Oleh: H. Deni Mardiana, Lc(Dewan Pengawas Syariat Indonesia Berbagi)

Pengantar

Ramadhan tahun 1439 H sedang kita jalani bersama. Sebuah kesempatan emas yang diberikan oleh Alloh SWT untuk melakukan dua aktivitas sekaligus, memperbanyak pahala untuk bekal pulang ke surga dan menghapus jejak perbuatan dosa yang pernah dilakukan setahun lamanya. Sungguh ini adalah kesempatan berharga bagi setiap muslim untuk merecharge kembali kualitas iman dan taqwa kepada Alloh. Sungguh ini adalah kesempatan berharga bagi setiap muslim untuk memantaskan diri dihadapan-Nya.

Puasa Ramadhan hanya setahun sekali, bahkan hanya hitungan-hitungan hari saja. Namun sebentarnya waktu itu jika dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya akan menghantarkan manusia kepada kebaikan hidup dan kemuliaannya, dengan catatan mereka mampu mengambil hikmah dan inspirasi dari setiap peristiwa yang terjadi di bulan ini. Ramadhan bukan sekedar puasa, lebih dari itu ia adalah madrasatul iman (sekolahnya iman) dan Ghazwatunnafs (perang hawa nafsu) yang dengannya manusia ditempa meningkatkan kesadaran iman dan menguji sejauh mana hawa nafsunya mampu diarahkan kepada hal-hal yang positif. Ramadhan bukan bulan berpangku tangan, menerima apapun kondisi dan realita yang terjadi. Ramadhan justru syahrul jihad (bulan perjuangan), dimana kita diajarkan untuk terus berjuang meraih sebanyak-banyaknya kebaikan dari Alloh SWT dan mengendalikan nafsu amarah yang selalu mengajak kepada perbuatan dosa dan maksiat. Sehinggatidak mudah menjalani Ramadhan, jika tidak memiliki stok iman yang memadai. Tidak mudah menjalani Ramadhan, jika ruh jihad tidak hadir dalam mental kita. Tidak mudah menjadi alumni Ramadhan, jika semangat menghamba hanya terjadi pada Ramadhan saja.

Semangat jihad inilah kuncinya. Dan Rasulullah saw telah memberikan teladan kepada kita tentang pentingnya menghadikan ruhul jihad. Peperangan pertama kaum muslimin dengan kafir Quraisy di Madinah (Perang Badar)terjadi di bulan Ramadhan, seolah memberikan sinyal bahwa ruhul jihad harus digelorakan dalam setiap kondisi dan situasi. Jika dahulu dibulan Ramadhan Rasul dan para sahabat berperang melawan kafir Quraisy, maka konteksnya hari ini kita berperang dengan kelemahan dan kesombongan diri kita secara khusus dan berperang melawan musuh-musuh islam yang nyata-nyata memusuhi kita.

Berikut kita akan sampaikan secara ringkas tentang perang badar ini. Perang yang menguji eksistensi umat dan dakwah islam di Madinah secara khusus namun sebenarnya menguji eksistensi islam didunia pada waktu itu. Semoga terinspirasi!

Latar Belakang Perang Badar Kubra

Sebelum meletusnya perang badar kubro, terdapat beberapa ghazawat dan sariyyah yang  dialami Rasululah dan para sahabat. Diantaranya ialah sebagai berikut:

a.  Pasukan yang dipimpin oleh Hamzah bin ‘Abdul Muththalib.

Sebanyak 30 orang penunggang dari kalangan Muhajirin diutus hingga daerah Al-‘Iish di tepi laut.

b.  Pasukan yang dipimpin oleh ‘Ubaidah bin Harits.

Sebanyak 60 orang penunggang dari kalangan Muhajirin sampai ke daerah Raabigh.

c.  Perang ‘Usyairah.

Peperangan dengan jumlah pasukan sebanyak 200 orang penunggang dan pejalan kaki di bawah kepemimpinan Rasulullah saw. Tujuan dari peperangan ini adalah untuk menunjukkan kekuatan kaum muslimin di hadapan orang-orang musyrikin serta membangun kesepahaman dengan kabilah-kabilah yang terdapat di daerah jalur perdagangan orang Quraisy di antara Kota Makkah dan Madinah.

d.  Perang Buwaath.

Peperangan dengan jumlah pasukan sebanyak 200 orang penunggang dan pejalan kakidi bawah kepemimpinan Rasulullah saw. Tujuannya adalah untuk bisa sampai ke daerah Buwaathdari sisi gunung Radhwa ke jalur perdagangan Quraisy di antara kota Makkah dan Madinah,selain untuk menekan kegiatan perdagangan mereka.

e.  Perang Badar Pertama.

