang dapat dilakukannya. Ia ditebas tepat pada batang lehernya oleh Abu Ubaidah, dan pedangnya jatuh dari tangannya ketika dia rubuh ke tanah. Untuk beberapa saat Abu Ubaidah duduk diam di atas kudanya, takjub pada tubuh besar jendral Romawi tersebut. Kemudian demgan meninggalkan perisai dan senjata yang berhiaskan permata orang Romawi itu, yang diabaikannya karena kebiasaannya tidak memandang berharga harta dunia, prajurit yang shalih itu kemudian kembali kepada pasukan Muslimin.

Peran Kaum Wanita Dalam Perang Yarmuk

Juwariah binti Abi Sufyan mendapatkan kesyahidannya di perang ini. Asma binti Yazid dan kaum muslimah lainnya pun tak mau ketinggalan ikut berkontribusi atas kemenangan perang Yarmuk. Semuanya berusaha mengerahkan segenap kekuatannya untuk mensuplai persenjataan pasukan laki-laki. Memberi minum kepada mereka, mengurus mereka yang terluka, dan mengobarkan semangat jihad mereka.  Ketika peperangan berkecamuk dengan begitu serunya, ia  berjuang sekuat tenaganya. Akan tetapi, dia tidak menemukan senjata apapun, selain tiang penyangga tendanya. Dengan bersenjatakan tiang itulah, dia menyusup ke tengah-tengah medan tempur dan menyerang musuh yang ada di kanan dan kirinya, sampai akhirnya dia berhasil membunuh sembilan orang tentara Romawi.

Ibnu Hajar berkomentar tentang heroiknya kaum muslimah di perang Yarmuk:

”Dia adalah Asma binti Yazid bin As-Sakan yang ikut terjun dalam perang Yarmuk. Pada hari itu dia berhasil membunuh sembilan orang tentara Romawi dengan menggunakan tiang tendanya. Setelah perang Yarmuk ia masih hidup dalam waktu yang cukup lama. Asma keluar dari medan pertempuran dengan luka parah sebagaimana juga banyak dialami pasukan kaum muslimin. Akan tetapi, Allah berkehendak ia tetap hidup dalam waktu yang cukup lama.Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada Asma binti Yazidd bin As-Sakan dan memuliakan tempatnya di sisi-Nya atas berbagai Hadits yang diriwayatkannya dan atas segala pengorbanannya.

Perang Yarmuk dan Itsar yang mengharukan

Setelah perang selesai dan dimenangkan oleh pasukan kaum muslimin, di medan Yarmuk tergeletak beberapa pejuang Islam, sahabat Rasulullah Saw dengan badan penuh luka. Mereka adalah Ikrimah bin Abi Jahal, disekujur tubuhnya tidak kurang ada 70 luka, Al Harits bin Hisyam (paman Ikrimah) dan Ayyasy bin Abi Rabi’ah, dalam riwayat lain Suhail bin ‘Amru. Saat ketiganya sedang letih, lemah, dan kehausan serta dalam keadaan kritis, datanglah seorang yang mau memberikan air kepada salah seorang diantara mereka yang sedang kepayahan. Ketika air akan diberikan kepada Al Harits dan hendak diminumnya, dia melihat Ikrimah yang sedang kehausan dan sangat membutuhkan, maka dia berkata, “Bawa air ini kepadanya!” Air beralih ke Ikrimah putra Abu Jahal, ketika dia hendak meneguknya, dilihatnya Ayyasy menatapnya dengan pandangan ingin minum, maka dia berkata, “Berikan ini kepadanya !” Air beralih lagi kepada Ayyasy, belum sempat air diminum, dia sudah keburu syahid. Maka orang yang membawa air bergegas kembali kepada kedua orang yang membutuhkan air minum, akan tetapi ketika ditemui keduanya juga sudah syahid.

Sebuah pemandangan dan kisah yang langka kita temui. Pembuktian iman dan ukhuwwah terpancar dalam jiwa-jiwa Ikrimah, Al Harist dan Ayyasy. Pelajaran berharga yang tidak mudah untuk ditiru, apalagi ditengah kondisi kritis dan membutuhkan air untuk menyambung kehidupan. Mereka lebih mendahulukan sahabatnya daripada dirinya sendiri. Namun iman mereka mengalahkan ego mereka sendiri. Kecintaan kepada saudara seiman mengalahkan kepentingan sesaat yang hanya menguntungkan dirinya sendiri.

