Oleh: H. Deni Mardiana, Lc (Dewan Pengawas Syariah Indonesia Berbagi Foundation)

Sebab Terjadinya Perang (Sariyah) Mu’tah

Saat memasuki tahun ke 6 H, Bermula dari sebuah Perjanjian damai antara pihak Rasulullah Saw dengan Kafir Quraisy di Mekkah, dibuatlah sebuah perjanjian yang dikenal dengan nama "Perjanjian Hudaibiyah". Salah satu isi kesepakatan itu ialah kedua belah pihak bersepakat menghentikan perang, dan tidak saling menyerang selama 10 tahun. Kesepakatan Hudaibiyah ini dimanfaatkan oleh Rasulullah Saw untuk menyebarkan Islam ke daerah-daerah luar Madinah dengan cara mengirim surat ajakan masuk Islam kepada beberapa raja dan kepala suku yang ada di luar Madinah. Lalu nabi pun mengutus sebagian para sahabatnya untuk menyampaikan suratnya kepada raja-raja, dan salah satu sahabat yang diutus oleh Rasulullah adalah Harits bin Umair Al Azdi.

Disisi lain, bangsa Arab Syam telah memantik api permusuhan antara kaum muslimin dan orang-orang Byzantium. Kabilah Kalb dari Qudha’ah yang menempati daumatul jandal terus menerus mempersulit kaum muslimin dan berusaha memaksakan embargo ekonomi dengan cara mengganggu para pedagang yang membawa barang kebutuhan pokok dari Syam ke Madinah. Sementara itu, orang-orang dari Bani Judzam dan Lakhm pernah menghadang perjalanan Dihyah bin Khalifah Al-kalbi ketika melewati Hasma. Seluruh barang-barang milik Dihyah dirampas oleh kabilah tersebut. Rasul akhirnya melakukan pengiriman pasukan dibawah pimpinan Zaid bin Haritsah ke Hasma pada tahun ke-6 H, dalam rangka memberikan pelajaran kepada dua kabilah tadi.

Beberapa langkah penyerangan yang dilakukan Rasulullah setelah perjanjian hudaibiyah memiliki beberapa alasan krusial. Diantaranya adalah kasus pembunuhan Harits bin Umair Al-Azdi, utusan Rasul yang dibunuh oleh Syarahbil bin Amru, seorang penguasa Bushra yang berada dibawah kekuasaan Romawi. Membunuh utusan Rasul secara tidak langsung menistakan dan menantang Rasulullah Saw. Ini merupakan pelecehan terhadap kewibawaan islam dan Rasulullah Saw. Disisi lain, ada penguasa Damaskus bernama Al-Harits bin Abi Syamar Al-Ghaissani yang secara terbuka memproklamasikan perang terhadap Madinah. Selain itu, suatu hari Rasul pernah mengutus pasukan dibawah pimpinan Amru bin Ka’ab Al-Ghifari guna menyerukan islam disebuah tempat bernama Dzatu Athlah. Penduduk kota tersebut bukannya menerima seruan islam, mereka malah mengepung para utusan Rasul tadi dan menyerang hingga semua terbunuh, kecuali komandan pasukan mereka yang terluka dan melarikan diri ke Madinah kemudian memberitakan peristiwa tersebut kepada Rasulullah Saw.

Peristiwa-peristiwa diatas menjadi alasan kuat bagi Rasulullah untuk kembali mengerahkan pasukan kaum muslimin untuk berperang. Pengiriman pasukan ini juga dimaksudkan agar orang-orang Arab Syam yang berada dibawah kekuasaan Romawi yang selalu menakut-nakuti kaum muslimin dan memusuhi mereka, mendapatkan pelajaran penting bagaimana kekuatan kaum muslimin.

