Oleh: H. Deni Mardiana, Lc. (Dewan Pengawas Syariat Indonesia Berbagi Foundation)

Pengantar

Hidup adalah pengorbanan, merupakan sebuah ungkapan yang sering kita dengar sehari-hari. Sebuah ungkapan yang seolah-olah ingin menggambarkan kerasnya kehidupan dunia dan persaingan yang ketat dalam mencapai segala hasrat keinginan dunia. Untuk mencapai tujuannya, tidak sedikit manusia mengorbankan waktu, tenaga, harta, pikiran bahkan nyawa sekalipun. Agar hasrat dirinya tercapai, terkadang juga manusia menghalalkan segala cara. Singkatnya manusia cenderung siap mengorbankan apapun asal semua keinginannya tercapai.

Dalam islam, berkorban adalah bagian dari konsekuensi perjuangan. Bahkan ia menjadi salah satu syarat diantara syarat diberikannya pertolongan dan kemenangan oleh Alloh SWT. Alloh tidak melihat hasil manusia, namun Alloh melihat sejauh mana manusia berproses sampai mendapatkan hasil atas apa yang diinginkannya. Saat manusia berproses itulah pengorbanan menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Singkatnya pengorbanan mutlak dilakukan dan diperhatikan agar kita mendapatkan hasil sesuai keinginan kita dan Alloh membuka jalan untuk mendapatkan obsesi dan keinginan tersebut.

Berbicara tentang pengorbanan, tentu kita tidak akan pernah melupakan sosok manusia mulia pilihan Alloh. Dialah Ibrahim, sosok yang telah mengajarkan kepada kita hakikat pengorbanan yang sesungguhnya. Beliau memberikan teladan kepada kita bagaimana seharusnya seorang hamba mengabdi kepada Rabb-Nya, dan seperti apa seharusnya pengorbanan itu kita lakukan agar kemudian Alloh meridhoi dan memberikan rahmat kepada kita. ketulusan pengorbanan ibrahim dalam menghamba ternyata menjadi inspirasi bagi kedua istrinya dan anak tercintanya Ismail As. Ismail telah mendapatkan pendidikan yang mahal dari ayahnya tentang harga sebuah pengorbanan. Ismail pun tidak kalah hebat dari ayahnya dalam membuktikan pengorbanannya kepada Alloh. Kita dapat melihat dan menyaksikan bahwa memang Keluarga Ibrahim adalah keluarga teladan, keluarga yang diuji oleh Alloh dengan ragam ujian yang berat dan bertubi-tubi namun sungguh semuanya mampu dilewati dan dihadapi dengan baik.

Mengenal Historia Singkat Nabi Ibrahim As

Nabi Ibrahim dilahirkan di kampung Ur, kemudian hijrah ke Babilonia (kawasan Iraq) kemudian hijrah ke Haran (Turki), ke Aleppo, lalu ke Kan’an (Palestina), kemudian hijrah ke Mesir dan mendapatkan hadiah Siti Hajar. Setelah kembali ke Palestina, ia menikahi Hajar atas saran dari istri pertamanya Siti Sarah. Siti Hajar hamil dan melahirkan Isma’il dan membawanya ke Makkah dengan diantar Nabi Ibrahim. Ketika sampai di Makkah Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Isma’il di dekat Baitullah sambil berdo’a, dan kembali ka Palestina. Ketika Isma’il remaja Nabi Ibrahim kembali ke Mekkah mendapat perintah qurbankan putranya. Setelah qurban berhasil, yang diganti seekor gibasy kembali ke Palestina, istri pertama hamil dan melahirkan Ishaq. kemudian kembali ke Makah untuk membangun kembali Baitullah. Setelah mengajarkan manasik haji, Nabi Ibrahim kembali ke Palestina untuk membangun Al-Aqsha. Kemudian Nabi Ibrahim diangkat sebagai Imam bagi umat manusia. Dari putra pertama (Ismail) terwujud generasi Arab hingga Rasul SAW; dari putra kedua (Ishaq) mewujudkan generasi Bani Isra`il.

