Oleh: H. Deni Mardiana, Lc. (Dewan Pengawas Syariah Indonesia Berbagi Foundation)

Perjalanan dakwah Rasulullah Saw dalam rangka menyebarkan risalah Alloh Swt tidaklah mudah. Dari awal perjalanan dakwah di Mekkah, Rasul sudah menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan yang berat dalam dakwahnya. Mulai dari kekerasan verbal dengan hinaan dan stigma negatif tentang beliau dengan sebutan orang gila, penyebar cerita bohong, sampai kekerasan fisik berupa boikot dan perlakuan-perlakuan kafir quraisy yang membuat Rasul terluka. Kondisi-kondisi tersebut tidak jarang membuat Rasul putus asa dalam dakwah bahkan sempat terlintas dalam pikiran Rasul untuk mundur dari perjuangan dakwah tersebut. Namun Alloh tidak membiarkan Rasul dalam kondisi tersebut, Alloh segera menguatkan kembali mental dakwah Rasul dengan berbagai macam tashliyah (hiburan jiwa). Diantara tashliyah yang Alloh berikan kepada Rasul ialah peristiwa isra dan mi’raj.

Para ulama sejarah islam semisal DR. Musthafa As-siba’i, DR. Ramadhan Al-buthy dan DR. Muhammad As-shallaby bersepakat bahwa peristiwa isra dan mi’raj terjadi setahun sebelum Rasul melakukan hijrah ke madinah atau ditahun ke dua belas setelah diutusnya muhammad menjadi Rasul. Ditahun-tahun itu, Rasul dan para sahabat menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan berat berupa intimidasi, pemboikotan ekonomi dan penyiksaan fisik yang dilakukan kafir quraisy kepada kaum muslimin. Blokade yang dilakukan kafir quraisy baik blokade politik maupun ekonomi,mengakibatkan terjadinya kelaparan massal dikalangan kaum muslimin Mekkah, apalagi blokade tersebut terjadi selama 3 tahun. Semua itu mereka lakukan dengan tujuan agar Rasul menghentikan dakwahnya, agar Rasul tidak lagi mengajak masyarakat arab untuk berpindah keyakinan. Kelaparan massal yang dialami kaum muslimin mencapai puncaknya. Kelaparan itu mengakibatkan mereka harus memakan dedaunan disebabkan tidak adanya bahan-bahan yang bisa dimasak dan dimakan. Sungguh kondisi yang sangat mencekam dan membuat luka hati Rasulullah Saw dan kaum muslimin pada waktu itu.

Tahun-tahun penuh pederitaan belumlah usai. Ditahun kesepuluh setelah muhammad diutus menjadi Rasul, penderitaan itu semakin bertambah. Pertama, meninggalnya sang paman Abu Thalib yang selama ini vokal membela dakwah Rasul dan selalu berada di front terdepan memberikan perlindungan terhadap dakwah Rasul dari upaya jahat kaum kuffar mekkah. Kemudian disusul dengan meninggalnya sang istri tercinta Khadijah Al Khuwailid yang selalu setia menemani perjuangan dakwah Rasul dan menjadi orang pertama yang mengakui kerasulan Muhammad Saw. Tribulasi ujian demi ujian ini semakin menjadikan Rasul tertekan jiwanya. Masalah pertama belum usai, masalah kedua datang tak terduga. Begitulah mungkin gambaran perasaan yang dialami Rasul pada waktu itu. Karena bertubi-tubinya ujian tersebut, para ulama sejarah islam menyebutkan bahwa tahun itu dinamakan dengan ‘Amul Huzn’ atau Tahun kesedihan.

