Oleh: H. Deni Mardiana, Lc (Dewan Pengawas Syariat Indonesia Berbagi)

Pengantar

Diantara tanda-tanda kekuasaan Alloh, kita menemukan sebuah fakta bahwa Alloh menciptakan manusia berpasang-pasangan. Setiap tanda dari kekuasaan Alloh tentu menyimpan  hikmah dan rahasia yang luar biasa. Bentuk dari perwujudan syariat atas kekuasaan Alloh saat Alloh menciptakan manusia berpasangan, ialah dengan adanya syariat pernikahan. Menikah adalah syariat Alloh yang sangat suci nan agung. Menikah selain menjadi kebutuhan biologis manusia, juga merupakan upaya melestarikan keberlangsungan kehidupan manusia di dunia. Menikah menjadi bagian dari upaya yang legal dalam menyalurkan hasrat biologis kepada lawan jenis. Dengan menikah, manusia memiliki kesempatan untuk mendapatkan kepuasan dan kenikmatan seksual sesuai tuntunan Alloh dan Rasul-Nya. Menikah adalah ibadah, karena ia merupakan perintah Alloh dan tuntunan Rasulullah saw. Alloh SWT berfirman:

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 32)

Menikah bagi Rasulullah bukan hanya karena hasrat biologis, jauh dari itu ada misi besar yang sedang dijalankan Rasulullah saw. Misi dakwahlah yang menjadi landasan utama beliau melakukan aktivitas tersebut. Termasuk ada niat yang agung dibalik setiap pernikahan yang dilakukan Rasulullah saw. Rasulullah saw memiliki istri lebih dari empat, sejumlah riwayat menyebutkan istri beliau ada 11 orang. Fakta tersebut memicu cibiran sejumlah kalangan, tak terkecuali kaum orientalis yang hendak memojokkan Islam. Mereka beranggapan, pernikahan tersebut berseberangan dengan tuntunan ajaran Islam itu sendiri yang membatasi pernikahan hanya empat istri saja, seperti ditegaskan dalam QS. An-Nisaa’ ayat 3. 

Namun demikian jika kita melakukan pengkajian mendalam, setidaknya ada beberapa alasan yang bisa kita perhatikan dari alasan Rasulullah melakukan pernikahan tersebut:

Alasan yang pertama, pernikahan tersebut karena faktor sosial

Seperti pernikahan rasul dengan Siti Khadijah sudah berusia 40 tahun. Lalu pernikahannya dengan Saudah binti Zam’ah yang berstatus janda anak empat adalah dengan tujuan mencarikan ibu pendamping yang bisa mengurus keempat anaknya tersebut. Pernikahan Rasul dengan Hafshah binti Umar bin Khattab, adalah untuk menghormati Umar, pernikahannya dengan Zainab bin Khuzaimah adalah untuk mengayomi Zainab yang ditinggal syahid suaminya saat Perang Uhud. Sementara saat menikahi Ummu Salamah adalah lantaran ia ditinggal wafat sang suami sementara ia memiliki banyak anak. 

Terlihat dari pernikahan tersebut, Rasul menikahi para istri yang ditinggal suami mereka, entah karena syahid berperang atau akibat sakit, agar bisa memberikan pengayoman dan mengurus anak-anak mereka. 

Alasan yang kedua, pernikahan Rasulullah didorong oleh faktor wahyu ilahi

Diantaranya pernikahan Rasulullah dengan Aisyah RA. Pernikahan ini berangkat dari wahyu yang datang dari mimpi. Sementara, pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsy, yang tak lain adalah istri dari Zaid bin Haritsah, anak angkat Rasulullah, adalah bagian dari legalisasi hukum syariat tentang status anak angkat. 

Peristiwa tersebut terjadi pada tahun kelima hijrah. Alquran mencatat status hukum anak angkat dalam Al Quran surat Al-Ahzab ayat 4 dan 5. 

Alasan yang ketiga, diantara faktor pemicu pernikahan Rasulullah juga ada aspek politik

Pernikahan tersebut untuk merekatkan persatuan dan menghindari permusuhan, atau membebaskan tahanan. Diantaranya, pernikahan beliau dengan Juwairiyah binti Al-Harits, pemuka Bani Mushthaliq dari Khaza’ah, yang ditahan umat Islam.

B. Mengenal Singkat Profil Istri-istri Rasulullah saw

1.  Khadijah binti Khuwailid

Wanita  pertama  yang  dinikahi  Rasulullah saw  adalah  Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab. Saat itu Rasulullah saw berusia 25 tahun. Tatkala turun wahyu pertama kali,  Khadijah  menjadi  wanita  yang  membenarkan  dan  mendukung Rasulullah saw. Ia wafat 3 tahun sebelum hijrah. Ada riwayat yang menyebutkan 4 tahun sebelum itu dan ada pula yang menyebutkan 5 tahun sebelumnya.

