Oleh: H. Deni Mardiana, Lc. (Dewan Pengawas Syariat Indonesia Berbagi)


Pengantar

Pergantian siang dan malam, perjalanan hidup manusia dari tahun ke tahun dan pergantian tahun yang dialami manusia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tanda-tanda kekuasaan Alloh. Alloh SWT berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Alloh) bagi orang-orang yang berakal. (QS. Ali Imron: 190)

Terlalu banyak limpahan kenikmatan yang telah Alloh berikan. Terlalu banyak pula kebaikan-kebaikan yang selalu Alloh hadirkan dalam kehidupan kita. Keberlimpahan itu sejatinya memberikan energi positif agar kita semakin berdaya dan bermanfaat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Umar Bin Abdul Aziz, beliau berkata: Berbicara untuk dzikir kepada Alloh SWT adalah baik, dan berfikir tentang nikmat-nikmat Alloh lebih utama daripada ibadah.Kenikmatan demi kenikmatan itu harus menjadi daya ungkit semangat produktifitas kita dalam menghamba kepada-Nya.

Diantara sekian banyak kenikmatan yang sedang kita rasakan hari ini, alhamdulillah kita telah memasuki tahun baru hijriyyah 1440 H. Tahun baru hijriyyah ini sejatinya menghadirkan suasana baru, semangat baru dan motivasi baru untuk semakin produktif dan semakin lebih baik. Bahkan, keutamaan awal tahun ini semakin lengkap karena berada di bulan Muharram, sebuah bulan yang dimuliakan oleh Alloh SWT. Hal ini  sesuai dengan Firman-Nya:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًۭا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌۭ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةًۭ كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةًۭ ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”(QS. At-Taubah: 36)

Dalam ayat di atas, Allah mengajarkan kepada manusia bahwa Dia Maha Kuasa dan Maha Memiliki satu waktu bernama tahun. Dalam satu tahun ada dua belas bulan. Bulan-bulan itu ialahMuharrom, Shofar, Robiul Awwal, Robiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rojab, Sya’ban, Romadhon, Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Di antara dua belas bulan tersebut terdapat bulan-bulan istimewa menurut Allah yang disebut sebagai bulan-bulan haram. Bulan istimewa tersebut berjumlah empat. Hal ini sesuai sabdanya:

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari & Muslim)

Bulan haram yang dijelaskan Nabi Muhammad adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Apa maksud dari haramnya bulan-bulan ini? Para alim ulama menjelaskan dalam kitab-kitab mereka tentang sebab yang menjadikan empat bulan ini lain dari yang lain. Kata haram disini mungkin lebih tepat jika disebut mulia, suci, atau terhormat sebagaimana kata haram yang dinisbatkan kepada sutu masjid termulia yaitu Masjidil Haram.

Empat bulan haram di atas nampaknya harus kita kupas satu persatu agar kita memiliki wawasan yang luas tentang hal tersebut.

Keutamaan Empat Bulan Haram

A. Bulan Muharam

Bulan Muharram termasuk bulan yang dimuliakan oleh Alloh, berdasarkan QS. At-taubah: 36. Maksud kalimat Haram dalam ayat tersebut bisa kita fahami dari ungkapan Ibnu Abbas berikut ini:Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arif, 207)

Ungkapan Ibnu Abbas di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa di bulan ini kita dituntut untuk mampu memanfaatkan kesucian dan kemuliaan bulan Muharram dengan beragam amal kebaikan dan menjauhi beragam amal keburukan.

Diantara bentuk keseriusan kita untuk memanfaatkan bulan mulia ini dengan beragam aktivitas ketaatan, Rasulullah menganjurkan untuk melakukan shaum Tasu’a dan Asyura (shaum tanggal 9-10 Muharram. Hal ini berdasarkan petunjuk hadis-hadis berikut:

- Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

Hadits di atas menunjukkan keutamaan puasa di bulan Muharram secara umum, termasuk di dalamnya adalah puasa Asyura.

- Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim)

Selain ada anjuran melaksanakan puasa Tasu’a & Asyura, bulan Muharram pun menjadi saksi sejarah dari selamatnya Nabi Musa dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Alloh menyelamatkan Nabi Ibrahim dari panasnya api yang ditimpakan oleh Raja Namruz kepadanya. Alloh mengeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan dan Alloh mengangkat Nabi Isa ke langit. Dan masih banyak yang lainnya yang menggambarkan kesucian serta kemuliaan bulan ini.

B. Bulan Rajab

Rajab termasuk bulan haram. Ketika menjelaskan QS. At-Taubah ayat 36, imam Ibnu Katsir berkomentar: “Sesungguhnya mengerjakan perbuatan dzalim di bulan-bulan haram, maka dosa dan sanksinya jauh lebih besar dibandingkan melakukan perbuatan dzalim di bulan-bulan lainnya, begitupun sebaliknya perbuatan amal shaleh di bulan haram pahalanya lebih besar daripada dilakukan di luar bulan-bulan haram.” Ungkapan Ibnu katsir ini menguatkan kembali pemahaman kita bahwa memang tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk terus berama shaleh di bulan haram dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan dosa.

Mengenai keutamaan bulan Rajab, Buya Hamka dalam Tafsir Al-azhar menyebutkan bahwa bulan Rajab adalah bulan yang dihormati. Beliau menjelaskan: “ Enam bulan selepas haji itu, yaitu pada bulan Rajab dijadikan lagi bulan yang dihormati. Hentikan berperang, hilangkan dendam kesumat, supaya dapat pula mengerjakan umrah di bulan suci ini. Sampai ke zaman kita sekarang ini, buat seluruh tanah arab, dipandang bahwa bulan Rajab adalah bulan ziarah besar, mengerjakan umrah. Penduduk mekkah sendiri mengadakan ziarah besar ke makam Rasulullah saw.”