Rasul semakin tertekan dengan berbagai macam kesedihan yang menimpanya, sampai-sampai beliau merasa putus asa menghadapi kejahatan kuffar  quraisy Mekkah. Rasul tidak ingin terus berada dalam kesedihan, da’wah must go on. Rasul memutuskan untuk berdakwah ke sebuah qabilah di daerah thaif. Dengan harapan dakwah bisa menemukan tempatnya di wilayah tersebut. Namun, harapan tinggallah harapan. Bukan penerimaan dakwah yang baik dari penduduk thaif, Rasul dan para sahabat justru mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan. Mereka mendapat pengusiran dari penduduk thaif.  Hinaan, cacian dan lemparan batu, sampai kaki Rasul terluka- menjadi santapan yang diterima Rasul dan para sahabat pada saat itu. Kebodohan penduduk thaif dan hasutan kaum kuffar quraisy menjadi alasan utama penolakan tersebut. Namun, Rasul tidak membalas hinaan dan lemparan batu itu dengan balasan yang sama. Rasul membalas mereka dengan sebuah ungkapan doa : Ya Alloh, aku adukan  semua kelemahan tenagaku dan ketidak berdayaanku dalam mengendalikan manusia. Duhai Alloh yang maha rahman, Engkaulah Rabb nya kaum lemah dan Engkaulah Rabbku.Betapa mulianya akhlaq Rasul, betapa luasnya samudra maaf Rasulullah Saw. Peristiwa penolakan dakwah dan pengusiran yang dialami Rasul di thaif menjadi kenangan yang sulit dilupakan. Sehingga, ketika Aisyah bertanya kepada Rasul peristiwa apa yang pernah engkau alami yang lebih menderita daripada peristiwa uhud? Rasul menjawab : peristiwa pengusiran penduduk thaif. Namun, walaupun begitu, Rasul tidak dendam, tidak membalas mereka dengan balasan yang sama.

Bumi terasa sunyi, gelap tak bercahaya. Himpitan dan tekanan kafir quraisy memenuhi ruang bumi Mekkah pada saat itu. Nafas dakwah islam di Mekkah terasa sempit. Ruang geraknya begitu terbatas. Langkah demi langkah terhalang dinding hegemoni kesombongan dan kejahatan kafir durjana. Puzzle perjuangan dakwah sulit disusun, selalu saja mendapat hempasan demi hempasan dari musuh dakwah. Alloh tidak ingin membiarkan orang yang dicintaiNya terus berada dalam tekanan demi tekanan. Alloh tidak ingin melihat Rasul bersedih menerima ujian dakwah yang berat ini. Alloh ingin segera yang diberkahi memberikan jalan keluar dari kesulitan yang dialami Rasul. Perjalanan iman pun dimulai. Alloh ingin mengembalikan semangat dakwah Rasul. Alloh ingin menguatkan kembali keyakinan Rasul akan kebenaran janjiNya menolong siapa saja yang selalu menolong agama Alloh. Perjalanan syarat hikmah itu kemudian diabadikan dengan nama Isra & Mi’raj.

Dua tempat bersejarah menjadi saksi perjalanan ruhiyyah itu berlalu. Ruh dan jasad, buraq dan keheningan malam menemani perjalanan panjang sang nabi mulia menembus batas nalar manusia dan cakrawala alam semesta. Di malam itu tepatnya malam 27 Rajab, Rasulullah Saw melakukan perjalanannya sendirian dimalam hari, disaat manusia terlelap dalam mimpinya. Rasul dibawa rihlah oleh malaikat jibril menemui beberapa nabi dan Rasul. Pertemuan itu bukan tanpa alasan, Alloh ingin mengingatkan Rasul bahwa perjuangan menyebarkan risalah itu tidak sendirian. Sudah ada nabi dan Rasul sebelum beliau yang melakukan kerja-kerja dakwah itu. Ujian dakwah yang dialami Rasul, juga dialami oleh mereka. Namun para nabi dan Rasul itu mampu melalui ujian demi ujian sehingga estafeta perjalanan dakwah sampai ke pundak Rasulullah Saw. Isyarat inilah yang harus ditangkap oleh Rasul dari pertemuan itu. Kemudian, Rasul dibawa mi’raj ke beberapa tempat termasuk ke surga dan neraka. Ini pun syarat dengan pesan dan hikmah. Alloh ingin mengingatkan Rasul bahwa akhir dari semua perjalanan panjang dunia dan akhirat itu berujung di surga dan neraka. Perjalanan dakwah yang panjang, ujian demi ujian harus menjadi energy yang mampu mengantarkan Rasul kepada kemuliaan dan surgaNya. Kemudian Alloh Swt menitipkan sebuah risalah agung sebagai bekal kehidupan, sebagai bekal menghadapi kerasnya tantangan dakwah di masa depan. Risalah agung itu dinamakan Shalat. Inilah oleh-oleh berharga yang Rasul dapatkan dari pejalanan panjang nan sunyi itu. Inilah bekal utama dalam mengembalikan semangat, menguatkan keyakinan dan menancapkan langkah dijalan dakwah. Inilah syarat utama Alloh menolong hambaNya. Karena kemenangan dakwah tidak selalu linier dengan usaha dan kehebatan strategi manusia menempuhnya. Kemenangan dakwah didapatkan semata-mata karena kita selalu menjaga keharmonisan hubungan dengan Alloh Swt dengan beragam ketaatan dan amal shaleh. Begitulah secara singkat perjalan Isra & mi’raj Rasulullah Saw pada waktu itu.