Perang (Sariyah) Mu’tah Pun Dimulai

Pada tahun ke-8 H, Rasul menyeru kaum muslimin Madinah untuk segera melakukan persiapan perang. Beliau menghimpun pasukan yang sangat banyak melebihi pasukan yang selama ini dipersiapkan tatkala menghadapi peperangan. Pasukan yang disiapkan sebanyak tiga ribu orang. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah peperangan, Rasul memilih tiga komandan perang sekaligus, mereka adalah Zaid Bin Haritsah, Ja’far Bin Abi Thalib dan Abdullah Bin Rawahah. Beliau sendiri tidak ikut dalam peperangan ini. Beliau berjaga di Madinah bersama sahabat lainnya. Rasul memerintahkan pasukan islam tersebut untuk mendatangi tempat terbunuhnya Al-harits dan menyeru penduduknya untuk masuk islam. Namun, jika mereka menolak maka hendaknya pasukan meminta pertolongan kepada Alloh untuk memerangi mereka.

Pasukan perang sudah bersiap,Rasulullah dan kaum muslimin menghadap ke arah pasukan untuk mengucapkan salam perpisahan. Mereka mengangkat tangan, memohon dengan penuh ketundukan dan kekhusyuan agar Alloh berkenan menolong para mujahidin dan memenangkan pertempuran. Para pasukan perang disalami oleh Rasul dan kaum muslimin untuk dilepas ke medan jihad. Diantara mereka ada yang melantunkan doa:

دَفَعَ اللهُ عَنْكُمْ رُدَّكُمْ صَالِحِيْنَ غَانِمِيْنَ

“Semoga Alloh melindungi kalian dan mengembalikan kalian dalam keadaan baik dengan membawa harta ghanimah”

Tatkala orang-orang mengucapkan kata perpisahan kepada Abdullah Bin Rawahah, tiba-tiba ia menangis dan air matanya mengucur deras di pipi. Orang-orang pun heran lalu bertanya: “Apa yang membuatmu menangis wahai Ibnu Rawahah?”. Dia kemudian menjawab: “Demi Alloh, tidak ada padaku kecintaan terhadap dunia ataupun kerinduan kepada kalian. Akan tetapi, aku pernah mendengar Rasul membacakan suatu ayat Al-Quran yang menyebutkan tentang neraka: Dan tidak ada seorang pun diantara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Tuhan-mu adalah ketentuan yang sudah ditetapkan (QS.Maryam: 71) sementara aku tidak tahu keadaan yang akan menimpaku setelah datang kematian”. Para sahabat dan kaum muslimin yang menyalami Abdullah Bin Rawahah kemudian berkata: “Semoga Alloh menyertai kalian, melindungi kalian dan mengembalikan kalian kepada kami dalam keadan baik dan selamat”. Abdullah Bin Rawahah pun merasa tenang dengan dukungan dan doa dari kaum muslimin. Seolah beliau mendapatkan energi semangat untuk segera menjemput kesyahidan sesuai cita-citanya selama ini.

Pasukan kaum muslimin dibawah komando Zaid Bin Haritsah telah sampai di daerah Ma’an, bagian dari wilayah Syam –yang saat ini merupakan salah satu nama provinsi di Yordania. Tersiarlah sebuah kabar tentang persiapan musuh menyambut kedatangan pasukan kaum muslimin. Orang-orang nasrani salibis dari Arab dan Non Arab termasuk para kabilah arab dari Bani Lakhm, Bani Judzam, Bahra dan Balya pun melakukan mobilisasi pasukan besar-besaran dalam rangka menghadapi serangan dari pihak kaum muslimin. Sebanyak seratus ribu pasukan telah mereka siapkan dibawah pimpinan Malik bin Rafilah. Sementara itu, Heraklius sendiri telah menghimpun pasukan sebanyak seratus ribu orang dari kalangan nasrani salibis Romawi. Dengan demikian dua ratus ribu orang lengkap dengan senjata yang memadai dan berpakaian sutra sudah siap menghadang kedatangan kaum muslimin dari Madinah.

