Oleh: H. Deni Mardiana, Lc (Dewan Pengawas Syariat Indonesia Berbagi Foundation)

Muqaddimah

Perjalanan hidup manusia di dunia menuntut untuk mampu bertahan menghadapi berbagai ujian dan cobaan yang mutlak akan terjadi. Karena begitulah Alloh ciptakan dunia dengan segala pernak-perniknya. Terkadang lelah, terkadang ingin menyerah bahkan terkadang terasa tak tentu arah. Manusia merasa seolah-olah hidup dilingkari ujian demi ujian, berpindah dari masalah ke masalah lain.  Masalah yang satu belum selesai, datang masalah baru yang lebih rumit. Masalah ini sudah selesai, masalah baru menanti dihadapan. Jika manusia tidak punya pegangan hidup, manusia akan mudah rapuh. Jika manusia tidak punya tujuan hidup, manusia akan mudah patah semangat. Dan jika manusia tidak punya bekal hidup, manusia akan mudah terbawa bisikan kejahatan.

Tentu semua bersepakat, dibalik ujian dan cobaan hidup yang dialami manusia di dunia, pada ujungnya semua mencari kebahagiaan dan ketenangan. Beragamjalan pun ditempuh. Beragam cara pun dilakukan agar kebahagiaan dan ketenangan didapatkan. Sayang, banyak manusia yang lupa bahwa kebahagiaan yang selama ini ia cari sebenarnya dekat bersamanya. Manusia lupa bahwa kebahagiaan itu bermula dari kondisi hati dan pikiran. Saat hati dan pikirannya bersih, mereka akan mudah mendapatkan kebahagiaan. Saat hati dan pikirannya lurus, mereka akan mudah mendapatkan ketenangan.

Shalat merupakan jembatan kebahagiaan dan ketenangan manusia. Saat Alloh ingin menurunkan syariat ini kepada Nabi Muhammad dan untuk diikuti oleh umatnya, dalam sirah nabawiyyah disebutkan bahwa sebelumnya Rasul mendapat tekanan dakwah yang luar biasa. Rasul mengalami kekerasan verbal maupun fisik dari orang kafir Quraisy dan beliau mendapat hinaan demi hinaan setiap harinya. Ditambah lagi kesedihan yang tak berujung dikala dua punggawa dakwahnya di Mekkah yaitu khadijah sebagai istrinya dan Abu Thalib sebagai pamannya pergi meninggalkan Rasul untuk selamanya. Alloh kemudian mengajak Rasul untuk Isra dan Mi’raj, dan salah satu oleh-oleh dari sana adalah kewajiban melaksanakan shalat. Seolah menjadi isyarat bahwa saat manusia menghadapi tekanan demi tekanan dalam hidupnya, maka shalatlah menghadap kepadaNya. Saat manusia dihantui perasaan yang tak menentu, selalu gundah dan gelisah maka segeralah bersujud dihadapan-Nya. Shalat dengan sebenarnya sejatinya akan menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan. Shalat yang sebenarnya shalat itulah yang disebutkan dalam berbagai ayat Alloh dinamakan dengan Khusyu. Khusyu dalam shalat, inilah kunci kebahagiaan itu.

Mengenal Definisi Khusyu Dalam Shalat

Khusyu’ dalam ibadah layaknya ruh bagi jiwa manusia. Ibadah yang asal dilakukan tanpa disertai kekhusyuan layaknya seorang manusia yang hidup tanpa ruh, mati dan tidak bernyawa. Begitu pula halnya dengan aktivitas shalat. Saat ibadah shalat tidak disertai kekhusyuan yang tinggi kepada Alloh, kita seolah hanya sedang menggerak-gerakkan badan saja. Ruh kita menghilang entah kemana sehingga sedikit pun tidak merasakan kebersamaan dengan Alloh ketika shalat.

Dalam sebuah ayat Alloh SWT memberikan pujian kepada hamba-hambaNya yang memiliki keimanan yang sempurna dan selalu bersegera dalam kebaikan. Dalam ayat tersebut dengan tegas Alloh menyampaikan bahwa orang-orang yang khusyu itu ialah orang-orang yang selalu bersegera dalam kebaikan dan selalu bermunajat kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka (selalu) berdoa kepada Kami dengan berharap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ (dalam beribadah).” (QS al-Anbiyaa’: 90)

Khusyu menurut bahasa artinya tunduk atau tenang. Menurut yang lain artinya takut atau merasa takut. Adapun khusyu menurut istilah ialah seperti yang disampaikan oleh Imam Ibnu Qayyim Al-jauziah, beliau berkata: Khusyu ialah tegaknya hati dihadapan ilahi dengan penuh ketundukan dan merasa hina (dihadapan-Nya) dan merasa dekat dengan Alloh. Khusyu merupakan implementasi dari tetapnya seorang hamba dalam kebenaran, sehingga disaat Alloh memerintahkan untuk berbuat baik, dia selalu responsif terhadap kebaikan tersebut.”

