Oleh: H. Deni Mardiana, Lc. (Dewan Pengawas Syariat Indonesia Berbagi Foundation)

Islam adalah agama yang komprehensif, mengatur seluruh urusan kehidupan manusia. Syariat islam Alloh turunkan agar manusia memiliki pegangan dan sandaran dalam melakukan aktifitasnya, tidak serampangan dalam beramal dan selalu memastikan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan agamanya selalu disandarkan pada tuntunan syariat tadi. Salah satu tuntunan islam yang akan kita kupas adalah segala hal yang berkaitan dengan Shaum dan Ramadhan. Dengan harapan ibadah shaum kita selamat dari praktik ibadah yang tidak berdasarkan kepada dalil yang shohih dan menentramkan jiwa kita karena apa yang kita lakukan selama shaum ramadhan berdasarkan tuntunan Alloh dan Rasul-Nya.

A. Keutamaan Bulan Ramadhan

Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah saw. bersabda, “Penghulunya bulan adalah bulan Ramadhan dan penghulunya hari adalah hari Jum’at.” (HR. Thabrani)

Rasulullah saw. bersabda, Kalau saja manusia tahu apa yang terdapat pada bulan Ramadhan, pastilah mereka berharap Ramadhan itu selama satu tahun.” (HR. Thabrani, Ibnu Khuzaimah, dan Baihaqi)

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Apabila datang bulan shaum, dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw. juga bersabda, “Apabila datang malam pertama bulan Ramadhan, para setan dan jin kafir akan dibelenggu. Semua pintu neraka ditutup sehingga tidak ada satu pintu pun yang terbuka; dan dibuka pintu-pintu surga sehingga tidak ada satu pun yang tertutup. Lalu terdengara suara seruan, “Wahai pencari kebaikan, datanglah! Wahai pencari kejahatan, kurangkanlah. Pada malam itu ada orang-orang yang dibebaskan dari neraka. Dan yang demikian itu terjadi pada setiap malam.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

B. Keutamaan Shaum Ramadhan

Secara bahasa shaum artinya menahan dari segala sesuatu. Menurut istilah shaum adalah “menahan diri dari makan, minum dan berhubungan suami istri dari ba’da shubuh sampai qabla magrib karena mengharap pahala Alloh, mendidik jiwa dan menyiapkan diri menjadi pribadi yang bertaqwa” (Tafsir Al-manah 2.152).

Target utama melakukan shaum dibulan ramadhan adalah menjadi pribadi yang bertaqwa, hal ini sesuai dengan tuntunan dalam surat albaqarah ayat 183. Kemudian Rasul menguatkan dalam hadisnya bahwa ibadah shaum dibulan ramadhan dapat menghapuskan dosa-dosa manusia yang telah lampau (selama tidak melakukan dosa besar). Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan penuh harap, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang shalat malam pada bulan puasa, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam kitab Al-Mulakkhash Al-Fiqhy (Shaleh ibn Fauzan Al-Fauzan), shaum Ramadhan dimulai setelah masuk waktu bulan Ramadhan, yang diketahui melalui tiga cara, yaitu :

1. Terlihatnya bulan baru (hilal).

2. Jika langkah 1 tidak memungkinkan, maka dengan menerima kesaksian orang yang melihat hilal.

3. Jika langkah 2 tidak memungkinkan, maka dengan menggenapkan bulan Sya’ban (bulan sebelum Ramadhan) menjadi 30 hari.

Puasa Ramadhan wajib bagi seorang Muslim, mukallaf (terbebani dengan Syariat Islam), dan mampu menjalaninya. Dengan demikian, orang non muslim tidak wajib dan tidak sah puasanya, demikian pula orang yang  gila. Anak kecil belum termasuk mukallaf, sehingga tidak wajib atasnya puasa Ramadhan. Namun disunnahkan atasnya, sebagai pendidikan/pembinaan baginya.