Beberapa Bentuk Pengorbanan Nabi IbrahimAS

Dalam beberapa ayat al-Qur`an tersirat, bahwa tidak kurang dari delapan kali Nabi Ibrahim beserta keluarganya mengalami berbagai macam ujian dan cobaan dalam hidupnya. Ujian dan cobaan itu beliau jalani dengan penuh pengorbanan yang besar. Diantara jenis ujian dan bentuk pengorbanan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pengorbanan di masa kecil

Ibrahim dilahirkan dari keluarga musyrik penyembah berhala. Dia diuji agar mempertahankan fitrah tauhidnya tetap utuh tidak tergoyahkan. Melihat kemusyrikan dan penindasan yang merajalela itu Ibrahim tidak tinggal diam berkata kepada ayahnya:

أَتَتَّخِذُوْا أَصْنَامًا آلِهَةً إِنِّيْ أرَىكَ وَقَوْمَكَ فِيْ ضَلاَلٍ مُبِيْنٍ

“Mengapa anda menjadikan berhala-berhala itu sebagai sem-bahan? Aku melihat anda dan kaum anda berada dalam kesesatan yang nyata?” (QS. 6:74)

Dikala melihat bintang, beliau menganggapnya Tuhan. Tatkala bintang lenyap dan datang bulan, bulanlah yang dianggap sebagai Tuhan. Bulan lenyap dan datang matahari, Mataharilah yang dianggap sebagai Tuhan. Barulah tatkala matahari  lenyap, Ibrahim meyakinkan adanya Tuhan dibalik kenyataan itu semua. Kisah ini juga memberi isyarat bahwa di masa Ibrahim, mendapatkan umat ada yang menyembah bintang, ada yang menyembah bulan ada pula yang menyembah matahari. Ibrahim meluruskan aqidah umat yang sesat ke jalan tauhid hanya beribadah pada Allah SWT.

2. Ibrahim dipaksa untuk menyembah berhala.

Sejak Ibrahim mempertanyakan Tuhan kepada keluarga dan kaumnya, muncul berbagai reaksi, bahkan para penguasa memaksa Ibrahim agar tunduk dan menyembah berhala. Di kala kaum musyrik itu memaksa menyembah berhala, Ibrahim menjawab : إِنِّى سَقِيْمٌ  “Aku sedang sakit..”  Sebagian orang menyangka Ibrahim pada saat itu berdusta. Dia katakan sakit padahal sedang sehat. Perlu diketahui bahwa yang dimaksud sakit oleh Ibrahim adalah sakit hati karena kemusyrikan kaumnya. (lihat QS. 37: 89)

3. Ibrahim diisolir oleh masyarakat.

Karena beberapa kali diajak menyembah berhala tetap menolak, maka masyarakat tidak mau bergaul dengannya. Ibrahim saat itu dianggap orang kontroversial, karena tidak mau mengikuti zaman.فَتَوَلَّوْا عَنْهُ مُدْبِرِيْنَ“maka mereka berpaling dari Ibrahim dan membelakang” QS.37:90

4. Isi da’wah Ibrahim dipermainkan, dituduh sebagai orang bodoh

Ketika Ibrahim menyampaikan risalah tauhid yang kebenarannya mutlak. malah kaumnya mengatakan:

أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنْتَ مِنَ اللاَّعِبِيْنَ

“Hai Ibrahim, Apakah kamu datang kepada kami membawa kebenaran atau hanya main-main?” (QS.Al-Anbiya, 21: 55)

