Oleh: H. Deni Mardiana, Lc (Dewan Pengawas Syariat Indonesia Berbagi Foundation)

Pengantar

Ramadhan tahun 1439 H sebentar lagi segera menyapa kita. Kurang lebih 20 hari lagi kita akan bersama-sama menikmati sajian demi sajian keberkahan selama Rramadhan. Sebuah penantian panjang yang tentu sudah jauh-jauh hari kita nantikan kehadirannya. Kebahagiaan dan kegembiraan itu kemudian sejatinya tergambar dari sejauh mana kita mampu menghadirkan suasana ruhiyyah “Rasa Ramadhan” di bulan Sya’ban ini. Upaya manusiawi yang mesti kita lakukan dari sekarang tentu memperbanyak doa agar Alloh mempertemukan kembali kita dengan bulan Ramadhan dan kita diundang menjadi tamunya dibulan itu.

Bulan Ramadhan sebentar lagi membersamai hari-hari kita, tidak lama hanya sebulan lamanya. Singkatnya waktu Ramadhan harus menjadi bahan motivasi kita bersama agar Ramadhan tidak sekedar menggugurkan kewajiban. Ramadhan harus menjadi madrasah ruhiyyah bagi kita semua. Ramadhan harus menjadi bagian dari wasilah Alloh menurunkan kemenangan demi kemenangan kepada kita. Tentu itu semua mampu kita optimalkan manakala kita memiliki persiapan mental lebih awal. Pengkondisian mental itulah yang dilakukan Rasulullah Saw selama bulan Sya’ban dengan beragam ketaatan yang beliau lakukan. Tidak ada yang baru yang dilakukan Rasul dibulan Sya’ban berkaitan dengan aktivitas ibadahnya, hanya saja beliau memilih ibadah shaum sunnah menjadi salah satu titik fokus ibadah yang mana interval dan determinasinya ditingkatkan dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Aktivitas ketaatan kita kepada Alloh sejatinya tidak boleh mengenal musim. Setiap waktu dan setiap saat sejatinya kita selalu istiqomah berada dalam jalur ketaatan dan penghambaan kepada-Nya. Namun tentu kita pun menyadari kualitas iman kita masing-masing yang memiliki kondisi yang berubah-ubah. Terkadang menguat terkadang melemah. Terkadang mampu melakukan pentrasi amal yang besar dengan jangkauan yang kuat, atau bahkan terkadang tersungkur jatuh ke dasar tanah dan lama untuk bangkit lagi. Kondisi keimanan seperti ini wajar terjadi bagi seorang mukmin. Yang tidak wajar justru kita tidak memiliki awareness terhadap kondisi iman kita masing-masing. Sinyal kita menangkap gejala demi gejala yang akan menggerus keimanan menjadi lemah bahkan cenderung mati sehingga kita tidak lagi memiliki sensitifitas keimanan yang menjadi ruh dari keimanan itu sendiri. Kenikmatan demi kenikmatan yang Alloh berikan tidak menjadi sarana untuk semakin bersyukur dan menjadikannya energi untuk semakin merapatkan hubungan kepada-Nya. Seorang ulama pernah berkata:Setiap kenikmatan yang tidak mampu mendekatkan dan merekatkan hubungannya dengan Alloh, maka sejatinya kenikmatan itu menjadi musibah bagi kehidupannya.”

Sejatinya kita mampu menangkap isyarat dari ungkapan diatas. Beragam kenikmatan yang Alloh limpahkan kepada kita hari ini, ketika tidak semakin merapatkan hubungan kita kepada-Nya ternyata berbuah menjadi musibah, seberapa besar pun kenikmatan itu. Sebaliknya, disaat kita pandai mensyukuri nikmat dan menjadikan setiap ragam kenikmatan itu berbanding lurus dengan ragam ketaatan yang kita lakukan, maka Alloh akan hadirkan kenikmatan demi kenikmatan lain diluar jangkauan kita mendapatkan kenikmatan itu sebelumnya.

Menghadirkan Suasana Ramadhan di Bulan Sya’ban

Suatu hari Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah. Beliau berkata: “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa di satu bulan melebihi puasamu di bulan Sya’ban?”. Rasulullah Saw kemudian menjawab pertanyaan Usamah,Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan inilah amalan perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam. Karena itu aku ingin saat amalku diangkat kepada Alloh, aku sedang berpuasa. (HR. An-Nasa’i dengan derajat hadis Hasan).

Aisyah –istri tercinta Nabi- pun menambahkan dalam riwayat lain bahwa Rasul tidak pernah berpuasa sunnah disatu bulan yang lebih banyak daripada bulan Sya’ban. Sungguh beliau berpuasa penuh pada bulan Sya’ban ini. (HR. Al Bokhori)

Imam Ibnu hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari mengomentari hadis Aisyah diatas:

“Kalimat berpuasa sebulan penuh adalah ungkapan majazi. Dalam ungkapan bahasa arab, seseorang boleh mengatakan “berpuasa sebulan penuh” padahal yang dimaksud adalah berpuasa pada sebagian besar hari dibulan itu.”

Hadis diatas mengisyaratkan kepada kita tentang bagaimana Rasulullah mengajarkan dan mencontohkan untuk menghadirkan suasana serta menyiapkan mental Ramadhan dari bulan Sya’ban. Bahkan saking pentingnya bulan ini, Rasul menegaskan bahwa bulan ini banyak dilalaikan oleh kebanyakan manusia, termasuk kita mungkin didalamnya. Penegasan kedua,Rasul sampaikan tentang berita dari Alloh bahwa Alloh akan mengangkat amal manusia dibulan ini. Dua penegasan ini sekali lagi menjadi sinyal keseriusan Rasul menyiapkan mental Ramadhan dari bulan Sya’ban. Memperbanyak puasa sunnah dibulan Sya’ban sekali lagi tidak ada puasa sunnah khusus apalagi puasa Sya’ban. Puasa sunnah diatas adalah puasa-puasa sunnah yang sudah biasa dilakukan Rasul dibulan sebelumnya, namun dibulan Sya’ban khususnya, beliau menjaga dan meningkatkan semangat berpuasa itu dengan serius.