2.  Saudah binti Zam’ah

Rasulullah saw juga menikahi Saudah binti Zam’ah bin Qois bin Abdu Syams bin Abdu Wud bin Nasr bin Malik bin Hisl bin Amir bin Luayyi.  Pernikahan  tersebut  dilakukan  Rasulullah  saw  di  Mekah sebelum beliau hijrah ke Madinah. Sebelum dinikahi Rasulullah saw, Saudah adalah seorang istri yang dicerai suaminya, yaitu Sakran bin  Amr,  saudara  Suhail  bin  Amr.  Ketika  Rasulullah  saw  telah menikahi  Aisyah,  Saudah  memberikan  jatah  hari  gilirnya  pada Aisyah.

3.  Aisyah binti Abu Bakar As Siddiq 

Rasulullah menikahi Aisyah binti Abu Bakar as Siddiq di Mekah 2 tahun sebelum hijrah. Ada riwayat yang mengatakan 3 tahun sebelum itu. Saat itu  ia  baru  berusia  6  tahun. Ada  yang  menyebutkan  7 tahun. Tetapi  yang  benar  adalah  6  tahun. Rasulullah  saw menggaulinya baru pada usia 9 tahun. Pada waktu itu Rasulullah saw di  Madinah  baru  7  bulan.  Ada  riwayat  yang menyebutkan  baru  18 bulan. Ketika Rasulullah saw wafat, ia berusia 18 tahun. Ia juga wafat di Madinah tahun 58 Hijiyah dan dimakamkan di Baqi’ atas wasiatnya. Ada riwayat yang menyebutkan wafat  tahun 57 H, tetapi yang  benar  58 H. Abu Hurairah  ra  turut  menshalati  jenazahnya. Rasulullah  saw  tidak  pernah  menikahi  gadis  lain  selainnya.  Ada riwayat yang menyebutkan ia pernah keguguran, tetapi riwayat ini lemah. Julukannya adalah Ummu Abdillah. 

4.  Hafshah binti Umar bin Khatthab ra

Sebelum  menjadi  istri  Rasulullah  saw,  Hafshah  adalah  istri  Hunais bin Hudzafah, salah seorang sahabat yang gugur di Perang Badar. Sebuah riwayat  menyebutkan  bahwa  Rasulullah  saw  pernah menceraikan  Hafshah,  namun  datanglah  Malaikat  Jibril  dan berkata: “Sesungguhnya Allah menyuruhmu (hai Muhammad) untuk rujuk kembali dengan Hafshah, karena ia rajin puasa, shalat malam dan kelak akan menjadi istrimu di surga“. Uqbah bin Amir al-Juhani meriwayatkan: "Rasulullah saw menceraikan Hafshah binti Umar, lalu kabar itu pun sampai ke telinga Umar. Lalu Umar pun menabur kepalanya dengan tanah dan berkata dengan penuh  kesedihan:  “Allah  sudah  tidak  peduli  lagi  pada  Umar  dan putrinya setelah peristiwa ini.“ Lalu turunlah Malaikat Jibril dan berkata: “Sesungguhnya Allah menyuruhmu (hai Muhammad) untuk rujuk kembali dengan Hafshah, karena Dia menyayangi Umar.“ Hafshah wafat tahun 27. Ada riwayat yang menyebutkan wafat tahun 28.    

5.  Ummu Habibah binti Abu Sofyan

Nama aslinya adalah Ramlah binti Shokhr bin Harb bin Umaiyyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf. Hijrah bersama suaminya, Ubaidullah bin Jahsy ke Habasyah. Suaminya berpindah agama menjadi Kristen, sementara ia tetap pada keislaman. Rasulullah saw menikahinya saat ia masih di Habasyah. Negus, raja Habasyah saat itu memberikan mas kawin atas nama Rasulullah saw senilai 400 dinar. Rasulullah saw mengutus Amr bin Umayyah ad Dhomari untuk mengurus pernikahan ini ke Habasyah. Bertindak sebagai wali nikah adalah Usman bin Affan. Ada riwayat yang menyebutkan Khalid bin Said bin As. Ummu Habibah wafat tahun 44 H. 

6.  Ummu Salamah  

Nama  aslinya  adalah  Hindun  bin  Abu  Umayyah  bin  Mughirah  bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqadzh bin Murrah bin Ka’b bin Luayyi  bin  Ghalib. Sebelum  menjadi  istri  Rasulullah  saw,  UmmuSalamah  adalah  istri  Abu  Salamah  Abdullah  bin  Abdul  Asad  bin Hilal  bin Abdullah  bin  Umar  bin  Makhzum,  salah  seorang  sahabat Rasulullah saw. Ummu Salamah wafat tahun 62 Hijriah dan dimakamkan di  Baqi’, Madinah. Ia  adalah  istri  Rasulullah  saw  yang  paling terakhir  wafatnya. Tetapi  ada  yang  menyebutkan  bahwa  yang  paling akhir adalah Maimunah.