Prediksi Rasulullah saw dan para sahabat tentang kaum musyrikin benar-benar menjadi sebuah kenyataan. Tak lama setelah beliau menetap di Kota Madinah, orang-orang musyrikin di bawah pimpinan Karz bin Jabir Al-Fihry melakukan penyerangan terhadap ladang pengembalaan hewan milik orang Madinahdan merampas beberapa ekor unta dan kambing milik kaum muslimin. Rasulullah saw pun segera bergerak untuk mengusir mereka dan merebut kembali unta maupun kambing milik kaum muslimin yang sempat mereka rampas. Pasukan perang kaum muslimin di bawah pimpinan Rasulullah sawketika itu bergerak sampai ke daerah Wadi Sufyan, dekat dengan Badar. Namun demikian mereka tidak dapat mengejar agresor musyrikin sehingga mereka pun harus kembali tanpa ada peperangan.

Ghazawat dan sariyyah seolah menjadi pembuka dan ajang pemanasan kaum muslimin Madinah untuk memetakan kekuatan musuh dan melumpuhkan semangat musuh, juga dalam rangka konsolidasi kekuatan kaum muslimin di Madinah. Dr. Ali Ash-shollabi bahkan menyebutkan bahwa Rasul sempat memerintahkan kepada salah seorang sahabat untuk melakukan sensus penduduk Madinah dalam rangka memetakan kekuatan kaum muslimin untuk dipersiapkan menghadapi Perang Badar Kubro.

Setelah ghazawat dan syariyyah terjadi, Perang Badar Kubro pun tidak bisa dielakkan lagi. Berikut beberapa alasan yang melatarbelakangi meletusnya perang pertama ini:

1. Pengusiran Kaum Muslimin dari Kota Makkah Serta Perampasan Harta Benda Mereka

Genderang perang terhadap kaum muslimin sebenarnya udah ditabuh oleh orang-orang musyrikin sejak Rasulullah saw mengumandangkan risalah dakwah yang ia bawa. Mereka menghalalkan darah kaum muslimin dan harta benda mereka di kota Makkah, khususnya terhadap orang-orang Muhajirin. Mereka rampas rumah dan kekayaan kaum Muhajirin. Orang islam pun melarikan diri dan menukarnya dengan keridhoan Allah SWT. Kita dapat melihat sendiri bagaimana orang kafir Quraisy merampas dan menguasai harta benda Shuhaib sebagai imbalan diizinkannya ia untuk berhijrah ke Madinah. Kita pun dapat menyaksikan bagaimana mereka menduduki rumah-rumah dan peninggalan kaum muslimin yang ditinggal oleh pemiliknya.

2. Penindasan Terhadap Umat Islam Hingga Kota Madinah

Apa yang dilakukan orang Quraisy terhadap umat Islam ternyata tidak hanya ketika mereka berada di Kota Makkah. Di bahwa pimpinan Kurz bin Habbab Al-Fihri, mereka memprovokasi kaum musyrikin lainnya untuk menyerang, menteror, dan menguasai harta benda milik kaum muslimin yang ada di Kota Madinah (sebagaimana yang terjadi pada Perang Badar Shughra). Oleh karena itu, sudah sewajarnya apabila orang-orang musyrik menerima balasan atas semua permusuhan dan penindasan mereka terhadap umat Islam selama ini. Mereka begitu sadar bahwa banyak kepentingan dan hasil perdagangan mereka yang akan berpindah ke tangan orang-orang Islam di sana, selain bahwa kini Islam telah memiliki pasukan dan wilayah yang mampu memberikan perlawanan atas kewenang-wenangan, menegakkan kebenaran dan menumbangkan kebatilan meskipun orang-orang yang berhati durjana tidak menyukainya.

3. Memberi Pelajaran Kepada Quraisy dan Mengembalikan Harta Benda Milik Umat Islam

Oleh karena itu, begitu Rasulullah saw mendengar bahwa kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb dan ‘Amr bin Al-‘Ash bersama 40 orang bergerak dari Syam membawa harta orang-orang Quraisy yang keseluruhannya mencapai seribu ekor unta, maka beliau pun segera mengajak kaum muslimin untuk bergerak mendatanginya. Rasulullah saw mengatakan, ”Ini adalah perdagangan Quraisy. Maka keluarlah kalian, semoga Allah SWT akan memberikannya kepada kalian.”Mendengar seruan ini, sebagian kaum muslimin menyambutnya sementara yang lainnya merasa sedikit berat dengannya. Mereka menggangap bahwa ketika itu Rasulullah saw tidak bermaksud mengumandangkan sebuah peperangan. Karena beliau mengatakan, ”Barangsiapa yang saat ini memiliki tunggangan, maka hendaklah ia ikut bersama kami.” Beliau tidak menunggu sahabat yang tunggangannya tidak ada pada saat itu.

(Bersambung...)

Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.