C. Hikmah Shaum Ramadhan

Secara umum, ada beberapa hikmah melaksanakan shaum dibulan ramadhan, diantaranya :

Menyucikan jiwa/ruh, menjaga jiwa/ruh dari keburukan dan perbuatan tercela, mempersempit jalannya setan di dalam badan manusia yang mengalir melalui darah, menekan syahwat, menguatkan semangat, menguatkan ibadah, menumbuhkan sikap zuhud/menahan diri dari dunia, meningkatkan empati dan merasakan kesulitan orang miskin, dengan menahan lapar serta dahaga, menjaga diri dari perkataan dan perbuatan buruk.

D. Yang Dibolehkan Tidak Berpuasa

Berikut ada catatan yang dirangkum beberapa referensi seputar hal-hal yang dibolehkan tidak melaksanakan shaum dibulan ramadhan :

1. Orang yang berada dalam perjalanan. Seseorang boleh tidak shaum di bulan Ramadhan dan menggantinya di bulan lain, jika perjalanannya menempuh kurang lebih 90 km dan safarnya bukan untuk maksiat serta perjalanannya dimulai sebelum fajar. Namun Imam Hanbali membolehkan berbuka, walaupun safarnya dimulai pada siang hari. Alasan dibolehkannya berbuka adalah karena safar mengandung masyaqqah (kesusahan). Jika seseorang yang safar mengambil rukshah ini, ia wajib mengganti puasanya itu di hari lain sejumlah hari ia tidak berpuasa.

2. Orang yang sedang sakit. Sakit yang masuk dalam kategori ini adalah sakit yang dapat menghambat kelangsungan ibadah puasa dan berdampak pada keselamatan fisik jika dia tetap berpuasa. Untuk memutuskan dan menilainya, diperlukan pendapat dokter. Jika seseorang tidak berpuasa karena sakit, ia wajib mengganti puasa yang ditinggalkannya di bulan lain ketika ia sudah sehat. Namun para ulama membolehkan bagi mereka yang sakit parah dan sulit ada harapan sembuh menurut rekam medis, maka baginya cukup fidyah saja.

3. Wanita hamil dan ibu menyusui. Wanita hamil atau ibu menyusui boleh tidak berpuasa, tapi harus menggantinya di hari lain. Jika dia tidak berpuasa karena takut dengan kondisi dirinya sendiri, maka hanya wajib bayar qadha’ saja. Tapi jika dia takut akan keselamatan janin atau bayinya, maka wajib bayar qadha’ dan fidyah berupa memberi makan sekali untuk satu orang miskin. Hal ini diqiyaskan dengan orang sakit dan dengan orang tua yang uzur.

4. Orang yang lanjut usia. Orang yang sudah lanjut usia dan tidak sanggup puasa lagi tidak wajib puasa, tapi wajib bayar fidyah dengan memberi makan seorang miskin sebanyak hari yang ditinggalkan.

5. Orang yang mengalami keletihan dan kehausan yang berlebihan. Jika kondisi itu dikhawatirkan mengganggu keselamatan jiwa dan akal, maka boleh berbuka dan wajib qadha’.

6. Orang yang dipaksa (ikrah) tidak berpuasa. Orang seperti ini boleh berbuka, tapi wajib mengqadha’. Kondisi ini biasanya dialami oleh muslim minoritas, dimana mereka hidup dibawah tekanan penguasa yang melarang shaum ramadhan seperti yang dialami muslim moro di Filiphina, muslim pathani di Thailand, muslim di Somalia, dan belah bumi lainnya.

7. Para pekerja berat yang tidak memiliki kesempatan mencari rizki yang lain, kecuali pekerjaan itu. Dengan catatan, dia memang merasa kesulitan jika harus shaum sambil bekerja dan tidak ada waktu untuk istirahat dibulan ramadhan dari aktifitas pekerjaannya. Bagi mereka diwajibkan membayar fidyah.

E. Adab-adab dalam melaksanakan Shaum Ramadhan

Dalam kitab fiqh sunnah karya Syekh Sayyid Sabiq, terdapat beberapa adab dalam melaksanakan shaum ramadhan, diantaranya :

1. Sahur. Dari Anas Bin Malik –semoga Alloh meridhoiny- berkata, rasulullah Saw bersabda :

“lakukanlah sahur, karena diwaktu sahur ada keberkahan” (HR. Bukhori Muslim). Keberkahan disini bukan hanya kenikmatan makan dan minum diwaktu sahur karena kita akan shaum seharian, keberkahan pun akan kita dapatkan karena kita memiliki kesempatan yang banyak untuk shalat sunnah, berdzikir, baca alquran dan berdoa sebanyak-banyaknya karena diwaktu sahur Alloh turun kelangit dunia.