7.  Zaenab binti Jahsy

Zaenab adalah puteri Jahsy bin Riab bin Ya’mur bin Shabirah bin Murrah bin Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Muad bin Adnan, puteri bibi  Rasulullah  saw,  Umamah  bin  Abdul  Mutthalib.  Sebelumnya  ia adalah istri Zaid bin Harisah, mantan budak Rasulullah saw yang telah menceraikannya. Kemudian Allah pun menikahkan Rasulullah saw dengannya  langsung  dari langit,  tiada  seorang  pun  yang mengakadkannya. Sebuah  riwayat  sahih  menyebutkan  bahwa  beliau berkata pada istri-istri Nabi yang lain: “Kalian dinikahkan oleh ayah-ayah  kalian,  sementara  aku  dinikahkan  langsung  oleh  Allah dari atas langit ketujuh.“ Ia wafat di Madinah pada tahun 20 H dan dimakamkan di Baqi’. 

8.  Zainab binti Khuzaimah  

Zaenab putri Khuzaimah bin al-Harits bin Abdullah bin Amr bin Abdu Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’sha’a bin Muawiyah. Dijuluki “ibu  orang-orang  miskin“  karena  kedermawanannya  terhadap  orang-orang miskin.  Sebelumnya menikah dengan Rasulullah saw ia adalah istri  Abdullah  bin  Jahsy. Ada  riwayat  yang  mengatakan  ia adalah istri Abdu Thufail bin Al-Harits, tetapi pendapat pertama adalah yang sahih.  Ia  dinikahi  Rasulullah  saw  pada  tahun  ke  3  H  dan  hidup bersamanya selama dua atau tiga bulan. 

9.  Juwairiyah binti Al-Harits  

Juwairiyah putri al-Harits bin Abi Dhirar bin Habib bin A’idz bin  Malik  bin  al-Musthalik  al-Khuzaiyah.  Ia  sebelumnya  adalah tawanan perang pada perang bani Musthalik dan menjadi milik Tsabit bin Qais bin Syimas. Tsabit lalu menawarkan pembebasannya dengan syarat  ia  dapat  membayar  tebusannya.  Kemudian  Rasulullah  saw membayar tebusannya dan menikahinya di tahun 6 H. Ia wafat pada bulan Rabiul Awal tahun 56 H.

10.  Shafiyah binti Huyay  

Shafiyyah binti Huyyay bin Akhtab bin Abi Yahya bin Kaab bin Al Khazraj An-Nadhriyyah keturunan dari Nabi Harun bin Imran –saudara nabi Musa- alaihimassalam. Menjadi  tawanan  pada  perang  Khaibar tahun 7 H. Sebelummya ia adalah istri Kinanah bin Abi al-Huqaiq yang dibunuh atas perintah Rasulullah saw. Nabi saw membebaskan Shafiyyah dan menikahinya serta menjadikan pembebasannya sebagai mas  kawinnya.  Wafat  pada  tahun  30  H atau  menurut  riwayat  lain tahun 50 H. 

11.   Maimunah binti al-Harits    

Maimunah binti al-Harits bin Hazn bin Bujair bin al-Harm bin Ruwaibah  bin  Abdullah  bin  Hilal  bin  Amir  bin  Sha’sha’a  bin Muawiyah  bibi  dari Khalid  bin  Walid  dan  Abdullah  bin  Abbas. Rasulullah  saw  menikahinya  di  tempat  yang  bernama  Sarif  suatu tempat  mata  air  yang berada sembilan  mil  dari  kota  Mekah. Ia adalah wanita terakhir yang dinikahi oleh Rasulullah saw. Wafat di Sarif pada tahun 63 H. Inilah  istri-istri Rasulullah  saw  berjumlah  sebelas  orang, sementara  terdapat  tujuh  orang  lagi  yang  beliau  nikahi, tetapi tidak beliau gauli. 

C. Penutup

Demikianlah beberapa catatan dan informasi berkaitan dengan sejarah Rasulullah menikahi 11 istrinya. Tuduhan bahwa pernikahan tersebut dilandasi nafsu birahi adalah tuduhan tak berdasar. Para perempuan tersebut rata-rata berstatus janda dan memiliki anak cukup banyak. 

Pernikahan Rasulullah saw hanya berlaku untuk beliau dan tidak berlaku untuk umatnya. Artinya pernikahan tersebut bagian dari pengkhususan Alloh kepada Rasulullah saw. Dalam islam, sesuai anjuran Alloh dalam Al Quran Surat Annisa ayat 3, umat Rasulullah hanya diberikan kesempatan menikah sampai empat istri, itu pun jika dia bisa berlaku adil. Jika tidak mampu, maka cukup satu saja.

Diantara hikmah lain dari pernikahan mulia tersebut adalah penghormatan dan meningkatnya derajat kabilah Arab disebabkan istri-istri tersebut berada dalam pengayoman dan suasana Ahlul Bait yang dimuliakan Allah SWT. Maha benar Alloh yang telah mengingatkan kita tentang pentingnya membaca ulang sejarah dengan benar sehingga terhindar dari upaya melemahkan derajat nabi yang mulia dan tentu selain itu kita mampu mengambil hikmah lain yang mulia dari peristiwa yang dialami Rasulullah saw.

“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Ahzab : 34).

*gambar ilustrasi: google.com

Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.