Bulan Rajab dekat ke bulan Ramadhan. Walaupun ada hadis dhoif yang berisi doa keberkahan di bulan Rajab & Sya’ban dan diberi kesempatan berpuasa di bulan Ramadhan, hal ini menunjukkan bahwa bulan rajab adalah bulan yang sangat dihormati. Selain itu, di bulan ini pun ada peristiwa penting dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw. Tanggal 27 Rajab menjadi saksi sejarah peristiwa Isra & Mi’ajnya Nabi Muhammad saw. Sebuah perjalanan suci nan agung untuk mendapatkan beragam hikmah dan pelajaran disertai kewajiban melaksanakan titah untuk shalat lima waktu.

Tidak ada amalan khusus di bulan Rajab, selain memperbanyak doa agar mendapat keberkahan. Amalan umum yang sudah biasa kita lakukan yang harus kita tingkatan intervalnya di bulan ini. Amalan khusus di bulan Rajab tidak memiliki kekuatan dalil yang bisa dipertanggungjawabkan.

C. Bulan Dzulqa’dah

Secara bahasa Dzulqa’dah terdiri dari dua suku kata, Dzu artinya sesuatu yang memiliki sedangkan Al-Qa’dah artinya tempat yang diduduki. Bulan ini dinamai dengan Dzulqa’dah karena kebiasaan masyarakat arab duduk (tidak bepergian) di daerahnya dan tidak melakukan peperangan. Dzulqa’dah bukan bulan sial, seperti yang beredar pada kepercayaan sebagian masyarakat. Justru ini adalah bulan mulia. Sebuah hadis Nabi menguatkan tentang keutamaan bulan ini, Rasulullah saw bersabda: “Nabi Muhammad saw melakukan umrah sebanyak empat kali, semuanya di bulan Dzulqa’dah, kecuali umrah yang dilakukan bersama hajinya. Empat umrah itu adalah umrah hudaibiyyah di bulan Dzulqa’dah, umrah tahun depan di bulan Dzulqa’dah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Diantara keistimewaan lain dari bulan Dzulqa’dah ini, bahwa Alloh SWT berjanji kepada Nabi Musa untuk berbicara kepadanya selama tiga puluh malam di bulan Dzulqa’dah, ditambah sepuluh malam di awal bulan Dzulhijjah berdasarkan mayoritas pendapat para ahli tafsir (Tafsir Ibnu Katsir II/224). Hal ini sesuai dengan firman Alloh:

وَوَاعَدْنَا مُوْسَى ثَلَاثِيْنَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَا بِعَشْرٍ

“Dan telah kami janjikan kepada Musa (untuk memberikan taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam. Dan kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi)….(QS. Al-A’raf: 142)

D. Bulan Dzulhijjah

Bulan Dzulhijjah adalah bulan mulia, termasuk diantara bulan yang Alloh sebutkan dalam Al-Quran dengan Asyhurul Hurum, artinya bulan-bulan mulia dan bulan haram melakukan perbuatan dhalim. Tentu sangat logis jika bulan ini dinamakan bulan mulia, karena ada beberapa syariat yang Alloh tetapkan untuk dilakukan dibulan ini, diantaranya ibadah haji, berqurban, dan menunaikan shalat Idul Adha beserta khutbahnya.

Keutamaan bulan Dzulhijjah disebutkan dalam Al-Quran berada di sepuluh hari pertama, Alloh SWT berfirman:

وَالْفًجْرِ . وَلَيَالٍ عَشْرٍ . وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ (الفجر : 1-3)

“Dan demi waktu fajar. Dan malam-malam yang sepuluh. Dan yang genap dan yang ganjil.” (QS. Al-Fajr: 1-3)

Pada ayat diatas, Alloh bersumpah  dengan beberapa makhluk-Nya. Para ulama mufassirin seperti Ibnu Abbas, Ibnu Zubair dan Mujahid mengatakan bahwa maksud malam yang sepuluh pada ayat diatas adalah sepuluh hari pertama dibulan Dzulhijjah. Alloh bersumpah dengan sepuluh hari pertama dibulan Dzulhijjah karena keutamaan beribadah dihari-hari tersebut. Rasulullah saw besabda:

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام العشر . قالوا يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجعلامن ذلك بشيئ (رواه البخاري)

“Tidak ada hari dimana amal shaleh lebih dicintai oleh Alloh melebihi hari-hari ini –yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah- . Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah tidak juga jika dibandingkan dengan jihad di jalan Alloh? Rasul menjawab: Tidak juga dengan jihad, kecuali seseorang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya serta tidak kembali (gugur sebagai syahid).” (HR. Bukhori)

Penutup

Keistimewaan yang telah Alloh pilih dari sekian bulan yang ada dalam hitungan setahun sejatinya menyadarkan kita semua akan pentingnya mengutamakan keempat bulan ini dibandingan bulan yang lain. Bukan berarti bulan yang lain tidak mulia, namun pemilihan empat bulan di atas tentu memiliki maksud dan tujuan yang sungguh sangat mulia. Semoga Alloh SWT memberikan kesanggupan kepada kita untuk terus beramal shaleh, terutama di bulan-bulan yang haram tadi.

Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.