Kaum muslimin berada di Ma’an selama dua hari. Mereka berunding untuk menentukan langkah dan strategi menghadapi pasukan yang besar ini. Sebagian mengusulkan untuk berkonsultasi kepada Rasulullah Saw di Madinah. Sebagian lalu berkata kepada sang komandan pasukan: “Engkau telah menginjakkan kaki di negeri ini dan memberikan rasa takut kepada para peduduknya. Maka tariklah pasukan, karena tidak ada sesuatu pun yang bisa menyamai harga keselamatan”. Sebuah ungkapan yang bernada minor, seolah meruntuhkan niat dan semangat untuk menjemput syahid karena menghadapi jumlah pasukan musuh yang begitu banyak. Kemudian, Abdullah bin Rawahah memberikan masukan dan berkata: “Wahai kaum, demi Alloh, sesungguhnya apa yang tidak kalian sukai dalam kepergian ini justu merupakan sesuatu yang kita cari, yaitu kesyahidan. Kita tidak memerangi manusia karena banyaknya bilangan dan kekuatan persenjataan. Tetapi kita memerangi mereka karena agama islam ini yang Alloh memuliakan kita dengannya. Maka berangkatlah, karena di sana hanya ada salah satu dari dua kebaikan; kemenangan atau mati syahid”. Kata-kata Abdullah bin Rawahah inilah yang mengembalikan semangat dan membakar ruhul jihad pasukan kaum muslimin. Mereka tidak gentar menghadapi musuh dan siap menerima resiko dari peperangan yang akan mereka hadapi.

Maka berangkatlah Zaid Bin Haritsah beserta pasukannya menuju wilayah Mu’tah yang berada di sebelah selatan Al-kurk. Mereka terus bergerak hingga terjadi pertempuran dengan orang-orang Romawi disana. Dengan penuh heroik dan penuh semangat, Zaid maju menerjang musuh sambil membawa panji Rasulullah Saw hingga akhirnya terbunuh syahid di ujung tombak pasukan musuh. Panji rasulullah kemudian segera diambil oleh Ja’far Bin Abi Thalib. Ja’far pun sama seperti Zaid, dengan penuh keberanian maju menerjang pasukan salibis musyrikin. Karena jumlah pasukan musuh yang banyak, mereka segera memperkuat serangan terhadap Ja’far dan mengepungnya seperti lingkaran gelang pada pergelangan tangan. Usaha mereka tidak menyurutkan semangat Ja’far untuk mengayunkan tombak menyerang setiap musuh yang ditemuinya. Ia membawa bendera dengan tangan kanannya, lalu tangan kanannya terpotong. Kemudian ia mengambil bendera dengan tangan kirinya dan tangan kirinya pun terpotong. Kemudian ia memeluk panji rasul dengan kedua lengannya dan membawanya dengan membungkuk hingga akhirnya beliau pun menemui kesyahidannya di Usia 33 tahun. Ja’far tebunuh dengan luka yang mencapai tujuh puluh sekian luka. Tusukan tombak, sabetan pedang dan hujaman anak panah memenuhi tubuhnya. Diantara luka yang ada itu, tidak ada luka yang mengenai punggungnya. Semua luka itu ada di bagian dadanya. Ini menggambarkan betapa kuatnya semangat Ja’far dan tidak ingin mundur selangkahpun dari pertempuran. Panji Rasulullah tidak boleh jatuh ke tanah. Jika jatuh ke tanah, itu berarti pasukan kaum muslimin sudah dinyatakan kalah. Abdullah bin Rawahah segera mengambil alih pimpinan pasukan, panji Rasul ia bawa. Sambil mengendarai kuda ia melantunkan bait-bait syair:

Aku bersumpah hai jiwa

Turunlah kamu

Turun! Atau kau akan dipaksa turun

Untuk menyeru balatentara

Dan berteriak keras-keras

Kenapa kulihat kamu

Tidak menyukai surga?

