Oleh: H. Deni Mardiana, Lc. (Dewan Pengawas Syariat Indonesia Berbagi Foundation)

Pengantar

Betapa banyak karunia dan kenikmatan yang Alloh berikan kepada kita. Karunia dan kenikmatan itu semua Alloh berikan kepada agar kita mampu menjadikannya sebagai sarana untuk semakin dekat dengan-Nya dan tidak ada alasan untuk tidak menyembah-Nya. Diantara kenikmatan dan karunia itu, Alloh hadirkan dalam kehidupan kita kedua orangtua. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari karunia terbesar dalam kehidupan kita. Mencintainya menjadi ibadah. Menghormatinya menjadi ibadah. Berbakti kepada keduanya berbuah surga. Begitu pula sebaliknya, membencinya perbuatan dosa. Menghardiknya menjadi malapetaka. Berbuat durhaka kepadanya berujung neraka.

Tidak ada alasan untuk tidak berbakti kepada keduanya. Karena jasa merekalah, kita bisa hadir kedunia. Tidak ada alasan untuk tidak menghormatinya, karena mereka berdua layak mendapatkan tempat utama dihati kita. Karena dibawah telapak kakinya ada surga, karena dibawah keputusan dan ketetapannya ada ridho-Nya. Rasul yang mulia, bahkan pernah mengecam seorang sahabat yang selama hidupnya menelantarkan orangtua. Rasul yang mulia pun, suatu hari pernah mengingatkan seorang sahabat yang rajin beribadah bahkan berdoa siang malam sambil menangis, namun dia menelantarkan kedua orangtuanya, doa yang ia panjatkan hanya menjadi sia-sia.

Berbakti kepada orangtua sebenarnya bentuk implementasi berbakti kepada Alloh Azza Wajalla. Berbuat baik kepada orangtua sebenarnya mengundang ridho dan rahmat dari Alloh Swt. Berjanji untuk senantiasa mentaatinya -selama mereka taat kepada Alloh dan Rasul-Nya- sebenarnya langkah strategis mengantarkan kita kepada keberkahan hidup didunia sampai nanti kesurga.

Berbakti Kepada Orangtua, Jalan Mudah Menuju Surga

Di era yang serba instan dan mudah seperti sekarang ini, sejatinya tidak ada alasan untuk tidak berkomunikasi dengan orangtua. Sejauh apapun kondisi dan tempat tinggal kita. Tidak ada alasan untuk tidak memperhatikan mereka, sesibuk apapun kerja kita. Ditengah derasnya arus budaya barat tentang pola hubungan orangtua dan anak yang semakin jauh dari nilai dan tuntunan islam, tidak sedikit diantara kaum muslimin yang terpengaruh budaya barat tersebut. Terlebih disaat orangtua sudah beranjak tua, tidak sedikit diantara mereka yang menelantarkan orangtua. Mereka menganggap, saat orangtua dititipkan dipanti asuhan, tugas mereka membahagiakan orangtua sudah selesai. Mereka menganggap, saat orangtua diberikan fasilitas hidup yang serba ada dan tersedia, tugas membahagiakan mereka sudah selesai. Padahal, kalau kita kaji kembali lebih dalam bukan itu yang mereka harapkan dari anaknya. Mereka hanya meminta perhatian, pelayanan dan bukti sebuah ketulusan dari anak-anaknya walaupun hanya sekedar senyuman.

Hilangnya peran bakti kepada orangtua, menjadi pertanda hilangnya nilai dan karakter islam dalam kehidupan seorang manusia. Padahal, jika kita kaji kembali ajaran islam ini betapa mulia dan berharganya seorang anak yang selalu mempersembahkan bakti terbaiknya kepada orangtua. Mereka sadar betul bahwa tidak mungkin mampu membalas semua jasa dan pengorbanan orangtua. Mereka sadar betul bahwa restu dan ridho kedua orangtua merupakan kunci sukses kebahagiaan hidup didunia dan akhirat kelak.

Hilangnya nilai dan karakter islam dalam memperlakukan kedua orangtua menjadi pertanda jauhnya seseorang dari tuntunan agama. Padahal islam telah menggariskan dengan tegas dan jelas pentingnya berbakti kepada kedua orangtua. Berikut beberapa ayat al-quran dan hadits Nabi yang menuntun kita untuk terus berupaya memberikan khidmah terbaik kepada kedua orangtua.

1. Dalil Al-Quran Kewajiban Berbakti Kepada Orangtua

a. Q.S. Al-Isra' Ayat 23

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia,”

b. Q.S. Luqman Ayat 14-15

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ . وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَٱتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

2. Dalil Hadits Kewajiban Berbakti Kepada Orangtua

Hadits Riwayat Imam Bukhari

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ وَشُعْبَةَ قَالَا حَدَّثَنَا حَبِيبٌ قَالَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ حَبِيبٍ عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُجَاهِدُ قَالَ لَكَ أَبَوَانِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

Terjemah:

Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Sufyan] dan [Syu'bah] keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami [Habib] dia berkata. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Katsir] telah mengabarkan kepada kami [Sufyan] dari [Habib] dari [Abu Al 'Abbas] dari [Abdullah bin 'Amru] dia berkata; seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; "Saya hendak ikut berjihad." Beliau lalu bersabda: "Apakah kamu masih memiliki kedua orang tua?" dia menjawab; "Ya, masih." Beliau bersabda: "Kepada keduanya lah kamu berjihad."