Imam Ibnu Rajab berkata: “Asal (sifat) khusyu’ adalah kelembutan, ketenangan, ketundukan, dan kerendahan diri dalam hati manusia (kepada Allah Ta’ala). Tatkala Hati manusia telah khusyu’ maka semua anggota badan akan ikut khusyu’, karena anggota badan (selalu) mengikuti hati, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.”.

Dari dua definisi khusyu di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa ternyata khusyu adalah amalan hati. Sebuah produk hasil penataan dan pengelolaan hati dari berbagai macam unsur-unsur yang merusaknya. Sebuah proses panjang yang harus dilalui oleh seorang hamba hingga mencapai puncak kekhusyuan. Sehingga jika kemudian khusyu dihubungkan dengan shalat, hal ini menggambarkan sebuah proses dari upaya menghadirkan hati ketika shalat dalam kondisi bersih dan suci serta penuh penghayatan atas apa yang diucapkan dan digerakkan dalam setiap gerakan shalat. Hal ini senada dengan ungkapan Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di, beliau berkata: “Khusyu’ dalam shalat adalah hadirnya hati (seorang hamba) dihadapan Allah Ta’ala dengan merasakan kedekatan-Nya, sehingga hatinya merasa tentram dan jiwanya merasa tenang, (sehingga) semua gerakan (angota badannya) menjadi tenang, tidak berpaling (kepada urusan lain), dan bersikap santun dihadapan Allah, dengan menghayati semua ucapan dan perbuatan yang dilakukannya dalam shalat, dari awal sampai akhir. Maka dengan ini akan sirna bisikan-bisikan (Setan) dan pikiran-pikiran yang buruk. Inilah ruh dan tujuan shalat”.

Tidak mudah menghadirkan kekhusyuan ketika beribadah kepada Alloh, termasuk didalamnya melaksanakan shalat. Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah pernah berdoa:Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.(HR. Muslim)

Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata : “Hadits ini menunjukkan bahwa ilmu yang tidak menimbulkan (sifat) khusyu’ dalam hati maka ini adalah ilmu yang tidak bermanfaat.

Hadis diatas dan komentar Ibnu Rajab menegaskan kepada kita bahwa khusyu itu ada ilmunya, tidak sembarangan. Ilmu khusyu itu adalah perpaduan antara pemahaman, penghayatan dan keyakinan yang kuat kepada Alloh SWT dengan senantiasa menjaga adab dan syariat-Nya. Saat seseorang telah memiliki ilmu khusyu, maka ia akan merasakan kesempurnaan ibadah kepada Alloh. Namun, saat seseorang telah Alloh cabut ilmu khusyunya maka itu merupakan musibah dalam hidupnya. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah Saw bersabda: “Yang pertama kali diangkat (oleh Allah) dari umat ini adalah sifat khusyu’, sehingga (nantinya) kamu tidak akan melihat lagi seorang yang khusyu’ (dalam ibadahnya).”

Menghadirkan Kekhusyuan Dalam Shalat

Kekhusyuan dalam shalat perlu latihan, perlu proses panjang menghadirkannya dalam setiap shalat kita. Agar seorang mukmin mampu mencapai tingkat kekhusyuan dalam shalat, hendaklah ia memperhatikan petunjuk berikut ini:

  1. Hendaklah ia memperbaiki kualitas wudhunya. Anggota tubuh yang terbasuh dengan wudhu yang benar akan menghadirkan ketenangan dalam hati.
  2. Mengkondisikan hati dan pikiran agar fokus kepada setiap bacaan dan gerakan shalat. Hindarkan pikiran dan konsentrasi hati dari urusan-urusan duniawi.
  3. Hadapkan hati dan pikiran serta seluruh anggota tubuh kita kepada-Nya. Sadarilah bahwa ketika shalat, Alloh melihat kita. Makna ihsan perlu dihadirkan dalam shalat kita agar khusyu.
  4. Tidak bersegera ingin mengakhiri shalat. Berikan hak dengan baik dari setiap gerakan dan bacaan shalat.
  5. Selalu mengupayakan shalat diawal waktu, tidak mengakhir-akhir shalat.
  6. Berupaya menunaikan shalat sunnah Qabliyyah dan Ba’diyah agar hati terkondisikan dengan baik.
  7. Fokus kepada aktivitas rukun-rukun shalat. Tidak banyak bergerak-gerak kecuali dalam keadaan darurat.
  8. Selalu memperhatikan apa yang dikonsumsi, pastikan semuanya halal dan terhindar dari haram.
  9. Berupaya menambah ilmu yang mampu menghadirkan kenikmatan demi kenikmatan dalam beribadah, terutama ibadah shalat.
  10. Menyadari bahwa shalat yang akan dilaksanakan adalah shalat terakhir dalam hidupnya. Sehingga hadir perasaan Khauf dan Raja’ yang tinggi kepada Alloh.
  11. Menyadari bahwa shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab oleh Alloh SWT. Sehingga hadir perasaan ketundukan yang mendalam terjauh dari sifat riya dan yang lainnya.
  12. Selalu berdoa dan meminta petunjuk kepada Alloh agar kekhusyuan selalu menyertai disetiap shalat-shalat kita.