Rasul pun kembali ke Mekkah dengan ruh iman dan semangat yang baru. Membawa pesan ilahiah yang luar biasa menguatkan pundak dan langkah Rasul menapaki kembali jalan dakwah yang sebelumnya terasa sempit, keras dan syarat turbulensi ujian. Kegembiraan Rasul melakukan isra & mi’raj disebarkan kepada para sahabat nabi tak terkecuali juga sampai ke telinga kaum musyrikin Mekkah. Tidak sedikit, diantara para sahabat yang belum sepenuhnya percaya akan peristiwa yang baru saja dialami Rasul. Apalagi orang musyrikin, mereka malah mengejek dan menghina Rasul atas kejadian tersebut. Tampillah sahabat mulia Abu Bakar. Disaat sahabat yang lain masih belum percaya, dengan kematangan iman dan ketsiqahan yang tinggi kepada Rasul, Abu Bakar menegaskan bahwa apa yang Rasul alami melakukan perjalanan malam dari Mekkah ke Palestina kemudian menembus 7 langit sampai ke sidratul muntaha adalah benar dan nyata adanya. Setelah mendapatkan penjelasan dari Abu Bakar, para sahabat pun percaya dan menyatakan kebenaran atas peristiwa Isra & Mi’raj nya Rasulullah Saw.

Empat belas abad yang lalu peristiwa itu berlalu dari kita. Namun kehangatan kenangan dan hikmahnya tidak akan pernah hilang ditelan masa. Pesan mendalam dari peristiwa Isra’ & Mi’raj harus menjadi bahan renungan dan kajian kita bersama. Bukan saja dari sisi merayakan yang sifatnya ceremonial semata, jauh dari itu kita harus terus merayakannya setiap saat dan sepanjang hayat dalam ruang-ruang penghambaan kita yang panjang nan khusyu. Rasul pun manusia biasa, sama seperti kita. Kesedihan, kegundahan, dan keputus-asaan dalam mengarungi jalan dakwah dan kehidupan pernah bahkan sempat beliau rasakan. Namun Rasul tidak terus berlarut dalam suasana itu. Alloh segera jalan keluar dari situasi dan kondisi yang beliau alami. Solusi dan jalan keluar itu adalah isra & mi’raj dengan segudang hikmahnya. Hal ini memberikan isyarat bahwa permasalahan hidup dan ujian hidup yang kita alami harus segera kita tuntaskan. Isra dan Mi’raj adalah solusinya. Selalulah meng-isra-kan diri kita dengan selalu menghidupkan malam dengan beragam investasi amal ketaatan. Hendaklah kita me-mi’raj-kan diri dengan ketundukan dan kekhusyuan mendalam melalui aktivitas shalat-shalat kita. Karena sejatinya, shalat adalah mi’rajul mukmin. Shalat adalah sarana efektif dalam melangitkan jiwa kita tanpa lupa diri bahwa kita tetap berada dibumi. Shalat adalah tempat dimana Alloh mengangkat diri seorang mukmin ketempat mulia disisiNya. Wallohu ‘alam.








Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.