Bukankah telah sekian lama

Kau menunggu dengan penuh harapan?

Bukankah kamu ini tak lebih

Dari setetes air mani yang ditumpahkan?

Wahai jiwa, jika kau tak sudi membunuh musuh

Kaulah yang akan terbunuh

Disini kau lihat kubangan maut

Apa yang kau impikan?

Kini kepadamu telah ditawarkan

Jika kau tiru kedua pahlawan itu

Kau akan mendapatkan petunjuk!

Sebelum melanjutkan pertempuran, Abdullah bin Rawahah ditawari sepotong daging oleh putra pamannya. “Makanlah sepotong daging ini, kuatlah badanmu dengannya karena aku melihat engkau lapar sejak beberapa hari”. Abdullah pun mengambil daging tersebut, tiba-tiba ia mendengar suara kegaduhan dan keributan di front pertempuran. Ia lalu berkata kepada dirinya sendiri: “ Dan engkau masih berada di dunia?” Daging yang sedang dipegang kemudian dibuang dan bergegas berangkat maju ke medan pertempuran hingga menemui kesyahidannya.

Panji Rasul pun kembali jatuh dari tangan Abdullah bin Rawahah. Tsabit bin Arqam binTsa’labah segera mengambilnya. Ia kemudian berkata dihadapan kaum muslimin: “Wahai kaum muslimin, angkatlah salah seorang dari kalian sebagai komandan pasukan!”. Mereka menjawab: “Engkaulah komandan perang kami!”. Tsabit lalu menjawab: Tidak, aku tidak akan mampu. Akhirnya mereka mengangkat Khalid bin Walid sebagai komandan pasukan. Panji pun akhirnya dibawa oleh Khalid. Segera beliau menyusun strategi dan mengambil langkah-langkah cerdas dan taktis dalam rangka menyelamatkan kaum muslimin dari kepungan musuh yang jumlahnya 66 kali lipat kekuatan kaum muslimin. Dalam pandangannya, kaum muslimin sangat menghadapi gempuran musuh yang jumlahnya besar seperti itu. Akhirnya beliau mengambil langkah mundur teratur dan menetapkan langkah-langkah berikut: Pertama, memisahkan antara pasukan Romawi dan pasukan kaum muslimin hingga dipastikan langkah terakhir penarikan pasukan ini bisa dilakukan dengan selamat. Kedua, untuk memuluskan rencana di atas, Khalid melakukan pengecohan terhadap musuh dengan memberikan bayangan bahwa bala bantuan telah sampai kepada pasukan kaum muslimin, sehingga mereka akan mengurangi tekanan serangannya dan kaum muslimin dapat menarik diri. Kedua strategi di atas berhasil dimainkan Khalid dan seluruh pasukan kaum muslimin. Ia melakukan rotasi posisi pasukan. Pasukan sayap kiri dipindahkan ke arah kanan, dan pasukan kanan dipindahkan ke kiri. Pasukan yang berada di front depan dipindahkan ke belakang dan begitu pula sebaliknya. Ditengah proses perpindahan ini dibuatlah suara gaduh dan hiruk pikuk yang sangat kuat. Suasana itu membuat ketar-ketir pasukan Romawi. Mental mereka menjadi lemah dan tidak lagi bersemangat menyerang kaum muslimin. Khalid segera memanfaatkan kesempatan ini dan langsung menarik pasukannya untuk mundur. Akhirnya pasukan kaum muslimin meninggalkan wilayah Mu’tah dan kembali ke Madinah. Ketika pasukan mendekati kota Madinah, mereka disambut oleh Rasulullah dan kaum muslimin, anak-anak juga menyambut mereka sambil melantunkan bait-bait syair.  Rasulullah mendatangi mereka di atas kendaraannya lalu bersabda: “Ambillah anak-anak dan gendonglah mereka. Berikanlah kepadaku anak Ja’far.” Abdullah bin Ja’far digendong oleh Nabi, sementara itu, orang-orang melemparkan pasir ke arah pasukan dan berkata: “Wahai para pengecut! Apakah kalian lari di jalan Alloh? Rasul kemudian membantah: “Mereka tidak lari (dari medan perang), akan tetapi mundur untuk menyerang kembali Insya Alloh.”