5. Ibrahim mendapat hukuman tidak adil dari penguasa

Melihat keadaan masyarakat yang begitu rawan, kekuasaan Namrudz yang begitu menindas rakyatnya, Ibrahim tidak rela. Dia berjuang memberantas kema’siatan dan kezhaliman. Beberapa kali Ibrahim berdebat dengan sang raja. Beberapa kali sang raja kalah dalam berargumentasi. Namun walau raja dari pihak yang salah, sedang Ibrahim dari pihak yang benar, tetap saja yang mendapat hukuman adalah pihak yang lemah. Kaum penguasa berkata:

حَرِّقُوْهُ وَانْصُرُوْا ءَالِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِيْنَ *

“Bakarlah Ibrahim itu, lindungilah tuhan-tuhanmu, jika kamu benar-benar ingin bertindak. (QS.Al-Anbiya,21:68)

Akhirnya Ibrahim mendapat hukuman yang sangat berat tanpa dosa dengan hukuman mati dilemparkan ke dalam nyala api. Allah SWT  senantiasa berada di pihak yang benar, maka api menjadi dingin dan Ibrahim selamat.

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.(QS.21:69)

Api yang biasanya panas membakar, tidak dapat menghanguskan Nabi Ibrahim, karena oleh Allah SWT diubah dulu tabi’atnya menjadi dingin. Hal ini juga memberikan gambaran bahwa Allah SWT tetap berada pada sunnah-Nya, walau Dia berkuasa untuk bertindak membiarkan api panas tapi tidak menghanguskan.

6. Ibrahim mendambakan keturunan untuk melanjutkan Perjuangannya

Setelah Ibrahim mendapat hukuman mati dan diselamatkan oleh pertolongan Allah SWT, muncul problem yang tidak kurang beratnya. Ia membangun rumah tangga demikian lama, tetapi tidak memperoleh keturunan padahal saat itu suksesi kepemimpinan sangat diperlukan. Ibrahim berdoa kepada Alloh:

  رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ

“Ya Allah anugrahkanlah kepada kami keturunan yang shalih. (QS.37: 100)

Du’a ini menggambarkan betapa besar dambaan dan harapan Ibrahim untuk memperoleh anak yang shalih.

7. Ibrahim berpisah dengan keluarga

Karena kesabaran dan dorongan serta bantuan dari istrinya, Sarah. Ibrahim menikah dengan Hajar dan dianugrahi anak yang mulus, Ismail. Namun bukanlah ujian sampai disitu melainkan datang lagi ujian kemudian Ibrahim harus berpisah dari keluarganya. Ibrahim terpaksa harus meninggalkan keluarganya dalam keadaan prihatin. Nabi Ibrahim ketika diperintah berjauhan dengan anak dan istri tercinta, tanpa tawar menawar, tanpa pertimbangan, beliau langsung memenuhinya. Siti Hajar ketika ditinggal suaminya bertanya; يَا إِبْرَاهِيمُ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الْوَادِي الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ

“Hai Ibrahim kemanakah engkau akan pergi? Engkau tinggalkan kami di tempat yang gersang, tanpa penghuni lain dan sumber kehidupan?Dia bertanya berulang kali karena belum mengetahui alasannya. Akhirnya dia menanyakan : أَاللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَاapakah Allah SWT memerintahmu dengan hal ini?Tatkala Ibrahim menjawabنَعَم ya! Hajar istri yang shalih menandaskan:إِذَنْ لَا يُضَيِّعُنَاkalau begitu,pergilah taati perintah Tuhan. Dia tidak akan menyia-nyiakan kita.

Nabi Ibrahim pergi sambil berdu’a:

رَبَّنَا إِنِّيْ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوْا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ اَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْن

“Ya Allah Tuhan kami, sesungguhnya aku menempatkan keturunanku di lembah yang gersang, baitullah yang tanpa tanaman tiada makanan dan buah-buahan, mereka tetap  patuh menegakkan shalat. Jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka. Berilah rizqi dari buah-buahan agar mereka mampu untuk bersyukur.(QS.14: 37)

