Oleh: H. Deni Mardiana, Lc. (Dewan Pengawas Syariat Indonesia Berbagi Foundation)

Harta dan apapun yang kita miliki hari ini, pada hakikatnya merupakan titipan dari Alloh Swt. Tidak pantas serta tidak layak kita merasa memiliki sepenuhnya bahkan enggan mengeluarkan sedikitpun dari kewajiban harta tersebut. Karena kita hanya diberikan kesempatan mengelola saja, sudah sepantasnya kita tidak merasa keberatan saat harta harus dikeluarkan, bahkan kita pun merelakan dan mengikhlaskan jika seandainya suatu hari apa yang kita miliki itu diambil kembali oleh sang penitip harta, Alloh swt.

Dalam sebuah ayat Alloh Swt berfirman :

آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al Hadiid: 7).

Imam Fakhruddin al-Razi Dalam al-Tafsîr al-Kabîr, mengomentari ayat diatas :  “Sesungguhnya harta itu pasti akan terlepas dari tangan manusia. Bisa disebabkan oleh kematian, bisa pula karena diinfaqkan di jalan Allah. Jika yang terjadi adalah yang pertama, maka akibatnya adalah laknat, murka, dan hukuman. Sebaliknya, jika yang terjadi adalah yang kedua, maka hasilnya adalah pujian dan pahala. Oleh karena harta harus keluar, maka orang yang berakal akan mengetahui bahwa mengeluarkan harta yang dapat mendatangkan pujian dan pahala tentulah lebih utama daripada yang justru mengakibatkan laknat dan hukuman.”

Dari penjelasan Imam Fachruddin Ar-razi diatas bisa kita simpulkan bahwa dalam diri seorang mukmin yang baik, mengalir DNA BERBAGI. Mengalir kebiasaan berinfaq dan bersedekah kepada siapapun yang membutuhkan, sehingga ketika ada panggilan jihad harta mereka tidak pernah merasa keberatan, bahkan ketika ada panggilan untuk mengeluarkan kewajiban hartanya, dengan senang hati ia tunaikan hak dan kewajiban tersebut.

Kasih sayang dan peduli kepada sesama merupakan bagian dari inti ajaran islam. Dalam diri seorang muslim yang baik, mengalir DNA kasih sayang dan kepedulian yang besar kepada siapapun. Sebagai bagian dari upaya mewujudkan kasih sayang dan kepedulian itulah islam memberi arahan kepada kita untuk selalu berinfaq, berbagi dan menebar manfaat. Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah memberi nasehat kepada bilal bin rabah untuk tidak merasa rugi ketika ingin berinfaq dan berbagi rizki kepada siapapun. Rasul bersabda :

أَنْفِقْ بِلاَل ! وَ لاَ تَخْشَ مِنْ ذِيْ العَرْشِ إِقْلاَلاً

“Berinfaqlah wahai Bilal! Janganlah takut hartamu itu berkurang karena ada Allah yang memiliki ‘Arsy (Yang Maha Mencukupi).” (HR. Al Bazzar dan Ath Thobroni dalam Al Kabir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahihul Jaami’ no. 1512)

Hadis diatas memberikan inspirasi sekaligus motivasi kepada kita semua agar tidak merasa rugi dan kehilangan harta, disaat harta tersebut kita keluarkan, disaat harta tersebut kita bagi kepada siapapun yang membutuhkan.

Menahan harta bahkan menumpuk-numpuknya hanya akan menjadikan harta tersebut semakin tertahan keberkahannya, hanya akan menjadikannya sebagai Tuhan kita dan  mengendalikan hidup kita bukan sebaliknya. Rasulullah Saw pernah menasehati Asma’ binti Abi Bakr, tentang hal ini. Beliau bersabda :

لاَ تُوكِي فَيُوكى عَلَيْكِ

Janganlah engkau menyimpan harta (tanpa mensedekahkannya). Jika tidak, maka Allah akan menahan rizki untukmu.”  Dalam riwayat lain disebutkan,

أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ

“Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut[5]. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.” (HR. Bukhari no. 1433 dan Muslim no. 1029, 88).

Dari berbagai keterangan yang kita baca diatas, nampak jelas bahwa berbagi, berinfaq dan bersedekah merupakan amalan yang sangat mulia disisi Alloh Swt. Berbagi, berinfaq dan bersedekah merupakan bagian dari ikhtiar kita agar harta yang Alloh titipkan, mampu terkelola dengan sebaik-baiknya. Agar harta yang kita kelola mengalirkan keberkahan dalam hidup dan kehidupan kita dan keberlimpahan manfaatnya dapat dirasakan oleh siapa saja yang membutuhkan.

Maka dari itu Berbagilah, maka anda akan bahagia. Karena, kebahagiaan hidup tidak selalu diukur dari keberlimpahan harta kekayaan yang kita miliki. Justru sebaliknya kebahagiaan yang  sesungguhnya akan kita rasakan manakala kita merasakan kebahagiaan orang-orang yang mendapatkan manfaat dari harta kita, walaupun yang kita berikan hanya sedikit, tidak seberapa. Jangan bosan untuk  terus berbagi. Dan Yakinilah, bahwa pada setiap harta yang kita bagi kepada orang lain, ada doa-doa malaikat yang selalu mendoakan untuk keberkahan harta kita. Dengan penuh lirih, mereka selalu berdoa ; “Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya”, sedangkan yang satunya lagi berkata; “Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil).” (HR. Bukhari)

Share it on

Comment (0)


No Comment Yet


Leave a Comment

Membantu usaha seseorang, Akan mengubah dunia ini.