Bulan Sya’ban bagi sebagian orang dijadikan kesempatan untuk membayar hutang shaum Ramadhan yang belum sempat tertunaikan pada bulan-bulan sebelumnya. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Ummul Mukminin Aisyah ra,“Aku punya hutang puasa Ramadhan. Aku tidak dapat mengqadhanya kecuali di bulan Sya’ban, karena aku sibuk melayani Rasulullah Saw, (HR. Al-bukhori). Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan: sikap beliau yang sangat berupaya melakukannya dibulan Sya’ban menunjukkan bahwa tidak diperkenankan mengakhirkan qadha sampai memasuki Ramadhan lain (berikutnya).”

Mengakhir-akhirkan qadha puasa tentu memiliki ragam alasan. Ada alasan yang bersifat syar’i dan ada alasan yang tidak bersifat syar’i. Kita sangat memahami alasan seseorang menunda-nunda qadha karena alasan syar’i. Namun yang mengkhawatirkan itu ketika seseorang sengaja menunda-munda qadha puasa tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Tentu ini bahkan bisa masuk kategori berdosa bagi mereka yang selalu bermental seperti ini.

Selain memperbanyak puasa sunnah dibulan Sya’ban dan menjadikan kesempatan untuk membayar hutang puasa Ramadhan, dibulan ini pun Rasulullah Saw menuntun kepada kita untuk segera memperbaiki hubungan dengan sesama manusia dengan membersihkan hati dari perilaku iri dengki, saling bermusuhan dan memutuskan tali silaturahim. Hal ini berdasarkan hadis Nabi Muhammad Saw, beliau bersabda: “Sesungguhnya Alloh menyaksikan semua makhluk-Nya pada malam pertengahan bulan Sya’ban (Nisfu Sya’ban). Maka Ia akan mengampuni mereka kecuali orang yang musyrik (mempersekutukan Alloh) dan musyahin (yang memusuhi). (HR. Ibnu Majah, Thabrani, Ibnu Hibban, Baihaqi dan dishahihkan oleh Imam Al-albani dalam kitabnya)

Ibnu Al-Atsir menjelaskan hadis ini, maksud Al-musyahin adalah Al-Mmu’adi (yang memusuhi, yang dengki, tidak akur dan memutuskan silaturahim). Sedangkan menurut Imam Al-Auza’i yang dimaksud dengan musyahin pada hadis diatas adalah shohibul bid’ah (pelaku bid’ah yang memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin).

Kita semua bersepakat bahwa ketika Ramadhan telah tiba dan kita diundang menjadi tamu Alloh didalamnya, kita ingin berada dalam kondisi yang segar baik kondisi keimanan, fisik dan perasaan. Tentu hal-hal yang seyogyanya akan mengganggu kekhusyuan dalam beribadah dibulan Ramadhan harus segera kita selesaikan dibulan Sya’ban ini. Maka berdasarkan petunjuk hadis diatas, kita mesti segera melakukan rekonsiliasi ukhuwwah. Merajut kembali benang-benang keakraban dan kebersamaan yang mungkin sudah mulai memudar bahkan terputus disebabkan egoisme masing-masing, atau disebabkan adanya perbedaan pandangan serta kecenderungan yang kemudian membuka jarak antara kita dengan orang lain.

Maka dari itu, diperlukan tiga mental sekaligus untuk menuntaskan perkara ini agar tidak terus berlarut dan mengganggu kelancaran ibadah puasa kita. Tiga mentalitas itu ialah perlawanan, determinasi dan kreativitas. Kita mesti berani melawan egoisme masing-masing dan menyalurkannya menjadi energi positif dalam sikap dan perilaku kita. Kita juga mesti berani melawan apapun upaya dan tindakan yang akan mengarah kepada perpecahan dan merusak soliditas kebersamaan. Setelah itu mari kita hadirkan determinasi yang kuat untuk mencapai rekonsiliasi ukhuwwah diatas disertai kreativitas amal yang mampu menghadirkan harapan akan terwujudnya kebaikan demi kebaikan untuk semua.

Penutup

Ramadhan tinggal sebentar lagi, hanya tinggal menghitung hari. Mari bersama kita bersegera menyambutnya dengan penuh suka cita. Mari bersama kita sambut ia dengan segenap kesungguhan dan keseriusan. Kehilangan kesempatan beramal didunia hanya akan menghadirkan penyesalan selamanya nanti diakhirat. Dihadapan kita ada kesempatan beribadah puasa dengan  Rrgam fasilitas pahala yang luar biasa. Mari kita manfaatkan untuk menabung sebanyak-banyaknya amal kebaikan agar Alloh semakin mencintai kita. Agar Alloh semakin memantaskan kita layak untuk menjadi kandidat penerima anugrah surga dengan segala isinya.

Selamat berjuang. Semoga Alloh meridhoi setiap langkah dan usaha kita dalam rangka mentaatinya. Semoga Alloh sanggupkan pundak kita untuk memikul beban dan menunaikannya dengan sebaik-baiknya hingga Alloh meridhoi perjuangan kita. Wallohu ‘Alam.

*gambar ilustrasi: google.com


Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.