Siti Hajar saat itu baru melahirkan, berpisah dari suami, tanpa persiapan apalagi perbekalan yang cukup. Dia tetap tabah yakin bahwa suaminya itu sedang menjalankan tugas Ilahi. Dia harus berusaha mandiri berjuang mati-matian guna memperoleh seteguk air sesuap makanan. Jerih payah Siti Hajar itulah digambarkan dalam thawaf dan sa’i oleh jemaah haji. Walau dalam pelaksanaan haji itu hanya berlatar belakang ta’abbudi, tapi nilai sejarah semacan ini, perlu juga diambil pelajaran untuk meraih hikmahnya. (QS.22:28-29)

8. Nabi Ibrahim mengalami ujian terbesar yaitu mengorbankan anak yang sangat dicintainya

Hal ini sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Qur’an:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّى أَرَى فِى المَنَامِ أَنِّى أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُونِى إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ *

”Tatkala Isma’il anaknya Nabi Ibrahim itu mendekati remaja sanggup usaha bersama ayahnya. Nabi Ibrahim berkata:“Hai anakku sesungguhnya aku bermimpi seakan-akan menyem-belihmu. Pertimbangkanlah, bagaimana pendapat mu?” Isma’il menjawab: “Hai ayahku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu insya Allah akan engkau lihat bahwa aku termasuk orang yang sabar. (QS. 37:102)

Mimpi seorang Rasul adalah wahyu yang harus dilaksanakan. Betapa berat ujian ini. Isma’il satu-satunya anak yang sangat didambakan sejak lama. Dialah harapan di masa depan Ibrahim yang dirindukan sejak dahulu. Saat ini anak yang didambakan, yang ditunggu, telah mendekati remaja, sudah bisa membantu orang tua, malah harus dibunuh, harus disembelih dengan tangannya sendiri. Karena kekuatan Iman ketangguhan taqwa, bagaimana pun berat cobaan itu dapat ditempuh oleh Ibrahim, walau pun secara sepintas, perintah seperti tidak masuk akal. Ibrahim menyampaikan wahyu kepada putranya dengan minta pertimbangan, bukanlah karena ragu, tapi karena sikap orang tua yang baik dan bijaksana. Alangkah bahagianya Ibrahim mempunyai anak yang begitu setia menjalankan perintah Allah, walau pun harus dirinya menjadi korban.

Penutup

Betapa berat ujian dan cobaan yang dialami Nabi Ibrahim beserta keluarganya. Juga tidak sedikit pengorbanan yang telah mereka lakukan untuk menghadapi berbagai macam ujian yang berat itu. Sangat layak dan pantas jika Alloh memilih Ibrahim sebagai kekasihnya. Sangat layak dan pantas jika Alloh memilih Ibrahim dan Ismail sebagai nenek moyangnya keturunan nabi Muhammad Saw, karena ternyata dalam hidup mereka mengalir semangat pengorbanan yang tinggi dan loyalitas tanpa batas dalam menghamba kepada Rabb-Nya. Sehingga spirit pengorbanan itu kemudian mengalir dalam darah Rasul Mulia Muhammad Saw.

Nabi Ibrahim beserta keluarganya memberikan beberapa pelajaran penting kepada kita untuk senantiasa meyakini bahwa keimanan manusia tidak terlepas dari ujian. Semakin tinggi imannya, semakin deras pula ujiannya. Semakin berat timbangan iman seseorang, semakin berat juga ragam ujian dan cobaan yang akan dihadapi. Tentu semua itu hanya akan mampu kita hadapi manakala kita memiliki mental berkorban yang besar. Dan cukuplah Nabi Ibrahim dan Ismail menjadi teladan bagi kita dalam hal tersebut. Semoga menginspirasi. Semoga kita diberikan kemampuan untuk memikul beratnya ujian dan cobaan kehidupan dan juga diberikan kesanggupan kepada pundak kita untuk menghadapi ujian tersebut dengan pengorbanan yang penuh keikhlasan dan kesungguhan kepada Alloh SWT. Wallohu ‘alam.


Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.