Serpihan Hikmah Perang Mu’tah

Peperangan pun usai sudah. Kaum muslimin sudah berada di Madinah dan menyusun kembali puzzle kekuatan untuk menghadapi peperangan berikutnya. Ungkapan sebagian kaum muslimin yang tidak ikut berperang dengan menyebut para pasukan sebagai pengecut merupakan ucapan keliru dan tanpa perhitungan. Upaya menarik mundur pasukan yang dilakukan Khalid merupakan kemenangan bagi pasukan kaum muslimin, karena musuh pun melakukan hal yang sama. Tentu, semua telah terjadi atas kehendak-Nya dan selalu dalam garis skenario indah sang pencipta. Tinggal bagaimana kita mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa. Ada beberapa serpihan hikmah yang bisa kita himpun dari kejadian perang Mu’tah diatas:

Pertama,Pertempuran Izzah Kaum Muslimin.

Pertempuran Mu’tah dianggap pertempuran penting yang terjadi antara kaum muslimin dengan nasrani salibis dari bangsa Arab maupun Non Arab. Sebab pertempuran Mu’tah merupakan konfrontasi bersejata pertama yang memiliki arti penting bagi kedua belah pihak. Perang Mu’tah merupakan titik tolak penaklukan negara Syam dan kekuasaan Romawi.

Kedua, Cinta Kesyahidan Menjadi Pendorong Untuk Berani & Berkorban

Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah adalah profil manusia pilihan Alloh SWT. Darinya kita meneledani keteguhan dan kesabaran dalam berjuang dijalan Alloh. Kita pun diajarkan bagaimana mencintai kesyahidan diatas cinta duniawi yang menipu. Kesyahidan mereka bertiga sebelumnya sudah diketahui Rasulullah lewat wahyu dari Alloh SWT. Ini merupakan mu’jizat dari Alloh untuk Rasulullah. Beliau bersedih dan meneteskan air mata atas kematian mereka. Ketiga sahabat diatas telah memenuhi janji Alloh bagi mereka yang mengharapkannya. Mereka menginspirasi kita semua untuk terus istiqomah bersama barisan dakwah dan terus berupaya memburu kesyahidan sebagai cita-cita tertinggi.

Ketiga, Penghomatan Nabi Kepada Keluarga Ja’far

Setelah diketahui kabar kematian Ja’far, Rasul menemui istrinya Asma’ binti Umais kemudian bersabda: “Bawalah kemari anak-anak Ja’far.” Rasul lalu menciumi mereka satu persatu dan kedua mata beliau meneteskan air mata. Rasul kemudian melanjutkan sabdanya:“Janganlah kalian melupakan keluarga Jafar, buatlah makanan untuk mereka. Karena sesungguhnya mereka sedang sibuk menghadapi musibah kematian Ja’far.” Ungkapan sabda Rasul ini menegaskan kepada kita untuk membuat makanan bagi keluarga mayit, bukan sebaliknya. Hal itu tentu menunjukkan sikap toleransi dan menghibur keluarga yang sedang bersedih. Namun yang terjadi dimasyarakat hari ini, justru keluarga mayit yang sibuk membuat makanan untuk orang yang datang melayat. Sungguh ini merupakan tradisi yang menyalahi sunnah.