Hadits di atas menceritakan tentang seorang laki-laki yang ingin ikut jihad bersama Rasulullah SAW namun ia tidak mampu. Kemudian Rasulullah menegaskan kepadanya untuk berjihad pada kedua orang tua. Hadits tersebut menjelaskan bahwa berbakti kepada orang tua merupakan jihad di jalan Allah.Jihad di zaman Rasulullah sangat jelas maknanya, yakni terjun ke medan pertempuran membela agama Islam memerangi orang kafir. Orang yang terbunuh dalam jihad di hukumi mati syahid dan surga adalah jaminannya. Namun bagi mereka yang tidak mampu, Rasulullah menegaskan bahwa berbakti kepada kedua orang tua merupakan jihad di jalan Allah.

Hadits Riwayat Imam Bukhari

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ شُبْرُمَةَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ وَقَالَ ابْنُ شُبْرُمَةَ وَيَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ مِثْلَهُ

Terjemah :

Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] telah menceritakan kepada kami [Jarir] dari ['Umarah bin Al Qa'qa' bin Syubrumah] dari [Abu Zur'ah] dari [Abu Hurairah] radliallahu 'anhu dia berkata; "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sambil berkata; "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "kemudian siapa lagi?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" dia menjawab: "Kemudian ayahmu." [Ibnu Syubrumah] dan [Yahya bin Ayyub] berkata; telah menceritakan kepada kami [Abu Zur'ah] hadits seperti di atas."

Di lain kesempatan ada juga seoranglelaki yang mendatangi Rasulullah kemudian bertanya kepada beliau tentang orang yang berhak kita muliakan. Lalu Rasulullah bersabda bahwa orang yang paling berhak dimuliakan yaitu "ibu", nama "ibu" disebut dalam hadits tersebut sampai 3 kali baru kemudian menyebut nama "ayah" 1 kali.

Hadits di atas menjelaskan bahwa orang yang paling berhak dimuliakan di dunia ini adalah kedua orang tua, dan yang paling utama adalah ibu baru kemudian ayah. Tanpa mengesampingkan peran seorang ayah, hadits di atas menerangkan betapa mulia dan besarnya peran seorang ibu.

Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim

‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, mengatakan:

سَأَلْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا » . قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ » .قَالَ ثُمَّ أَىّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قَالَ حَدَّثَنِى بِهِنَّ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِى

Terjemah :

“Aku bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya’. Lalu aku bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.’ Lalu aku mengatakan, ‘Kemudian apa lagi?’ Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Berjihad di jalan Allah’.”Lalu Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan hal-hal tadi kepadaku. Seandainya aku bertanya lagi, pasti beliau akan menambahkan (jawabannya).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada riwayat yang lain Rasulullah Bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ؟) ثَلاَثًا، قَالُوْا : بَلىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : ( الإِشْرَاكُ بِاللهِ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ ) وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا ( أَلاَ وَقَوْلُ الزُّوْرُ ) مَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتىَّ قُلْتُ لَيْتَهُ سَكَتَl

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian mau kuberitahu mengenai dosa yang paling besar?” Para sahabat menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.”Beliau lalu bersabda, “(Dosa terbesar adalah) mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Beliau mengucapkan hal itu sambil duduk bertelekan [pada tangannya]. (Tiba-tiba beliau menegakkan duduknya dan berkata), “Dan juga ucapan (sumpah) palsu.” Beliau mengulang-ulang perkataan itu sampai saya berkata (dalam hati), “Duhai, seandainya beliau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits Riwayat Ahmad:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمْرِهِ وَأَنْ يُزَادَ لَهُ فِي رِزْقِهِ فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang suka untuk dipanjangkan umur dan ditambahkan rizki, maka berbaktilah pada orang tua dan sambunglah tali silaturahmi (dengan kerabat).” (HR. Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi, yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya)

Hadits Riwayat Muslim:

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ

“Sesungguhnya kebajikan terbaik adalah perbuatan seorang yang menyambung hubungan dengan kolega ayahnya.” (HR. Muslim)

Hadits Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi:

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوْبَةَ مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ مِنَ الْبَغِى وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ

”Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [diakhirat]- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Penutup

Selama mereka masih hidup, perlakukanlah mereka dengan baik. Berikan perhatian sepenuhnya dan reguk sebanyak-banyaknya nasihat, ilmu dan pengalaman mereka. Selama mereka masih hidup, buktikan cintamu seutuhnya kepada mereka. Baktimu kepada mereka takkan mampu membalas kebaikan, perjuangan dan pengorbanan mereka membesarkan dan mendidikmu. Selagi mereka hidup, jangan pernah kau sia-siakan doa restu mereka. Mintalah doa-doa terbaik dari mereka, mintalah restu terbaik dalam menjalani kehidupan dan meraih kesuksesan hidupmu.

Karena baktimu kepada orangtua, Alloh siapkan ridho dan surga-Nya. Begitulah sejatinya Surga dan keridhoan Alloh selalu bersama kebaikan dan keikhlasanmu memberikan cinta terbaik untuk mereka. Karena baktimu kepada orangtua, Alloh siapakan ridho dan surgaNya. Begitulah sejatinya, sudah sepantasnya orangtua menjadi tempat kita mendapatkan keberkahan, kemuliaan dan kebahagiaan hidup didunia dan kelak disurgaNya. Wallohu ‘Alam.

*Gambar Ilustrasi: alriyadh.com

Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.