Kekhusyuan Orang-orang Shaleh Terdahulu Dalam Shalat

Kekhusyuan dalam shalat telah dicontohkan oleh orang-orang shalat shaleh terdahulu. Adalah sahabat Abdullah bin Zubair, ketika beliau shalat, dalam kondisi sedang sujud tiba-tiba datang kepadanya manjanik (semacam bom). Beliau langsung melepas sebagian bajunya dan mengamankan bom tersebut dalam kondisi sedang shalat. Beliau tidak beranjak dari sujudnya dan tetap melaksanakan shalat.

Ada juga seorang tabi’in yang memberikan teladan kekhusyuan dalam shalat. Urwah bin Zubair dikenal sebagai tabi’in yang sangat khusyu dalam shalatnya. Suatu ketika ia melakukan perjalanan dari Madinah menuju Damaskus. Diperjalanan, ia terkena racun dari bisa ular. Sesampainya di Damaskus, racun tersebut sudah mencapai betisnya. Lalu dipanggillah dokter dan bersepakatlah mereka untuk segera mengamputasi kaki Urwah bin Zubair. Urwah lalu diperintahkan untuk minum obat yang akan meringankan rasa sakit saat nanti diamputasi. Urwah kemudian berkata kepada para dokter: “Jika kalian ingin mengamputasi kakiku, lakukanlah ketika aku sedang shalat. Aku tidak akan merasakan sakit dan tidak merasakan apapun ketika shalat.” Lalu diamputasilah kaki Urwah dan beliau tidak sedikitpun gentar menghadapinya. Subhanalloh...

Menikmati Kekhusyuan Shalat

Alangkah indahnya jika dalam setiap shalat kita merasakan kekhusyuan. Tentu kita tidak ingin begitu saja mengakhiri shalat karena nikmatnya ibadah tersebut. Menikmati kekhusyuan disetiap shalat bukan hanya memperhatikan adab dan syariat tentang shalat, bukan pula meniru orang-orang shaleh terdahulu dalam menikmati kekhusyuannya ketika shalat. Menikmati kekhusyuan shalat harus kita awali dengan melakukan proses ma’rifatullah dengan cara yang benar. Inilah ilmu yang paling mulia dalam Islam dan merupakan jalan utama untuk meraih semua sifat dan kedudukan yang mulia disisi Allah SWT.

Imam Ibnul Qayyim berkata: “Orang yang paling sempurna dalam penghambaan diri (kepada Allah Ta’ala) adalah orang yang menghambakan diri (kepada-Nya) dengan (memahami kandungan) semua nama dan sifat-Nya yang (bisa) diketahui oleh manusia.”

Sifat khusyu’ dalam hati manusia bertingkat-tingkat (kesempurnaannya) sesuai dengan bertingkat-tingkatnya pengetahuan (dalam) hati manusia terhadap Zat yang dia tunduk kepada-Nya dan sesuai dengan bertingkat-tingkatnya penyaksian hati terhadap sifat-sifat yang menumbuhkan kekhusyu’an.

Ada hamba yang (meraih) khusyu’ (kepada-Nya) karena penyaksiannya yang kuat terhadap kemahadekatan dan penglihatan-Nya (yang sempurna) terhadap apa yang tersembunyi dalam hati hamba-Nya, sehingga ini menimbulkan rasa malu kepada Allah dan selalu merasakan pengawasan-Nya dalam semua gerakan dan diamnya hamba tersebut. Ada juga yang (meraih) khusyu’ karena penyaksiannya terhadap kemahasempurnaan dan kemahaindahan-Nya, sehingga ini menjadikannya tenggelam dalam kecintaan kepada-Nya serta kerinduan untuk bertemu dan memandang wajah-Nya. Demikian pula ada yang meraih khusyu’ karena penyaksiannya terhadap kerasnya siksaan, pembalasan dan hukuman-Nya, sehingga ini membangkitkan rasa takutnya kepada Allah.

Muara dari kenikmatan khusyu dalam shalat itu adalah ketika hati sudah memiliki konektivitas yang kuat kepada Alloh. Konektivitas ini akan semakin kuat dan stabil jika ditunjang oleh ma’rifat yang tinggi kepada-Nya. Dunia tidak lagi menjadi hambatan dalam hidupnya,justru ia jadikan dunia sebagai ladang amal untuk berinvestasi.Dunia ia jadikan jembatan menggapai sebanyak-banyaknya kebaikan, keberkahan dan kemuliaan dari Alloh SWT.

Kenikmatan khusyu dalam shalat hanya akan dirasakan saat kita sudah mampu melepaskan belenggu dunia dan syahwatnya. Ia mampu mengelola masalah-masalah duniawinya dan terbebas dari upaya-upaya setan menyesatkan manusia dari syahwatnya yang liar dan tak terkendali.

Kenikmatan khusyu dalam shalat hanya akan dirasakan saat kita terus berupaya memperbaiki kualitas shalat kita. Karena, dengan shalat yang berkualitaslah kekhusyuan shalat akan kita dapatkan.Wallohu ‘Alam.


Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.