Refleksi Perang Yarmuk

Tidak mudah menghadapi banyaknya jumlah musuh disertai dengan hebatnya persenjataan mereka. Namun, keimanan dan motivasi syahid kaum muslimin mengalahkan ketakutan itu. Mereka tidak gentar menghadapi musuh. Mereka hanya percaya kepada dua hal, hidup mulia atau mati syahid. Kepiawaian dan kejelian mengangkat panglima perang menjadi kunci keberhasilan perang Yarmuk. Khalid menjadi idola dikalangan kaum muslimin. Khalid dielu-elukan bahkan menjadi magnet tersendiri bagi setiap peperangan selanjutnya. Namun Umar bersikap lain, ditengah memuncaknya karir Khalid sebagai panglima perang dan kehebatannya mengatur strategi perang, umar memecat Khalid dari tampuk kepemimpinan sebagai panglima perang. Umar menggantinya dengan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Umar melihat ada sikap berlebihan dikalangan sebagian kaum muslimin pada waktu itu kepada Khalid. Umar tidak mau Khalid didewakan dan seolah peran Khalid-lah kemenangan dari setiap perperangan itu. Keikhlasan Khalid terpancar dari ucapannya saat Umar memecatnya, “Saya berperang bukan untuk Umar. Saya berperang untuk Alloh SWT.”

Perang Yarmuk mengilhami kita untuk melibatkan seluruh kekuatan kaum muslimin terutama perempuan. Kekuatan dan potensi mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Peran mereka terbukti selalu menjadi penentu bahkan pelengkap dari kemenangan beberapa peperangan kaum muslimin. Kaum perempuan selalu menjadi energi ditengah berkecamuknya peperangan.

Kaum muslimin diperang Yarmuk sekali lagi mengajarkan kepada kita bahwa musuh selalu memiliki kekuatan lebih daripada kita. Bahkan lengkap dan sangat mumpuni. Dalam pandangan kasat mata kita, sulit untuk menghadapi hebatnya kekuatan mereka. Perang yarmuk seolah mengulang kembali janji Alloh dalam surat Ali Imron yang berbunyi: Walaupun jumlah pasukan yang sedikit, akan mampu mengalahkan jumlah pasukan yang banyak atas izin Alloh SWT.” Kaum muslimin paham benar dengan ayat ini. Ditengah keterbatasan dan ketersediaan logistik yang seadanya, mereka tidak mengeluh lantas diam tidak berjuang. Mereka segera merubah arah. Mereka segera mengambil kekuatan dari sumbernya. Mereka menguatkan diri dengan sekuat tenaga agar ruhiyyah yang menjadi kekuatan utamanya dalam berperang benar-benar terisi penuh dan mampu melampaui batas-batas ketidak wajaran manusiawi dalam sebuah peperangan. Perang Yarmuk sekali lagi menegaskan, kekuatan dari Alloh dan pertolongan-Nya adalah faktor utama hadirnya kemenangan dalam setiap peperangan. Tanpa itu, kemenangan akan terasa hampa.  Hanya Keangkuhan dan kesombongan yang menghiasi ruang jiwa.

Perang yarmuk menjadi pintu penaklukkan wilayah Syam. Sebuah prestasi dakwah yang luar biasa. Suriah dan Yordania termasuk Palestina menjadi kota selanjutnya yang dibuka dan dimenangkan oleh kaum muslimin. Hal ini seolah menjadi isyarat, bahwa kemenangan yang telah diraih jangan pernah melenakan kita atau bahkan membuat kita jumawa.  Justru harus mampu melakukan lompatan demi lompatan agar mampu melakukan penaklukkaan selanjutnya. Karena ternyata mempertahankan kemenangan lebih berat tantangannya daripada merebut kemenangan. Kaum muslimin zaman dahulu telah mengilhami kita untuk terus berjuang dan berjuang menaklukkan musuh sampai islam menjadi soko guru peradaban dunia. Sampai kemudian Alloh menganugrahkan kemuliaan kepada kita didunia dan kesyahidan serta surga di akhirat kelak. Wallohu‘alam

Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.