Ketiga, Belajar Kembali Tentang Fiqh Qiyadah (Kepemimpinan)

Setelah panji Rasulullah jatuh dari tangan Abdullah bin Rawahah dan diambil oleh Tsabit bin Arqam Al-ajlani, Tsabit kemudian menyeru para pasukan untuk memilih komandan selanjutnya. Mereka sepakat memilih Ttsabit, karena beliau ahli badar dan beliau termasuk senior diantara pasukan yang ada. Tsabit tidak otoriter dan merasa paling pantas menjadi komandan. Beliau berkeliling ke arah pasukan dan menyerahkan panji kepada Khalid bin Walid. Ia melihat Khalid lebih layak menjadi komandan selanjutnya. Walaupun pada waktu itu Khalid baru tiga bulan masuk islam namun pengalamannya memimpin pertempuran menjadi alasan Tsabit memilih Khalid. Pasukan kaum muslimin sepakat atas pilihan Tsabit. Mereka tsiqoh dan taat atas keputusan qiyadah. Tidak mencari-cari alasan untuk menolak Khalid karena tentu ketsiqohan kepada qiyadah menjadi bagian dari ketsiqohan kepada Alloh dan Rasul-Nya. Khalid pun mengambil kendali dan keputusan-keputusan strategisnya mengantarkan pasukan kaum muslimin kepada kemenangan.

Dalam konteks peperangan, fiqh qiyadah menjadi hal yang sangat urgen untuk diperhatikan. Peperangan tidak boleh berhenti ketika qiyadah gugur terlebih dahulu, peperangan harus terus berlanjut. Qiyadah menjadi urgen dalam sebuah barisan perjuangan agar rentang kendali dan gerak langkah selaras seirama. Ketsiqohan dan ketaatan kepada keputusan musyawarah harus selalu menghiasi ruang jiwa kita agar laju perjuangan tidak dikotori oleh prasangka-prasangka yang tidak berdasar yang hanya akan mengikis keikhlasan kita dalam berjuang.

Keempat, Iman yang Memuncak Menjadi Parameter Keteguhan di Medan Pertempuran

Kerinduan menjemput syahid, keberanian menghadapi musuh yang secara jumlah sangat tidak berimbang menjadi bukti nyata kuatnya keimanan para pasukan kaum muslimin dalam perang mu’tah. Sikap Ja’far yang tetap memegang panji meski dirinya bersimbah darah dan tusukan luka dimana-mana, menjadi saksi sejarah bagaimana kekuatan iman yang memuncak mengantarkannya kepada kemuliaan dan kemenangan. Sungguh pemandangan yang sulit ditemukan dizaman sekarang. Sulit menemui orang sekuat iman Ja’far dalam berjuang.

Ibnu Katsir berkomentar tentang peristiwa perang Mu’tah: “Ini merupakan peperangan yang sangat menakjubkan. Dua pasukan perang saling bermusuhan dalam agama. Kaum muslimin berjumlah 3000 orang, sedangkan pasukan kafir berjumlah 200 ribu orang terdiri dari 100 ribu dari Romawi dan 100 ribu dari kaum nasrani Arab. Mesti sengitnya pertempuran, hanya 12 orang yang terbunuh dari pasukan kaum muslimin sedangkan jumlah korban dari pihak musuh jumlahnya banyak. Khalid bin Walid sendiri mengatakan: “Telah patah sembilan pedang ditanganku pada hari pertempuran mu’tah dan tidak tersisa kecuali sebilah pedang dari Yaman.” Itu baru pedang milik Khalid, bagaimana dengan pedang milik pasukan kaum muslimin yang lain? Mereka telah berhasil menundukkan para penyembah salib. Semoga Alloh melaknat mereka pada zaman itu dan disetiap masa.

Demikianlah serpihan hikmah dari perang Mu’tah. Semoga menginspirasi kita untuk tetap teguh dijalan perjuangan dan memilih jalan itu sebagai jalan satu-satunya kehidupan kita dalam menjemput kemuliaan didunia danakhirat serta menjadi alasan kuat Alloh menganugrahi kesyahidan diakhir hayat kita. Wallohu A’lam.

*Gambar ilustrasi: google.com

-----

Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.