2. Menyegerakan Berbuka. Dari Sahal Bin Sa’d bahwa rasulullah Saw bersabda : “manusia berada dalam kebaikan, selama ia menyegerakan berbuka puasa” (HR. Bukhori Muslim)

3. Berdoa menjelang berbuka dan sepanjang melaksanakan shaum. Dari Abdullah Bin ‘Amr Bin ‘Ash bahwa nabi Muhammad Saw bersabda : “Bagi yang berpuasa yang berdoa ketika menjelang berbuka,doanya tidak akan ditolak” (HR. Ibnu Majah)

4. Menahan dari dari hal-hal yang merusak pahal shaum. Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda : “orang yang tidak mampu meninggalkan kata-kata kotor (jorok) dan pekerjaan yang tidak bermanfaat (selama ramadhan) makan Alloh tidak menerima ibadah shaumnya kecuali menahan lapar dan hausnya saja” (HR. Al-jamaah kecuali muslim)

5. Bersiwak (sikat gigi). Dibolehkan bersiwak dalam menjaga kesehatan mulut dan menghindari dari bau mulut selama shaum ramadhan.

6. Bersemangat membaca dan mempelajari Alquran. Dari Ibnu Abbas berkata : Rasulullah adalah manusia yang paling bersemangat (dalam beribadah), dan beliau lebih bersemangat beribadah pada bulan ramadhan, terutama dikala ditemui malaikat jibril. Jibril datang menemui rasul setiap malam dibulan ramadhan lalu mengajarkan alquran kepada Rasulullah Saw. Rasul sangat responsif dan bersemangat beribadah melebihi angin yang berhembus kencang. (HR. Bukhori)

7. Bersemangat melakukan ibadah disepuluh hari terakhir dibulan ramadhan. Hal ini sesuai sabda nabi, dari Aisyah RA, Rasulullah apabila memasuki sepuluh hari terakhir (dibulan ramadhan), beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya. (HR. Bukhori Muslim)

F. Hal-hal yang membatalkan shaum

Secara umum hal-hal yang membatalkan shaum ada dua : Pertama, hal yang membatalkan shaum dan dia wajib mengqhodonya. Kedua, hal yang membatalkan shaum dan dia wajib qhodo dan melakukan kifarat.

Pertama, Hal yang membatalkan shaum dan wajib qhada. Diantaranya :

a.  Makan dan minum dengan sengaja

b.  Muntah dengan sengaja

c.  Haid dan nifas bagi perempuan

d.  Onani / masturbasi

e.  Mencicipi makanan secara berlebihan

f.  Suntik infus dan suntik vitamin

Kedua, hal yang membatalkan shaum dan wajib qadha serta kifarat.

Khusus poin yang kedua ini pelanggarannya ialah melakukan hubungan suami istri diwaktu siang. Hal ini sesuai dengan kesepatan jumhur ulama.

Demikianlah hal-hal yang berkaitan dengan fiqh seputar shaum dan ramadhan. Semoga menambah keyakinan dan pemahaman kepada kita. Beribadah itu adalah tuntutan dan kewajiban, maka mencari ilmu dan memahami ragam kajian yang berkaitan dengan ibadah tertentu mutlak menjadi kewajiban fardiyah yang tidak boleh dilupakan. Banyak ragam pemahaman fiqh diluar sana, prinsip yang kita pegang ialah selama pemahaman itu bersandar pada keterangan yang bisa dipertangungjawabkan, maka sikap kita adalah menghargai perbedaan pendapat itu. Tidak kemudian membenturkan dengan pemahaman fiqh kita, bahkan mengklaim bahwa fiqh kitalah yang paling benar. Wallohu ‘Alam.

*foto: youtube.com


Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.